36,967,632 views • 20:19

Saya akan mulai dengan ini dua tahun yang lalu, seorang panitia acara menelpon saya karena saya ikut dalam suatu ceramah waktu menelpon, dia bilang "Saya kesulitan dengan apa yang harus saya tulis tentang anda di selebaran acara." Saya pikir, "Lho, apa sih susahnya " dia bilang, "Saya pernah melihat ceramah anda tadinya saya akan sebut anda peneliti tapi saya khawatir akan jadi sepi pengunjung karena anda akan dianggap membosankan dan tidak penting (tertawa) Baiklah lalu dia bilang, "Tapi yang saya suka dari ceramah anda adalah anda pandai bercerita. Jadi saya akan sebut saja anda ini pendongeng." Tentu saja sisi intelektual saya yang rendah diri protes "Anda akan sebut saya apa ?" Dia menegaskan, "Saya sebut saja anda ini pendongeng." saya pikir, "Kenapa tidak pesulap saja sekalian ?" (tertawa) Jadi saya bilang, "Coba saya pikir dulu ya." Saya memberanikan diri untuk mengakui saya ini pendongeng. Saya peneliti kualitatif. Saya memang bekerja dengan cerita-cerita. Mungkin cerita adalah data yang punya jiwa. Mungkin saya memang pendongeng. Jadi saya bilang, "tahu nggak ? Bagaimana kalau sebut saja saya ini peneliti-pendongeng." dia tergelak, "Haha... mana ada sebutan seperti itu." (tertawa) Jadi saya adalah peneliti-pendongeng dan saya akan bicarakan hari ini — temanya kan memperluas persepsi — jadi saya akan berbicara tentang beberapa cerita dari salah satu penelitian saya yang memperluas persepsi saya secara mendasar dan secara nyata mengubah cara saya hidup dan mencintai dan bekerja dan mengasuh anak.

Dan ceritanya berawal begini. Ketika saya mulai jadi peneliti, waktu mengambil gelar doktor, tahun pertama saya dibimbing seorang profesor yang mengajarkan "Begini ya, apa yang anda tidak bisa ukur, tidak pernah ada." Waktu itu saya pikir dia cuma mau mengambil hati saya Saya bilang, "Yang benar ?" dan dia jawab, "Pasti." Sebelumnya mungkin anda harus paham bahwa gelar S1 saya di ilmu sosial, gelar S2 saya di ilmu sosial, dan saya akan mengambil Ph.D di ilmu sosial juga jadi seluruh karir akademik saya saya habiskan dengan orang-orang yang percaya bahwa hidup itu tidak sempurna, cintai saja. Padahal saya ini lebih percaya, hidup tidak sempurna, bereskan, rapikan dan masukkan ke nampan bento. (tertawa) Jadi kalau dipikir, jalan yang saya pilih, karir yang saya pilih itu — Bagaimana ya, salah satu prinsip dalam ilmu sosial adalah mengakrabi penderitaan dalam pekerjaan. Sedangkan saya, singkirkan semua penderitaan yang ada buang dan dapatkan nilai A semua. Itulah mantra saya. Jadi saya sangat girang dengan ajaran profesor itu dan saya begitu yakin, bahwa ini karir yang tepat buat saya karena saya tertarik dengan hal-hal yg berantakan dan saya ingin untuk bisa merapikan hal-hal itu. Saya mau memahaminya. Saya mau meretas hal-hal ini yang saya yakin adalah penting dan saya akan paparkan pada semua orang.

Jadi yang saya pilih sebagai topik adalah hubungan. Karena, kalau anda berkecimpung dalam bidang sosial selama 10 tahun anda akan sadari kita ada karena hubungan. Hubunganlah yang memberi arti dan tujuan pada hidup. Hubungan adalah intinya. Tidak masalah apakah anda tengah berhubungan dengan orang dibidang sosial, dibidang kejiwaan, dibidang kriminal, faktanya adalah hubungan itu, kemampuan memiliki hubungan, adalah — kodrat kita secara neurobiologis — adalah tujuan hidup kita. Jadi waktu itu, saya pikir, saya akan mulai dengan hubungan. Nah tahu kan situasi dimana ketika anda dievaluasi atasan anda, dan dia memuji 37 hal tentang diri anda, dan menyinggung satu hal lainnya — peluang untuk perbaikan ? (tertawa) Dan anda akhirnya terpaku hanya pada peluang untuk perbaikan itu Ternyata jalannya penelitian saya seperti itu juga, karena, ketika anda bertanya tentang cinta pada orang, yang mereka bicarakan adalah waktu patah hatinya. Waktu anda bertanya tentang peranan mereka mereka akan berbicara tentang pengalaman terburuk mereka ketika mereka dikucilkan. Dan ketika anda bertanya tentang hubungan, cerita yang anda dapat adalah tentang putusnya hubungan itu.

Jadi dengan cepat — sekitar 6 minggu sejak penelitian dimulai — saya menemukan teka-teki ini yang menyelimuti hubungan dengan cara yang belum pernah saya pahami atau ketahui. Jadi saya hentikan penelitiannya dan berpikir, saya perlu cari tahu apa ini. Yang ternyata adalah rasa malu. Rasa malu biasanya dengan sederhana dipahami sebagai rasa takut terhadap putusnya sebuah hubungan. Apa ada sesuatu tentang diri saya yang, kalau diketahui atau dilihat orang, membuat saya dianggap tidak pantas punya hubungan. Yang sedang saya bicarakan ini berlaku universal, ada pada diri kita semua. Orang yang tidak pernah mengalami rasa malu tidak punya kemampuan berempati atau berhubungan dengan manusia. Tidak ada yang mau membicarakannya, dan makin sedikit anda bicarakan makin banyak anda miliki. Yang mendasari rasa malu, yang bikin orang bilang, "saya tidak cukup baik," — yang kita semua tahu bagaimana rasanya. "Saya tidak cukup bule, saya tidak cukup langsing, tidak cukup kaya, tidak cukup cantik, tidak cukup pintar, tidak cukup berhasil." Hal yang mendasari semua itu adalah kerapuhan, kesadaran bahwa untuk bisa berhubungan kita harus memperlihatkan diri kita yang sesungguhnya

Dan anda tahu bagaimana pendapat saya tentang kerapuhan, saya benci kerapuhan. Jadi saya pikir, ini kesempatan saya. Saya hajar kerapuhan ini dengan ilmu pengetahuan saya. Saya akan masuk, saya akan analisa hal ini, saya akan habiskan setahun, untuk memereteli rasa malu, saya akan tahu luar dalam tentang kerapuhan ini, dan saya akan temukan jalan keluarnya. Jadi saya siap dan penuh semangat. Seperti biasanya, semuanya berantakan. (tertawa) Anda pasti sudah menebaknya. Saya bisa cerita banyak tentang rasa malu tapi akan makan banyak waktu tapi saya bisa sampaikan bahwa intinya adalah — dan ini mungkin salah satu hal terpenting yang saya pelajari dalam kurun waktu 10 tahun penelitian saya. Yang rencananya setahun itu menjadi enam tahun, ribuan cerita, ratusan wawancara, grup fokus. Sampai ada orang yang mengirimkan salinan buku hariannya dan mengirimkan ceritanya — ribuan data dalam enam tahun. Dan saya merasa bisa mengatasinya.

Saya merasa paham, apa rasa malu itu sebenarnya, beginilah cara kerjanya. Saya tuliskan dalam sebuah buku, saya terbitkan sebuah teori, tapi ada yang tidak beres — dan yang tidak beres itu adalah — kalau saya bagi secara kasar orang-orang yang saya wawancara menjadi kelompok orang yang sungguh-sungguh menghargai dirinya sendiri dan inilah inti segalanya, menghargai diri sendiri — kecintaan dan keberperanan mereka sangat kuat — dengan orang-orang yang masih bergulat dengan isu itu, dengan orang-orang yang selalu ragu apa mereka cukup baik. Hanya ada satu variabel yang memisahkan orang-orang yang kuat kecintaan dan keberperanannya dengan orang-orang yang masih bergulat dgn isu itu variabel itu adalah orang-orang yg punya kecintaan dan keberperanan yang kuat percaya mereka berharga untuk dicintai dan untuk berperan. Hanya itu. Mereka percaya mereka cukup berharga. Buat saya, bagian terberat adalah satu-satunya hal yang menghalangi kita untuk berhubungan adalah kekhawatiran kita tidak pantas untuk sebuah hubungan, hal ini, baik secara profesional maupun secara pribadi penting buat saya untuk dipahami jadi apa yg saya lakukan adalah saya kaji ulang semua wawancara yg telah dilakukan pada wawancara dimana penghargaan diri muncul, ketika orang hidup seperti itu saya amati baik-baik.

Apa kesamaan dari orang-orang ini ? Saya penderita ketagihan barang-barang kantor tapi itu topik lain. Jadi saya siapkan map manila dan sebuah spidol lalu saya bingung, apa judul penelitian ini ya ? Kata pertama yang muncul di benak adalah kesungguhan. Mereka adalah orang yang bersungguh-sungguh, yang sangat menghargai diri mereka sendiri. Jadi saya cantumkan kata itu di map manilanya, dan saya mulai memroses data yang ada. Mula-mula saya lakukan 4 hari analisa data yang sangat intensif dimana saya gali lagi semua wawancara, cerita dan peristiwa-peristiwa. Apa temanya ? Dimana polanya ? Suami saya keluar kota bersama anak-anak karena saya berubah jadi seperti Jackon Pollock, dan mencorat-coret dimana-mana kalau sedang bekerja. Dan akhirnya ini yang saya temukan Apa kesamaan dari orang-orang ini adalah courage (keberanian) dan saya ingin membedakan courage dan bravery (keberanian juga) disini Courage, definisi aslinya adalah waktu pertama diserap bahasa inggris — berasal dari kata latin cor, yg artinya hati — dan definisi aslinya adalah menceritakan siapa diri anda dengan sepenuh-hati. Jadi orang-orang ini secara sederhana, hanya punya keberanian untuk jadi tidak sempurna. Mereka punya belas kasih untuk berbaik hati pada dirinya sendiri dulu sebelum pada orang lain, karena, ternyata, kita tidak bisa berbelas kasih pada orang lain kalau kita tidak memperlakukan diri kita sendiri dengan baik dan yang terakhir adalah mereka punya hubungan dan — ini bagian sulitnya — sebagai wujud dari kejujuran, mereka bersedia tidak menjadi sosok ideal yang ingin mereka capai demi menjadi dirinya sendiri yang harus anda lakukan kalau mau berhubungan.

hal lain yang jadi benang merah diantara mereka adalah ini. Mereka sepenuhnya mengakrabi kerapuhan. Mereka percaya bahwa apa yang membuat mereka rapuh membuat mereka jadi indah. Mereka tidak menganggap kerapuhan itu menyenangkan tapi juga tidak menganggapnya sebagai penderitaan — seperti yang banyak saya dengar di sesi wawancara. Mereka menganggapnya sebagai suatu keperluan. Mereka berbicara tentang kesediaan untuk lebih dulu mengatakan "Saya cinta padamu", kesediaan untuk melakukan sesuatu yang tidak ada jaminan, kesediaan menunggu telpon dari dokter setelah menjalani mammogram. Mereka bersedia menjalani hubungan yang akan atau tidak akan membahagiakan. Buat mereka ini luar biasa penting.

Saya pribadi menganggapnya sebagai pengkhianatan. Saya terlanjur membaktikan diri pada penelitian — definisi dari penelitian adalah mengendalikan dan meramalkan, mempelajari fenomena hanya untuk satu tujuan untuk mengendalikan dan meramalkan. Tapi sekarang misi saya untuk mengontrol dan meramalkan malah membawa saya pada kesimpulan bahwa untuk hidup kita harus rapuh dan berhenti mengendalikan dan meramalkan Ini membuat stres (tertawa) yang kurang lebih tampak seperti ini. (tertawa) Dan memang begitu Saya anggap ini stres, terapis saya menyebutnya sebagai kebangkitan spiritual. Kebangkitan spiritual lebih enak didengar ketimbang stres, tapi percayalah saya stres waktu itu. Saya sampai perlu meninggalkan pekerjaan dan mencari terapis. Dan saya beri tahu ya, anda akan mengenal diri anda lebih baik ketika anda menelpon teman-teman anda untuk minta, "Sepertinya saya butuh pertolongan Punya rekomendasi tidak ?" karena sekitar 5 teman saya langsung, "Waduh... kasihan deh terapisnya." (tertawa) Saya bilang, "Apa sih ?" Dan mereka bilang, "saya cuma pikir, itu lho. Jangan debat teknis ya." Saya bilang, "Ya deh."

Akhirnya saya temukan seorang terapis Pertemuan pertama dengan dia, Diana — saya bawa data saya tentang bagaimana orang-orang yang bersungguh-sungguh hidup dan saya duduk. Dia tanya, "Apa kabar ?" Saya bilang, "Baik..baik" Dia tanya, "Jadi, ada apa ya ?" Ini terapis yang memerlukan terapis karena kami lakukan semua, karena basa basinya basi. (tertawa) Jadi saya langsung saja "Masalahnya begini, saya punya konflik." Dia bertanya, "Konflik tentang apa?" Saya bilang, "Saya punya masalah dengan kerapuhan. Saya tahu kerapuhan itu inti dari rasa malu dan ketakutan dan pergulatan kita dengan penghargaan diri, tapi ternyata kerapuhan juga sumber dari kebahagiaan, kreatifitas, keberperanan, cinta. Jadi itulah konfliknya dan saya butuh bantuan." Saya lanjut dengan, "Tapi begini ya jangan bahas soal keluarga, atau soal masa kecil segala." (tertawa) "Saya cuma perlu strategi." (tertawa) (tepuk tangan) Terima kasih Dia lakukan ini. (tertawa) Jadi saya tanya, "Parah ya ?" Dia bilang, "Bisa jadi, bisa jadi juga tidak." (tertawa) "Ini apa adanya." Saya pikir, "Gusti... Cape deh.."

(tertawa)

Dan awalnya memang repot tapi kemudian membaik. Setelah berjalan setahun. Dan tahu kan orang-orang yang ketika sadar kerapuhan dan kelembutan itu penting langsung menyerah dan menjiwainya habis-habisan. A : Saya tidak termasuk orang-orang itu dan B : Saya bahkan tidak "main" dengan orang-orang seperti itu. (tertawa) Buat saya, terapi itu pertempuran sepanjang tahun Kontes adu jotos. Kerapuhan menyerang, saya balas. Saya kalah tapi mungkin mendapatkan kembali hidup saya.

Jadi ketika saya kembali bekerja dan menghabiskan dua tahun berikutnya benar-benar mencoba memahami mereka, orang-orang yang bersungguh-sungguh, apa yang mereka putuskan untuk perbuat apa yang kita lakukan dengan kerapuhan. Mengapa kita punya problem dengan kerapuhan ? Apa saya sendirian yang punya problem ini ? Tidak. Jadi ini hasilnya Kita bungkam kerapuhan — ketika kita menunggu panggilan. Ada yang lucu, saya posting lewat twitter dan facebook dan bertanya, "Apa definisi anda tentang kerapuhan ? Apa yang membuat anda merasa rapuh ?" Dan dalam satu setengah jam, saya dapat 150 respon. Karena saya mau tahu apa yang mereka bilang antara lain. Minta tolong pada suami karena saya sakit tapi kami pengantin baru; minta berhubungan intim dengan suami; minta berhubungan intim dengan istri; ditolak waktu mengajak orang kencan menunggu telpon dari dokter; dipecat, memecat orang. Ini adalah dunia dimana kita hidup. Kita hidup di dunia yang rapuh dan salah satu cara kita menghadapinya adalah kita bungkam kerapuhan.

Dan rasanya ada bukti — dan ini bukan satu-satunya alasan bukti ini ada tapi menurut saya ini penyebab utama — kita adalah generasi yang paling banyak hutang kegemukan, paling gemar obat-obatan dalam sejarah Amerika. Problemnya adalah — dan ini juga saya dapat dari penelitian saya — anda tidak bisa membungkam emosi tertentu. Anda tidak bisa bilang, ok ini yang jelek. Ini yang rapuh, ini kesedihan, ini malu, ini takut, ini kekecewaan, saya tidak mau merasakan ini. Saya cukup minum dua gelas bir dan bolu rasa pisang saja. (tertawa) Saya tidak mau merasakan itu dan saya tahu dari cara tertawa anda. Saya cari makan dengan meretas hidup orang. Gusti (tertawa) Anda tidak bisa bungkam perasaan dasar itu tanpa ikut membungkam akibatnya, emosi kita. Anda tidak bisa pilih tebang dalam membungkam jadi ketika kita bungkam perasaan-perasaan itu kita bungkam kesenangan, kita bungkam rasa syukur, kita bungkam kebahagiaan. Kita jadi sengsara, dan kita mencari tujuan dan makna, lalu merasa rapuh, lalu kita minum dua gelas bir dan bolu pisang lagi. ini jadi lingkaran yang berbahaya.

Salah satu hal yang menurut saya harus kita renungkan adalah kenapa dan bagaimana kita membungkam. Bentuknya tidak mesti berupa ketagihan. Hal lain yang kita lakukan adalah kita bikin segala hal yang tidak pasti jadi pasti. Agama yang tadinya soal kepercayaan dan misteri jadi dogma Saya benar, kamu salah. Diam. Selesai Yang pasti-pasti saja. Makin takut kita, makin rapuh kita, makin menjadi ketakutan kita. Inilah wajah kehidupan politik kita sekarang. Tidak ada lagi diskusi. Tidak ada lagi dialog. Yang ada hanya tuduhan. Tahu tidak apa definisi tuduhan dalam penelitian ? Sebuah cara untuk melampiaskan kesakitan dan ketidaknyamanan. Kita sempurnakan. Kalau ada yang mau hidup mereka tampak seperti ini, saya orangnya tapi tidak begitu yang terjadi. Karena yang kita lakukan hanya memindahkan lemak dari pinggul ke pipi. (tertawa) Yang cukup, moga-moga seratus tahun kedepan orang akan menengok ke masa lalu dan kaget, "Waduh..."

(tertawa)

Dan kita sempurnakan, yang paling berbahaya, anak-anak kita. Saya beri tahu apa makna anak-anak buat kita. Mereka dikodratkan untuk berjuang ketika terlahir. Dan ketika bayi sempurna itu ada dalam pelukan anda, tugas kita bukan untuk bilang, "Lihat dia, dia sempurna. Tugas saya adalah mempertahankan kesempurnaan itu — pastikan dia masuk tim tennis waktu SMP dan masuk Yale selepas SMA." Bukan itu tugas kita Tugas kita adalah untuk menatap mereka dan bilang, "Tahu tidak ? Kamu tidak sempurna, dan dikodratkan untuk berjuang, tapi kamu pantas dicintai dan berperan." Itu tugas kita. Tunjukkan generasi yang dibesarkan seperti itu dan kita akan akhiri semua problem yang ada sekarang. Kita bertindak seolah perbuatan kita tidak berdampak ke orang lain. Kita lakukan itu dalam kehidupan pribadi, dan di masyarakat — dalam mensubsidi, tumpahan minyak, atau pemecatan — kita bertindak seolah perbuatan kita tidak berdampak besar pada orang lain. Saya akan bilang pada perusahaan itu, kita bukan anak kemarin sore. Kami cuma mau anda jujur dan tulus untuk bilang, "Kami minta maaf. Kami akan perbaiki."

Tapi ada cara lain, dan ini pesan penutup dari saya Ini temuan saya supaya orang lain bisa melihat kita sampai ke dasar hati dengan segala kerapuhan kita supaya kita bisa mencintai dengan sepenuh hati meski pun tidak ada jaminannya — dan itu hal yg sulit, dan sebagai orang tua saya tahu pasti, itu luar biasa sulit — supaya kita bisa bersyukur dan bahagia di momen-momen menakutkan ketika kita bimbang , "Apa saya bisa mencintaimu seperti itu? Bisakah saya mempercayai ini dengan penuh perasaan ? Bisakah saya seteguh itu ?" supaya kita bisa berhenti, dan alih-alih membayangkan yang jelek-jelek, malah bilang, "Saya sangat bersyukur, karena perasaan rapuh ini bukti saya masih hidup." Dan terakhir, yang menurut saya yang paling penting, adalah untuk meyakini bahwa kita sudah pantas. Karena kalau kita mulai dengan keyakinan, "saya sudah pantas." kita akan berhenti berteriak dan mulai mendengar, kita jadi lebih baik, lebih lembut pada orang-orang dan kita jadi lebih baik dan lembut pada diri kita sendiri

Sekian dari saya. Terima kasih

(Tepuk tangan)