Yuval Noah Harari
3,375,084 views • 17:08

Tujuh puluh ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita tidak berarti. Yang paling penting tentang manusia pre-historis adalah mereka tidak berarti. Pengaruhnya terhadap kehidupan tidak lebih penting dari ubur-ubur atau kunang-kunang atau burung pelatuk. Sebaliknya, sekarang kita mengontrol planet ini. Pertanyaannya adalah: Apa yang telah terjadi? Bagaimana kita bisa berubah dari kera yang sepele, yang hidup di belantara Afrika, lalu menjadi penguasa bumi?

Biasanya, kita mencari perbedaan antara keduanya pada level individu. Saya ingin percaya bahwa ada sesuatu yang spesial tentang saya, tentang tubuh dan otak saya, yang membuat saya superior dari seekor anjing, babi, atau simpanse. Tapi kenyataannya adalah, pada level individu, saya sayangnya sangat mirip dengan simpanse. Jika saya dan seekor simpanse berada dalam satu pulau terpencil, dan kami harus berjuang hidup untuk melihat siapa yang lebih baik, saya pikir pemenangnya adalah simpanse, bukan saya. Ini bukan kesalahan saya. Sepertinya jika siapapun tinggal bersama simpanse di suatu pulau, simpanse lah yang akan bertahan hidup lebih baik.

Perbedaan mendasar antara manusia dengan makhluk lain tidak terletak pada level individu; namun pada level kolektif. Manusia mengontrol bumi karena mereka adalah makhluk satu-satunya yang dapat bekerja sama secara fleksibel dalam jumlah besar. Ada makhluk lain — seperti koloni serangga, lebah, dan semut — yang dapat bekerja sama dalam kelompok, namun tidak terlalu fleksibel. Gotong royongnya terlalu kaku. Pada dasarnya hanya ada satu cara bagaimana sarang lebah dapat berfungsi. Apabila ada kesempatan atau ancaman baru, Lebah tidak dapat membentuk sistem kerja sama baru secara cepat. Mereka tidak dapat, misalnya, membunuh ratu lebahnya dan membentuk republik lebah, atau sistem komunis diktator untuk lebah pekerja.

Makhluk lain, seperti kawanan mamalia — serigala, gajah, lumba-lumba, simpanse — mereka dapat bekerja sama secara lebih fleksibel, namun mereka hanya dapat melakukannya dalam kelompok kecil, karena kerja sama antara simpanse didasarkan pada pengetahuan mendalam antara satu sama lain. Jika saya seekor simpanse, dan Anda juga simpanse, dan saya ingin kerja sama dengan Anda. Saya harus mengenal Anda secara personal. Anda simpanse jenis apa? Simpanse baik? Simpanse jahat? Apa Anda bisa dipercaya? Jika saya tidak mengenal Anda, bagaimana kita bisa bekerja sama?

Satu-satunya hewan yang dapat menggabungkan dua kemampuan dan bekerja sama secara fleksibel dan melakukannya dalam kelompok yang besar adalah kita, Homo sapien. Satu lawan satu, bahkan 10 lawan 10, simpanse masih lebih baik dari kita. Tapi jika Anda tandingkan 1000 manusia melawan 1000 simpanse, manusia dapat menang dengan mudah, karena alasan yang sederhana Seribu simpanse tidak dapat bekerja sama sama sekali. Jika Anda letakkan 100,000 simpanse di Oxford Street, atau Wembley Stadium, atau Tiananmen Square atau Vatikan, yang ada hanyalah kacau balau. Bayangkan Wembley Stadium dengan 100,000 simpanse. Tidak mungkin.

Sebaliknya, puluhan ribu manusia biasa berkumpul di sana, dan yang terjadi bukanlah kekacauan. Melainkan sistem kerja sama yang canggih dan efektif. Semua pencapaian besar manusia dalam sejarah, baik itu membangun piramid atau terbang ke bulan, tidak didasarkan pada kemampuan individu, namun pada kemampuan untuk bekerja sama secara fleksibel dalam jumlah besar.

Pikirkan tentang seminar sekarang ini: Saya berdiri di depan penonton berjumlah 300 atau 400 orang, saya tidak mengenal kebanyakan dari Anda. Saya juga tidak mengenal penyelenggara seminar ini satu persatu. Saya tidak mengenal pilot dan kru penerbangan yang membawa saya ke sini kemarin, ke London. Saya tidak mengenal mereka yang menemukan dan memproduksi mikrofon dan kamera yang merekam apa yang saya katakan. Saya tidak mengenal penulis buku dan artikel yang saya baca selama mempersiapkan seminar ini. Saya tentunya tidak mengenal semua orang yang mungkin menonton seminar ini di dunia maya, di suatu tempat di Buenos Aires atau New Delhi.

Namun, walaupun kita tidak mengenal satu sama lain, kita bisa bekerja bersama untuk bertukar pikiran secara global. Ini adalah sesuatu yang simpanse tidak bisa lakukan. Mereka berkomunikasi, tentu saja, tapi tidak akan ada seekor pun simpanse yang pergi ke kelompok simpanse lain untuk memberi seminar tentang pisang atau gajah atau apapun yang mungkin menarik bagi simpanse. Kerja sama, tentu, tidak selalu baik; semua keburukan yang manusia pernah lakukan sepanjang sejarah — hal-hal yang sangat buruk — semuanya berdasarkan pada kerja sama dalam skala besar. Penjara merupakan suatu sistem kerja sama; pertumpahan darah juga bentuk kerja sama; kamp tawanan perang pun adalah suatu kerja sama. Simpanse tidak membunuh maupun punya penjara atau kamp tawanan.

Misalnya saya telah meyakinkan anda bahwa kita mengontrol bumi karena kita dapat bekerja sama fleksibel dalam jumlah besar. Pertanyaan selanjutnya yang langsung muncul dalam benak pendengar yang kritis adalah: Bagaimana, tepatnya, cara kita melakukannya? Mengapa hanya kita satu-satunya makhluk yang bisa melakukannya? Jawabannya adalah imajinasi. Kita dapat bekerja sama dengan baik dengan orang yang tidak kita kenal, karena hanya kitalah satu-satunya makhluk di bumi yang dapat menciptakan dan mempercayai cerita fiktif. Selama setiap orang mempercayai cerita yang sama, setiap orang akan mentaati dan mengikuti peraturan yang sama, serta norma dan nilai yang sama.

Hewan lain hanya berkomunikasi untuk melukiskan realita. Seekor simpanse bisa mengisyaratkan, "Lihat! Ada singa, ayo lari!" Atau, "Lihat! Ada pohon pisang di sana! Ayo kita ambil pisangnya!" Manusia, sebaliknya, menggunakan bahasa tidak hanya untuk menggambarkan realita, namun juga untuk menciptakan realita fiktif. Seseorang bisa berkata, "Lihat, Tuhan berada di atas langit! Dan apabila kalian mengingkari saya setelah mati, Tuhan akan menyiksa kalian di neraka." Jika kalian percaya pada cerita yang saya buat ini, kalian harus mengikuti norma, hukum, dan nilai yang sama, dan kalian dapat bekerja sama. Hanya manusia yang bisa melakukan ini. Anda tidak akan bisa menyuruh simpanse memberi Anda pisang dengan berjanji, "Setelah kamu mati, kamu bisa pergi ke surga simpanse." (Tertawa) "... dan kamu akan dapat banyak pisang sebagai imbalan. Jadi beri aku pisang ini." Tidak ada seekor simpanse pun yang akan percaya cerita ini. Hanya manusia yang percaya pada cerita semacam itu, itulah mengapa kita menguasai bumi, ketika simpanse hanya terkurung di kebun binatang dan laboratorium.

Sekarang Anda dapat menerima bahwa di tataran religi, manusia bekerja sama dengan mempercayai cerita yang sama. Jutaan orang bersama-sama membangun katedral atau masjid melakukan jihad dan perang salib, karena mereka percaya cerita yang sama tentang Tuhan, surga, dan neraka. Namun apa yang saya ingin tekankan adalah Mekanisme tersebut mendasari semua bentuk kerja sama manusia dalam skala yang masif, tidak hanya dalam tataran religi

Sebagai contoh, bidang hukum. Kebanyakan sistem hukum di dunia didasarkan pada kepercayaan akan HAM. Namun apakah HAM itu? HAM, seperti Tuhan dan surga, hanyalah cerita yang kita ciptakan. Mereka bukan realita obyektif; maupun efek biologis tentang homo sapien. Misalnya, coba bedah tubuh seseorang, tiliklah ke dalamnya, Anda akan temukan jantung, ginjal, neuron, hormon, DNA, namun Anda tidak akan temui HAM apapun. Satu-satunya tempat di mana Anda bisa temukan HAM, hanyalah dalam cerita yang kita ciptakan dan sebarkan dalam beberapa abad terakhir. Cerita tersebut bisa jadi positif, kisah yang sangat terpuji. namun itu hanyalah cerita fiktif yang kita buat-buat.

Begitu juga dalam bidang politik. Faktor paling penting dalam politik modern adalah bangsa dan negara. Namun apa itu bangsa dan negara? Mereka bukanlah realita obyektif. Gunung adalah realita obyektif. Anda bisa melihatnya, memegangnya, bahkan menciumnya. Namun bangsa dan negara, seperti Israel, Iran, Prancis, atau Jerman, hanyalah sebuat cerita yang kita buat yang sangat melekat dalam diri kita.

Begitu pula dalam bidang ekonomi. Peran paling penting dalam ekonomi global saat ini adalah perusahaan. Kebanyakan orang sekarang mungkin bekerja untuk perusahaan, seperti Google, Toyota, atau McDonald's. Apakah mereka itu? Pengacara menyebutnya fiksi hukum. Mereka adalah cerita yang dibuat dan dipertahankan oleh orang-orang sakti yang kita sebut pengacara. (Tertawa) Apa yang perusahaan lakukan sepanjang hari? Kebanyakan, mereka mencoba menghasilkan uang. Namun, apa itu uang? Lagi-lagi, uang bukanlah realita obyektif; ia tidak memiliki nilai obyektif. Misalnya uang ini. Coba lihat — ia tidak mempunyai nilai. Ia tidak bisa dimakan, diminum, ataupun dipakai. Kemudian datanglah para pendongeng ulung — para bankir besar, para menteri perekonomian, para perdana menteri — dan mereka memberi konsep yang sangat meyakinkan: "Anda lihat lembar kertas ini? Ini nilainya sama dengan 10 pisang." Jika saya percaya, Anda percaya, dan semua orang percaya, maka jadilah. Saya dapat mengambil kertas yang tak bernilai ini, pergi ke supermarket, saya berikan ke orang yang saya tidak pernah kenal sebelumnya, dan saya dapat pisang yang bisa saya makan sebagai gantinya. Sungguh menakjubkan. Hal ini tidak mungkin dengan simpanse. Simpanse saling tukar menukar, tentunya: "Kamu beri aku kelapa, aku beri kamu pisang." Itu bisa terjadi. Namun jika kamu beri aku selembar kertas begitu saja dan kamu harap aku tukar dengan pisang? Mana mungkin! Kamu pikir aku manusia? (Tertawa)

Uang adalah salah satu konsep yang paling sukses yang ditemukan dan disebarkan oleh manusia, karena uang adalah satu-satunya konsep yang dipercaya semua orang. Tidak semua percaya Tuhan, tidak semua percaya HAM, tidak semua percaya pada nasionalisme, namun semua percaya akan uang, dan mata uang dolar. Ambil contoh, Osama Bin Laden. Ia membenci politik dan agama di Amerika, juga kebudayaan Amerika, namun dia tidak menolak dolar Amerika. Dia bahkan cukup memujanya. (Tertawa)

Kesimpulannya: Kita manusia mengontrol dunia karena kita hidup dalam realita ganda. Hewan lain hidup dalam realita obyektif. Realita mereka terdiri dari benda-benda yang obyektif, seperti sungai, pohon, harimau, dan gajah. Manusia juga hidup dalam realita obyektif. Dunia kita juga mempunyai sungai, pohon, harimau, dan gajah. Namun dalam beberapa abad terakhir, kita telah menambahkan di atas realita obyektif ini lapisan kedua yang berupa realita fiktif, sebuah realita yang terbuat dari konsep-konsep fiktif, seperti negara, Tuhan, uang, dan perusahaan. Yang menakjubkan adalah seiring dengan sejarah, realita fiktif ini menjadi sedemikian kuatnya sehingga kini, kekuatan terbesar di dunia adalah konsep-konsep fiktif tersebut. Kini, kelangsungan hidup sungai, hutan, harimau, dan gajah bergantung kepada kebijakan dan keinginan konsep-konsep fiktif, seperti Amerika Serikat, Google, Bank Dunia — konsep yang ada dalam imajinasi kita semata.

Terima kasih. (Tepuk tangan)

Bruno Giussani: Yuval, ada satu buku Anda Setelah Sapiens, ada satu buku lagi, dalam bahasa Hebrew, tapi belum diterjemahkan ...

Yuval Noah Harari: Saya sedang menerjemahkannya.

BG: Dalam buku itu, kalau saya tidak salah, Anda katakan bahwa terobosan menakjubkan yang kita alami saat ini bukan hanya dapat membuat hidup kita lebih baik, namun juga akan membuat — saya kutip Anda — " .. kelas dan pergolakan baru, seperti halnya revolusi industri." Bisa Anda jelaskan?

YNH: Ya. Pada revolusi industri, kita melihat penciptaan kelas baru berupa proletariat perkotaan. Kebanyakan sejarah politis dan sosial dalam 200 tahun terakhir melibatkan manfaat kelas ini, dan masalah serta kesempatan barunya. Kini, kita melihat terbentuknya segolongan besar orang yang tidak berguna. (Tertawa) Seiring dengan makin majunya ilmu komputer dalam segala bidang, ada kemungkinan nyata bahwa komputer akan melampaui kita dalam sebagian besar bidang dan membuat manusia tidak berguna. Pertanyaan politis dan sosial terbesar dari abad ke-21 adalah, "Kita masih perlu manusia untuk apa?" atau paling tidak, "Untuk apa kita masih perlu begitu banyak manusia?"

BG: Anda punya jawabannya dalam buku?

YNH: Saat ini, perkiraan terbaik kita adalah untuk menghibur mereka dengan narkoba dan game komputer ... (Tertawa) namun ini tidak terdengar seperti masa depan yang menyenangkan.

BG: Oke, jadi maksud Anda sekarang dan berdasarkan diskusi mengenai bertambahnya bukti tentang kesenjangan ekonomi yang serius, kita baru saja memasukinya?

YNH: Ini bukan ramalan; banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan pertama, terciptanya segolongan besar orang yang tidak berguna. Kemungkinan kedua, pembagian manusia menjadi beberapa kasta biologis, yang kaya akan seperti dewa maya, dan yang miskin dianggap tak berguna.

BG: Sepertinya Anda akan bicara untuk TED lagi tahun depan. Terima kasih telah datang, Yuval.

YNH: Terima kasih! (Tepuk tangan)