Eleanor Longden
4,366,182 views • 14:17

Hari ketika saya meninggalkan rumah untuk pertama kalinya untuk pergi ke universitas adalah hari yang cerah, penuh dengan harapan dan optimisme, Saya memiliki prestasi yang baik di sekolah, dan banyak yang memiliki harapan tinggi terhadap saya. Maka dengan gembira saya memasuki kehidupan seorang mahasiswa yang penuh dengan kuliah, pesta dan pencurian kerucut lalu lintas.

Tapi penampilan, tentunya, bisa menipu, dan sampai batasan tertentu, semangat dari mengikuti kuliah-kuliah dan mencuri kerucut lalu lintas ini hanyalah tampak luarnya saja, namun dirancang dengan sangat baik dan sangat meyakinkan. Padahal dari dalam, sebenarnya saya sangat tidak bahagia, gamang dan pada dasarnya saya merasa takut — takut akan orang lain, takut akan masa depan, akan kegagalan, dan kehampaan yang saya rasakan. Tapi saya pandai menyembunyikannya, dan dari luar saya tampak seperti seseorang yang memiliki segalanya yang diinginkan dan dicita-citakan banyak orang. Sebegitu sempurnanya ketangguhan palsu ini sampai-sampai saya sendiri pun tertipu, dan dengan berakhirnya semester pertama dan dimulainya semester kedua, tidak ada satu orang pun yang mengira apa yang akan segera terjadi.

Hal itu bermula saat saya sedang meninggalkan sebuah seminar, sambil bersenandung, membenahi tas hal-hal yang biasa saya lakukan sebelumnya. Tiba-tiba saya mendengar sebuah suara yang dengan tenangnya berkomentar, "Dia sedang meninggalkan ruangan."

Saya melihat sekeliling, dan tidak ada siapa-siapa di sekitar, tapi kejernihan dan ketegasan suara itu terasa sangat nyata. Saya terguncang dan lekas-lekas meninggalkan buku-buku di tangga serta bergegas pulang. Kemudian suara itu muncul lagi. "Dia sedang membuka pintu."

Ini baru permulaan. Suara-suara itu telah muncul. Dan suara itu bertahan selama berhari-hari, berminggu-minggu, terus menerus, mengkomentari segala hal yang saya lakukan dari sisi orang ketiga.

"Dia pergi ke perpustakaan."

"Dia pergi kuliah." Suara tersebut terdengar netral, tenang, dan bahkan anehnya, setelah beberapa waktu ia terasa seperti teman yang menenteramkan, walaupun terkadang tidak selalu terdengar tenang dan sesekali ia menyuarakan emosi terpendam saya sendiri. Misalnya, jika saya marah dan harus menutupinya, yang memang sering saya lakukan, karena saya sangat mahir menyembunyikan perasaan, maka suara itu akan terdengar gusar. Namun terlepas dari itu, suara tersebut tidak menyeramkan maupun mengganggu, meskipun pada saat itu pun sudah jelas bahwa ia mengkomunikasikan sesuatu kepada saya, yaitu perasaan saya, khususnya perasaan yang jauh terpendam.

Ketika itulah saya melakukan sebuah kesalahan yang fatal, Saya memberitahu seorang teman mengenai suara itu, dan ia sangat ketakutan. Dan dimulailah proses pengkondisian yang samar, yang mengimplikasikan bahwa manusia normal tidak mendengar suara itu, dan jika saya mendengarnya berarti ada sesuatu yang sangat salah di dalam diri saya. Ketakutan dan ketidakpercayaan sangatlah menular. Tiba-tiba suara tersebut tidak lagi terasa jinak dan bersahabat, dan saat teman saya bersikeras agar saya berobat, saya menurut, dan ternyata ini merupakan kesalahan nomor dua.

Saya bercerita panjang lebar kepada dokter umum di universitas mengenai apa yang menurut saya adalah masalah sebenarnya: keresahan, kurang percaya diri, ketakutan akan masa depan, dan malah ditanggapi dengan keacuhan sampai akhirnya saya menyinggung tentang suara itu. Beliau menjatuhkan penanya, menoleh ke arah saya dan mulai menunjukkan ketertarikannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan sejujurnya, saat itu saya sedang sangat ingin diperhatikan dan ditolong, lalu saya mulai bercerita tentang komentator saya yang aneh. Saya selalu berharap bahwa saat itu, suara tersebut berkata, "Dia sedang menggali kuburannya sendiri."

Saya dirujuk ke seorang psikiater, yang juga berpikiran buruk akan adanya suara tersebut, dan karenanya, beliau mengartikan setiap perkataan saya sebagai kegilaan yang terselubung. Misalnya, saya adalah bagian dari stasiun TV untuk para pelajar yang menyiarkan wacana sekitar kampus, dan pada sebuah sesi pertemuan yang sudah sangat terlambat, saya berkata, "Maaf dokter, saya harus pergi. Saya harus membaca berita jam enam." Kemudian di catatan medis saya akan tertulis bahwa Eleanor sekarang berkhayal ia adalah seorang pembaca berita.

Pada saat itulah serentetan kejadian mulai menimpa saya bertubi-tubi. Saya dimasukkan ke rumah sakit untuk pertama kalinya dari banyak kali yang akan menyusul kemudian, kemudian saya didiagnosa dengan skizofrenia, lalu, yang paling parah adalah ketidakberdayaan, rasa malu, dan keputusasaan yang meracuni dan menyiksa saya, menghantui akan diri saya dan masa depan saya.

Namun anjuran untuk menganggap suara tersebut sebagai sebuah gejala, bukannya sebuah pengalaman, malah memperparah rasa takut dan penolakan saya. Pada dasarnya, ini berarti bersikap agresif terhadap pikiran saya sendiri, semacam sebuah perang batin, dan ini menyebabkan kuantitas suara tersebut bertambah dan berangsur-angsur menjadi tidak bersahabat dan mengancam. Saya merasa tidak berdaya, dan perlahan-lahan saya mulai tenggelam di dalam sebuah dunia batin yang menyiksa dimana suara-suara tersebut telah ditakdirkan untuk menjadi penuntut sekaligus satu-satunya teman saya. Contohnya, mereka berkata kepada saya jika saya membuktikan bahwa saya pantas menerima bantuan mereka, maka mereka bisa mengembalikan hidup saya seperti semula, dan saya pun disuruh melakukan serentetan tugas yang aneh, seperti layaknya Hercules. Awalnya tugasnya cukup sederhana. Misalnya, cabut tiga helai rambutmu, namun lambat laun menjadi semakin ekstrem, dimana saya disuruh untuk menyakiti diri saya sendiri, dan ada sebuah instruksi yang sangat dramatis:

"Kau lihat tutor yang di sana? Kau lihat gelas air itu? Kau harus ke sana dan menumpahkan air itu ke atas beliau di hadapan mahasiswa-mahasiswa lainnya."

Dan saya benar-benar melakukannya. Tentu ini tidak membuat saya disukai oleh para dosen.

Akhirnya, sebuah lingkaran setan yang penuh dengan ketakutan, pengasingan, ketidakpercayaan dan kesalahpahaman telah terbentuk, dan ini adalah sebuah pertarungan di mana saya merasa tidak berdaya dan tidak mampu mendapatkan ketenangan maupun rekonsiliasi.

Dua tahun kemudian, kondisi saya semakin memburuk. Sekarang, tidak ada lagi ketenangan di sekitar saya: semuanya berisi suara-suara yang mengerikan, pemandangan menakutkan, delusi ganjil yang tidak pernah hilang. Status kesehatan mental saya sangatlah kacau balau, penuh dengan diskriminasi, pelecehan secara verbal, serta pelecehan fisik dan seksual. Dan psikiater saya berkata, "Eleanor, terkena kanker pun masih lebih baik dari ini, karena kanker lebih mudah diobati daripada skizofrenia." Saya telah didiagnosa, dibius, dan dibuang, dan sekarang saya sangat tersiksa oleh suara-suara tersebut sampai-sampai saya mencoba mengebor kepala saya untuk membuat lubang agar suara-suara itu bisa keluar.

Sekarang saat saya menengok kembali keruntuhan dan kerapuhan di tahun-tahun tersebut, saya merasa seakan-akan seseorang telah mati di sana, dan seseorang yang lain telah diselamatkan. Seseorang yang telah hancur dan dihantui memulai perjalanan tersebut, namun yang menyelesaikannya adalah seorang yang tangguh, dan pada akhirnya ia akan menjadi citra diri saya yang sesungguhnya.

Banyak orang yang menyakiti saya di hidup saya, dan saya mengingat kesemuanya, namun ingatan tersebut menjadi semakin pudar dan samar apabila saya membandingkannya dengan memori dari para penolong saya. Sesama pejuang yang tangguh, orang-orang yang juga mendengar suara-suara, kawan-kawan saya ibu saya yang tidak pernah menyerah dan putus asa akan saya, yang tahu bahwa pada akhirnya saya akan kembali ke sisi beliau yang telah dengan setia menanti saya selama mungkin; dokter yang hanya sebentar menangani saya, namun telah menunjukkan kepada saya bahwa penyembuhan tidaklah mustahil, bahkan tidak dapat dihindari, dan selama beberapa waktu di saat "penyakit" saya kambuh, beliau memberitahu keluarga saya yang ketakutan, "Jangan menyerah. Saya percaya Eleanor dapat melalui hal ini. Anda tahu, terkadang salju bisa turun di bulan Mei, tapi musim panas pada akhirnya selalu datang."

Empat belas menit tidaklah cukup untuk menyebutkan kesemua orang yang sangat baik hati tersebut satu per satu, yang telah berjuang bersama saya dan untuk saya, dan telah menanti untuk menyambut saya kembali dari tempat yang sepi dan penuh penderitaan. Namun mereka bersama-sama membentuk suatu keberanian, kreativitas, inegritas, dan keyakinan yang kokoh bahwa citra diri saya yang telah hancur dapat disembuhkan dan disatukan kembali. Saya dulu sering berkata bahwa orang-orang inilah yang menyelamatkan saya, namun yang saya sadari sekarang adalah bahwa mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu menguatkan saya untuk menyelamatkan diri saya sendiri, dan yang paling penting adalah mereka membantu saya mengerti satu hal yang telah saya duga sebelumnya: bahwa suara-suara tersebut adalah respon yang penuh arti atas kejadian-kejadian traumatis di hidup saya, terutama di masa kecil saya, dan itu bukanlah musuh saya, namun yang memberitahu saya akan adanya masalah emosional yang dapat diatasi.

Nah, awalnya, ini bukanlah sesuatu yang mudah dipercaya, salah satunya karena mereka tampak tidak bersahabat dan penuh ancaman, maka langkah pertama yang paling penting adalah belajar untuk memisahkan arti metafor dari apa yang sebelumnya saya anggap sebagai kebenaran secara harafiah. Misalnya, saya belajar untuk mengartikan suara-suara yang mengancam akan menyerang rumah saya sebagai ketakutan dan ketidakamanan diri saya sendiri di dunia ini, dan bukannya bahaya yang sebenarnya.

Nah, awalnya saya akan mempercayai mereka. Contohnya, saya ingat suatu malam saya duduk berjaga-jaga di luar kamar orang tua saya untuk melindungi mereka dari apa yang saya kira merupakan ancaman sungguhan dari suara-suara tersebut. Karena saya pernah menyakiti diri saya sendiri sebelumnya, kebanyakan benda tajam di dalam rumah telah disembunyikan, karenanya saya harus mempersenjatai diri saya dengan garpu plastik, semacam peralatan piknik, dan saya duduk di luar kamar menggenggam garpu tersebut dan menunggu untuk menyergap apabila terjadi sesuatu. Jadi semacam ini, "Jangan macam-macam dengan saya. Saya punya garpu plastik, tahu?" Strategi yang bagus, bukan?

Tapi respon yang datang setelahnya, dan yang sangatlah berguna, akan mencoba dan menganalisis ulang arti di balik kata-kata tersebut, jadi saat suara-suara tersebut memperingatkan saya untuk tidak meninggalkan rumah, kemudian saya akan berterima kasih karena mereka telah menunjukkan betapa saya merasa tidak aman — karena jika saya telah menyadari hal ini, saya dapat melakukan sesuatu yang positif akan hal itu — namun saya akan terus menenangkan diri saya sendiri dan suara-suara itu, bahwa kami telah aman dan tidak perlu merasa takut lagi. Saya akan menetapkan batasan bagi mereka, dan mencoba untuk berinteraksi dengan mereka dengan tegas namun juga dengan hormat, perlahan-lahan menjadi proses komunikasi dan kolaborasi dimana kami dapat belajar untuk bekerja sama dan menyokong satu sama lain.

Dan kemudian, saya akan menyadari pada akhirnya bahwa setiap suara tersebut berhubungan sangat dekat dengan setiap aspek diri saya, dan masing-masing memiliki luapan emosi yang tidak pernah sempat saya proses atau atasi, kenangan akan trauma dan pelecehan seksual, kenangan akan kemarahan, rasa malu, rasa bersalah, dan rendah diri. Mereka menggantikan rasa sakit yang ada dan menyuarakannya, dan mungkin salah satu pengilhaman yang paling luar biasa adalah saat saya menyadari bahwa suara-suara yang paling tidak bersahabat dan agresive sebenarnya mewakili sisi dari diri saya yang paling merasa tersakiti, dan karenanya, suara-suara itulah yang paling perlu diperhatikan dan dikasihi.

Suara tersebut disertai dengan pengetahuan dimana akhirnya saya akan mengumpulkan serpihan-serpihan diri saya yang tercecer, setiap serpihan mewakili suara-suara yang berbeda. Perlahan saya akan melepaskan pengobatan saya dan kembali bergumul dengan kejiwaan, namun kali saya berada di sisi lainnya. 10 tahun setelah suara pertama muncul, saya akhirnya lulus, dengan gelar tertinggi di bidang psikologi yang pernah diberikan oleh universitas, dan setahun kemudian, saya mendapat gelar tertinggi di tingkat pasca-sarjana, dan itu bukanlah hal yang buruk untuk seorang wanita gila, iya kan? Malah, salah satu suara tersebut sebenarnya mendiktekan jawabannya di saat ujian, yang secara teknis mungkin termasuk mencontek.

(Tawa)

Dan sejujurnya, terkadang saya cukup menikmati perhatian mereka juga. Seperti yang dikatakan Oscar Wilde: menjadi topik pembicaraan orang-orang tidak lebih buruk daripada tidak dibicarakan sama sekali. Dan ini juga membuat anda menjadi sangat peka dalam mencuri dengar karena anda dimampukan untuk mendengarkan dua percakapan sekaligus. Jadi tidak semuanya buruk.

Saya bekerja di institusi-institusi kejiwaan, berceramah di banyak konferensi, menerbitkan buku-buku dan artikel-artikel akademis, dan saya terus bersikeras akan relevansi dari konsep berikut ini: bahwa pertanyaan yang penting di bidang ilmu kejiwaan bukanlah, "Apa yang salah dalam dirimu?" tapi seharusnya "Apa yang telah terjadi padamu?" Sementara itu, saya mendengarkan suara-suara saya. Saya akhirnya belajar untuk berdamai dengan mereka, dan belajar untuk menghormati mereka, dan malah mereka semakin terasa seperti refleksi rasa sayang, penerimaan, dan penghormatan terhadap diri saya sendiri. Dan saya ingat saat yang paling mengharukan dan luar biasa saat saya menyokong seorang wanita lain yang merasa diteror oleh suara-suaranya, dan saya mulai benar-benar menyadari, untuk pertama kalinya, betapa saya tidak lagi merasa demikian tapi akhirnya saya mampu menolong orang lain yang mengalami hal yang sama.

Sekarang saya merasa sangat bangga menjadi bagian dari Intervoice (Antarsuara), badan organisasi International Hearing Voices Movement (Gerakan Internasional dari Pendengaran Suara-suara), gagasan yang diinspirasi oleh hasil karya Profesor Marius Romme dan Dr. Sandra Escher, yang menempatkan pendengaran suara-suara tersebut sebagai strategi untuk bertahan, reaksi normal atas kondisi-kondisi yang abnormal, bukannya gejala skizofrenia yang menyimpang yang harus dialami, tapi merupakan pengalaman yang kompleks, penting dan penuh arti yang perlu dieksplorasi. Kita bersama-sama mewujudkan masyarakat yang mengerti dan menghormati hal ini, menyokong kebutuhan mereka yang mendengar suara-suara, dan menerima individu-individu tersebut sebagai bagian dari masyarakat. Ini tidak hanya mungkin, tapi sedang terjadi. Seperti yang dikatakan Chavez, dengan kata lain: saat perubahan sosial dimulai, hal ini tidak dapat diputarbalikkan. Anda tidak dapat merendahkan orang yang merasa kebangggaan, Anda tidak dapat menginjak-injak orang-orang yang tidak lagi merasa takut.

Bagi saya, pencapaian dari Gerakan Pendengaran Suara-suara (Hearing Voices Movement) adalah pengingat bahwa rasa empati, kesetiakawanan, keadilan, dan penghormatan lebih dari sekadar kata-kata; mereka adalah keyakinan dan kepercayaan, dan hal tersebut dapat mengubah dunia. Dalam 20 tahun terakhir, kegerakan ini telah mewujudkan terbentuknya jalinan dari hal serupa di 26 negara di lima benua, dan kami saling bekerja sama untuk memasyarakatkan harga diri dan solidaritas, serta sokongan bagi mereka yang tertekan mentalnya, agar bahasa yang baru dan harapan dapat tercipta, dimana di pusat kesemuanya ini, ada rasa percaya yang tak tergoyahkan atas kekuatan masing-masing individu.

Seperti yang dikatakan Peter Levine, binatang bernama manusia ini merupakan makhluk unik yang dianugerahkan dengan naluri untuk menyembuhkan dan jiwa intelek untuk memanfaatkan kemampuan bawaan mereka ini. Dalam hal ini, sebagai bagian dari masyarakat, tidak ada kehormatan yang lebih besar daripada memfasilitasi proses penyembuhan seseorang, menyaksikan, membantu, membagi dan meringankan beban seseorang, dan menyebarkan harapan bagi pemulihan mereka. Demikian juga bagi mereka yang telah melalui tekanan dan kesulitan ini, perlu diingat kita tidak tidak perlu menjalani hidup yang terus menerus dibentuk dari hal-hal yang telah menghancurkan kita. Kita ini unik. Kita tidak tergantikan. Apa yang ada di dalam diri kita tidak akan pernah bisa ditaklukan, dikucilkan, atau diambil. Sinar itu tidak akan pernah padam.

Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang dokter yang luar biasa kepada saya, "Jangan beritahu saya akan apa yang telah dikatakan orang-orang mengenai dirimu sendiri, tapi beritahu saya mengenai dirimu yang sebenarnya."

Terima kasih.

(Tepuk tangan)