3,015,209 views • 18:42

Misal ada dua orang Amerika yang bepergian bersama di Italia. Mereka ingin melihat karya Michaelangelo, "David," dan saat menyaksikan patung tersebut, keduanya mematung. Orang pertama —- panggil saja Adam —- terpaku oleh keindahan bentuk manusia yang sempurna. Orang kedua —- panggil saja Bill —- terpana menatap malu pada sesuatu yang ada di tengah. Jadi, ini pertanyaan saya: yang mana dari dua orang tadi yang kemungkinan memilih George Bush, mana yang Al Gore?

Anda tidak perlu mengacungkan tangan karena kita semua memiliki stereotipe politik yang sama. Kita tahu itu Bill. Dalam hal ini, stereotipe ini berhubungan dengan kenyataan. Ini fakta bahwa kaum liberal jauh lebih tinggi dari konservatif dalam sifat kepribadian yang disebut keterbukaan terhadap pengalaman. Orang yang lebih terbuka terhadap pengalaman mendambakan hal baru, variasi, keragaman, ide baru, petualangan. Orang yang tidak terbuka lebih suka sesuatu yang familier, aman, bisa diharapkan.

Jika Anda mengetahui sifat tersebut, Anda bisa memahami banyak teka-teki tentang perilaku manusia. Anda bisa memahami mengapa seniman begitu berbeda dari akuntan. Anda bisa memprediksi jenis buku apa yang ingin mereka baca, tempat-tempat mana yang ingin mereka kunjungi, dan jenis makanan apa yang mereka sukai. Setelah memahami sifat ini, Anda bisa memahami mengapa Anda tidak mengenal satu pun orang yang suka makan di Applebee. (Suara tawa) Sifat ini juga memberi banyak informasi tentang politik. Peneliti utama dari sifat ini, Robert McCrae mengatakan, "Individu yang terbuka cenderung punya pandangan politik kiri yang liberal, progresif" — mereka menyukai tatanan sosial yang terbuka dan berubah — "sedangkan individu yang tertutup lebih memilih padangan politik kanan yang konservatif, tradisional."

Sifat ini juga memberitahu kita jenis kelompok yang diikuti masyarakat. Ini deskripsi sebuah kelompok yang saya temukan di Web. Orang macam apa yang mau bergabung dengan komunitas global menyapa orang-orang dari berbagai disiplin ilmu dan budaya, yang mencari pemahaman lebih dalam tentang dunia, dan mengharap perubahan menuju masa depan yang lebih baik bagi kita semua? Ini dari seseorang yang bernama TED. (Suara tawa) Jika keterbukaan meramalkan siapa yang liberal, dan keterbukaan meramalkan siapa yang menjadi TEDster, apa kita bisa memperkirakan bahwa kebanyakan TEDster liberal? Mari kita cari tahu. Saya meminta Anda untuk mengangkat tangan, bila Anda orang liberal, golongan kiri — terutama pada masalah sosial yang sedang kita bicarakan — atau yang konservatif, dan saya akan memberikan pilihan ketiga, karena saya tahu ada sejumlah libertarian di antara penonton. Jadi, sekarang, silakan angkat tangan Anda — juga yang berada di ruang simulcast, mari kita biarkan semua orang tahu siapakah yang ada di sini. Silakan angkat tangan jika Anda menyatakan bahwa Anda liberal atau golongan kiri. Silakan angkat tangan Anda sekarang. OK. Silakan angkat tangan jika Anda menyatakan bahwa Anda libertarian! OK, sekitar satu — 2 lusin. Silakan angkat tangan jika Anda menyatakan bahwa Anda golongan kanan atau konservatif. Satu, dua, tiga, empat, lima —- sekitar delapan atau 10.

OK. Ini akan jadi sedikit masalah. Karena jika yang menjadi tujuan kita adalah memahami dunia, untuk mencari pemahaman dunia yang lebih dalam kurangnya keragaman moral kita akan menjadikan ini lebih sulit. Karena ketika semua orang berbagi nilai, moral yang sama, mereka menjadi tim, dan begitu Anda melibatkan psikologi tim, itu akan mematikan pemikiran terbuka. Ketika tim liberal kalah, seperti yang terjadi pada tahun 2004, dan itu hampir terjadi pada tahun 2000, kita menghibur diri. (Suara tawa) Kita mencoba untuk menjelaskan mengapa setengah dari Amerika memilih tim lain. Kita pikir mereka pasti telah dibutakan oleh agama, atau karena kebodohan. (Suara tawa) (Tepuk tangan) Jadi, jika Anda berpikir bahwa separuh Amerika memilih Republik karena mereka dibutakan seperti itu, maka saya katakan Anda terjebak dalam sebuah matriks moral. di sebuah matriks moral tertentu Dengan matriks, maksud saya matriks seperti dalam film "The Matrix."

Tapi saya hari ini akan memberi Anda sebuah pilihan. Anda bisa memilih pil biru dan menikmati khayalan nyaman Anda, atau Anda memilih pil merah, belajar psikologi moral dan melangkah keluar matriks moral. Sekarang, karena saya tahu —- (Tepuk tangan) OK, saya anggap itu jawaban atas pertanyaan saya. Saya tadi akan bertanya mana yang Anda pilih, tapi sepertinya tidak perlu. Anda semua terbuka terhadap pengalaman baru dan lagi, Anda punya selera yang bagus. Jadi, mari kita lihat pil merah. Mari belajar psikologi moral dan perhatikan ke mana ini membawa kita.

Mari kita mulai dari awal. Apa itu moralitas dan dari mana asalnya? Gagasan terburuk dalam psikologi menyatakan bahwa pikiran manusia itu kosong ketika lahir. Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia sudah tahu banyak tentang dunia fisik dan sosial, dan diprogram untuk mudah mempelajari hal-hal tertentu tapi sulit untuk mempelajari hal lainnya. Definisi terbaik dari bakat lahir yang pernah saya temukan — ini sangat menjelaskan banyak hal bagi saya — adalah dari ilmuwan otak Gary Marcus. Dia berkata, "Organisasi awal dari otak tidak tergantung banyak pada pengalaman. Alam menyediakan draf pertama, yang kemudian direvisi oleh pengalaman. Sudah ada draf tidak berarti tidak bisa berubah; ini artinya terorganisir sebelum ada pengalaman." OK, lalu apa yang ada pada draf pertama pemikiran moral? Untuk mengetahuinya, rekan saya Craig Joseph, dan saya telah membaca literatur antropologi, tentang moralitas pada berbagai budaya dan juga pada psikologi evolusioner, mencari keterkaitannya. Jadi apa yang diperbincangkan orang lintas disiplin ilmu, yang Anda temukan dari seluruh kebudayaan atau bahkan di seluruh spesies? Kami menemukan 5 —- 5 kaitan terbaik, yang kita sebut 5 dasar moralitas.

Yang pertama perlindungan dari bahaya. Kita semua mamalia, punya banyak saraf dan hormon pemrograman yang membuat kita terikat dengan orang lain, memperhatikan orang lain, kasihan kepada orang lain, terutama kepada kaum yang lemah dan rentan. Ini memberi kita naluri yang kuat terhadap mereka yang menyebabkan bahaya. Landasan moral ini yang mendasari sekitar 70 persen dari pernyataan moral yang pernah saya dengar di sini di TED.

Dasar kedua adalah keadilan timbal balik. Sebenarnya ada bukti yang samar atas adanya timbal balik ini pada hewan lain, namun bukti pada manusia sangat jelas. Lukisan Norman Rockwell dinamakan "The Golden Rule," dan kita mendengar ini dari Karen Armstrong, tentu saja, sebagai dasar bagi begitu banyak agama. Landasan kedua ini mendasari 30 persen lainnya dari pernyataan moral yang saya pernah dengar di sini di TED.

Landasan ketiga yakni loyalitas kelompok. Memang ada kelompok dalam kerajaan hewan — ada kelompok kerja sama —- tetapi kelompok ini biasanya jumlahnya sangat kecil atau bersaudara. Hanya pada manusia kita temukan kelompok dalam jumlah yang sangat besar mampu bekerja sama, bergabung bersama dalam kelompok — dalam hal ini, kelompok yang dipersatukan untuk melawan kelompok lain. Ini mungkin berasal dari sejarah panjang kehidupan suku kita, psikologi kesukuan. Psikologi kesukuan ini sangat menyenangkan bahkan ketika kita tidak punya suku, kita langsung membuatnya karena itu menyenangkan. (Suara tawa) Hubungan olahraga dengan perang itu seperti pornografi dengan seks. Kita bisa mempraktikkan naluri kuno ini.

Landasan keempat adalah rasa hormat-otoritas. Di sini Anda melihat gerakan ketundukan dari dua anggota spesies yang masih sangat berkaitan — tetapi otoritas pada manusia tidak didasarkan pada kekuatan dan kekejaman, seperti pada primata lainnya. Tapi didasarkan pada penghormatan tulus, atau bahkan ada unsur cinta juga.

Landasan yang kelima adalah kemurnian-kesucian. Lukisan ini dinamakan "Kiasan Kesucian," tapi kemurnian ini tidak semata-mata menonjolkan seksualitas perempuan. Ini tentang segala jenis ideologi, apapun idenya, yang memberi nasihat bahwa Anda bisa memperoleh kebajikan dengan mengendalikan seluruh gerak tubuh Anda, dengan mengendalikan apa yang masuk ke tubuh Anda. Ketika politik kanan mungkin lebih mengangkat masalah seks, politik kiri banyak melakukannya dengan makanan. Makanan menjadi masalah moral saat ini, dan ide ini kebanyakan mengenai ide kesucian, mengenai apa yang Anda sentuh atau masukkan ke tubuh Anda.

Saya yakin ini adalah lima kandidat terbaik, apa yang tertulis pada draf pertama pikiran moral. Saya rasa ini adalah hal terakhir yang kita sadari, sebuah kesiapan untuk mempelajari segala hal Tapi ketika Max anak saya tumbuh besar di sebuah kota kampus liberal, bagaimana draf pertama ini direvisi? Bagaimana ia akhirnya akan jadi berbeda dari seorang anak lahir 60 km sebelah selatan kita di Lynchburg, Virginia? Berpikir tentang variasi budaya, mari kita coba metafora yang berbeda. Jika benar ada lima sistem yang bekerja dalam pikiran — lima sumber intuisi dan emosi — maka kita bisa membayangkan pemikiran moral tersebut seperti halnya satu dari audio equalizer yang memiliki lima saluran, di mana bisa bisa mengatur setelan berbeda pada setiap saluran. Kolega saya, Brian Nosek dan Jesse Graham, dan saya, membuat kuesioner, yang kita muat di Web di www.YourMorals.org. Sejauh ini, 30.000 orang telah mengikuti kuesioner ini, dan Anda juga bisa. Berikut ini adalah hasilnya. Berikut adalah hasil dari sekitar 23.000 warga Amerika. Di sebelah kiri saya sudah mengisikan skor untuk liberal, di sebelah kanan itu untuk konservatif, yang di tengah untuk moderat. Garis biru menunjukkan respons masyarakat rata-rata, atas semua pertanyaan tajam ini.

Seperti yang Anda lihat, orang peduli dengan bahaya dan perlindungan. Mereka memberikan dukungan yang tinggi terhadap jenis pernyataan ini di seluruh papan, tetapi seperti yang juga Anda lihat, liberal lebih sedikit peduli dibanding konservatif, garis menurun. Hal yang sama juga berlaku dalam keadilan. Tapi lihat pada tiga garis lainnya, untuk liberal skor sangat rendah. Liberal pada dasarnya berkata, "Tidak, ini bukan moralitas. Otoritas Kelompok, kemurnian —- tidak ada hubungannya dengan moralitas, Saya menolaknya." Tapi ketika orang menjadi lebih konservatif, nilai-nilai yang dipakai bertambah. Kita bisa mengatakan bahwa kaum liberal punya semacam 2 jenis saluran, atau 2 landasan moralitas. Konservatif memiliki lebih dari 5 landasan moral. atau 5 saluran moralitas

Kami menemukan ini pada setiap negara yang kami lihat. Berikut data 1.100 orang Kanada Saya hanya akan membuka cepat slide lainnya. Inggris, Australia, Selandia Baru, Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Latin, Timur Tengah, Asia Timur dan Asia Selatan. Perhatikan juga bahwa pada semua grafik, kemiringan yang lebih curam ada pada Kesetiaan Kelompok, Otoritas, Kemurnian. Yang menunjukkan bahwa di negara manapun, ketidaksepakatan tidak terdapat pada Perlindungan atas Bahaya dan Keadilan. Semua orang — maksud saya, kita memperdebatkan tentang apa itu Keadilan —- tapi semua orang setuju akan masalah Perlindungan atas Bahaya dan Keadilan. Argumen moral dalam budaya terutama tentang tentang Kesetiaan Kelompok, Otoritas, Kemurnian.

Efek ini begitu kuat, yang kita temukan — tidak peduli bagaimana caranya. Dalam sebuah penelitian mutakhir, kami meminta orang berandai-andai akan mendapatkan anjing. Anda memilih jenis tertentu, Anda mempelajari beberapa informasi baru tentang jenis tersebut. Misalkan Anda tahu bahwa jenis tertentu tersebut bersifat mandiri, dan berhubungan dengan pemiliknya sebagai teman dan sejajar? Jika Anda liberal yang Anda katakan, "Hei, itu bagus!" karena liberal suka mengatakan "Tolong ambilkan" (Suara tawa) Tapi jika Anda konservatif, "Itu tidak menarik." Jika Anda konservatif dan tahu kalau anjing itu sangat setia kepada rumah dan keluarga, dan tidak cepat ramah dengan orang asing, untuk konservatif —- Oh, loyalitas itu baik —- anjing memang seharusnya setia. Tetapi bagi kaum liberal, sepertinya anjing ini sedang sedang menjadi calon dari Partai Republik. (Suara tawa)

Jadi Anda mungkin berkata, OK, ada perbedaan antara liberal dan konservatif, tetapi apa yang membuat adanya ketiga landasan moral lain? Bukankah itu hanya landasan dari xenofobia dan otoritarianisme dan Puritanisme? Apa yang membuat itu semua sebagai Nilai Moral? Jawabannya terkandung dalam triptych luar biasa dari Hieronymus Bosch, "The Garden of Earthly Delights." Pada panel pertama, kita menyaksikan saat-saat penciptaan. Semuanya teratur, semua indah, semua orang dan binatang melakukan apa yang seharusnya dilakukan, berada di mana seharusnya ada. Tapi kemudian, berlakulah cara dunia, dan segalanya berubah. Kita mendapati setiap orang melakukan apa yang dia inginkan, dengan setiap cerukan dari setiap orang dan setiap hewan. Beberapa dari Anda mungkin mengenali ini sebagai 60-an. (Suara tawa) Tapi tahun 60-an pasti memberi jalan menuju ke 70-an, di mana potongan dari cerukan ini melukai sedikit banyak. Tentu saja, Bosch menyebut ini sebagai Neraka

Jadi triptych ini, ketiga panel ini, menggambarkan kebenaran abadi yang cenderung membusuk. Kebenaran entropi sosial. Tapi jangan Anda pikir ini hanya beberapa bagian dari imajinasi Kristen hanya karena Kristen memiliki masalah aneh dengan kesenangan, ini cerita yang sama, perkembangan yang sama, dari makalah yang diterbitkan di Nature beberapa tahun lalu, Ernst Fehr dan Simon Gachter meminta orang-orang memainkan sebuah dilema bersama. Sebuah permainan di mana Anda memberi uang kepada orang, dan kemudian pada setiap putaran permainan, mereka bisa memasukkan uang ke gelas yang sama, dan kemudian si peneliti menggandakan isinya, dan membagikannya ke semua pemain. Jadi itu adalah analog yang bagus untuk semua masalah masyarakat, di mana kita meminta orang untuk berkorban tapi mereka sendiri tidak mendapat keuntungan dari pengorbanan mereka. Tapi Anda benar-benar ingin yang lain juga berkorban, tapi semua orang tergoda untuk berlaku curang. Yang terjadi kemudian awalnya, orang-orang cukup kooperatif — dan ini semua dimainkan secara anonim — pada putaran pertama, orang memberikan sekitar setengah dari uang mereka. Tapi mereka cepat memperhatikan, "Sepertinya yang lain lebih sedikit, saya tidak ingin jadi yang kalah. Saya tidak akan bekerja sama." Kerja sama dengan cepat meluruh dari cukup baik, turun, mendekati angka nol.

Tapi kemudian — dan ini triknya — Fehr dan Gachter berkata —- pada putaran ketujuh mereka berkata, "Ini aturan baru. Jika Anda ingin memberikan sebagian uang Anda untuk menghukum orang yang tidak berkontribusi, Anda bisa melakukannya." Seketika mendengar masalah hukuman diberlakukan, kerja sama menjadi meningkat. Meningkat dan terus meningkat. Banyak penelitian menunjukkan itu berguna sebagai solusi masalah dalam kerja sama. Tidak cukup hanya dengan mengharapkan niat baik orang, sangat berguna bila memiliki semacam hukuman. Meskipun itu hanya sekadar rasa malu atau gunjingan, Anda butuh hukuman untuk mengajak mereka, ketika berada dalam kelompok besar, untuk bekerja sama. Bahkan beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa agama — utamanya Tuhan, membuat orang berpikir tentang Tuhan seringkali, dalam situasi tertentu mendorong perilaku kerja sama, lebih pro-sosial.

Ada orang yang berpikir bahwa agama merupakan bentuk adaptasi yang berevolusi, secara budaya maupun biologis, untuk berkelompok dan saling membaur, sebagian untuk tujuan mempercayai satu sama lain, dan menjadi lebih efektif dalam bersaing dengan kelompok lain. Saya pikir itu mungkin benar, meskipun ini adalah masalah kontroversial. Tapi saya terutama tertarik pada agama, dan asal-mula agama, dan dalam apa yang dilakukannya kepada kita dan untuk kita. Karena saya berpikir bahwa keajaiban terbesar di dunia ini bukan Grand Canyon. Grand Canyon itu benar-benar sederhana. Hanya batu yang banyak, dan air dan angin yang banyak, dan waktu yang lama, dan Anda dapati Grand Canyon. Itu tidak rumit. Yang benar-benar rumit adalah bila manusia tinggal di tempat-tempat seperti Grand Canyon, bekerja sama dengan satu sama lain, atau di savana Afrika, atau di tepi beku Alaska, dan kemudian beberapa dari desa ini tumbuh menjadi kota-kota besar, Babel, dan Roma, dan Tenochtitlan. Bagaimana ini terjadi? Ini sebuah mukjizat, jauh lebih sulit untuk menjelaskannya daripada Grand Canyon.

Jawabannya saya kira adalah mereka menggunakan semua yang mereka punya. Membutuhkan segenap psikologi moral kita untuk menciptakan kelompok yang bekerja sama. Ya, Anda perlu khawatir akan bahaya, Anda memang perlu psikologi keadilan. Tapi benar-benar membantu dalam mengorganisir kelompok jika Anda memiliki sub-kelompok, dan jika mereka sub-kelompok memiliki beberapa struktur internal, dan jika Anda memiliki beberapa ideologi yang menganjurkan mereka untuk menekan hawa nafsunya, untuk mengejar yang lebih tinggi, tujuan yang lebih mulia. Sekarang kita sampai ke inti dari perselisihan antara liberal dan konservatif. Karena liberal menolak tiga landasan tersebut. Mereka mengatakan "Tidak, mari kita rayakan perbedaan, jangan terbatas pada lingkup kelompok saja." Mereka berkata, "Mari kita persoalkan kekuasaan." Dan mereka berkata, "Jangan berlakukan hukum kalian atas diri saya."

Liberal memiliki motif yang sangat mulia dalam menangani hal ini. Otoritas tradisional, moralitas tradisional, bisa sangat represif, dan membatasi mereka yang berada di bawah, wanita, maupun orang yang bukan golongannya. Maka liberal berbicara untuk kaum lemah dan tertindas. Mereka menginginkan perubahan dan keadilan, bahkan dengan risiko kekacauan. Baju orang ini bertuliskan, "Berhenti mengeluh, mulailah revolusi." Jika Anda sangat suka akan keterbukaan untuk berpengalaman, revolusi sangat bagus, bisa mengubah, dan itu menyenangkan. Konservatif, di sisi lain, berbicara tentang lembaga dan tradisi. Mereka menginginkan tatanan, meskipun itu membebani mereka yang di bawah. Pemahaman dasar konservatif adalah bahwa tatanan sangat sulit dicapai, sangat berharga, dan sangat mudah hilang. Maka, ketika Edmund Burke berkata, "Pembatasan pada laki-laki, maupun kebebasan mereka, semuanya harus diperhitungkan dalam hak-hak mereka." Ini terjadi setelah kekacauan revolusi Prancis. Jadi setelah Anda melihat ini —- setelah Anda melihat bahwa kaum liberal dan konservatif keduanya memiliki sesuatu untuk dikontribusikan, mereka membentuk keseimbangan pada perubahan berbanding stabilitas — maka saya pikir jalan itu terbuka, untuk melangkah di luar matriks moral

Ini adalah gagasan besar yang telah dicapai semua agama di Asia. Pikirkan tentang Yin dan Yang. Yin dan Yang bukan musuh. Yin dan Yang tidak saling membenci. Yin dan Yang keduanya diperlukan, seperti siang dan malam, untuk fungsi dunia. Anda menemukan hal yang sama dalam agama Hindu. Ada beberapa dewa tertinggi dalam agama Hindu. Dua di antaranya adalah Wisnu Sang Pemelihara, dan Siwa sang penghancur. Gambar ini sebenarnya adalah kedua orang dewa berbagi tubuh yang sama. Anda memiliki tanda Wisnu di sebelah kiri, sehingga kita bisa memikirkan Wisnu sebagai dewa konservatif. Anda memiliki tanda Siwa di sebelah kanan, Siwa dewa liberal —- dan mereka bekerja bersama-sama. Anda menemukan hal yang sama dalam Buddhisme. Kedua bait berisi, saya pikir, wawasan terdalam yang pernah dicapai dalam psikologi moral. Dari guru Zen Seng-ts'an: "Jika ingin kebenaran tegak jelas di hadapan Anda, jangan pernah membela ataupun memusuhinya, perjuangan antara yang membela dan menentang adalah penyakit pikiran yang terburuk." Sayangnya sekarang, ini sebuah penyakit yang telah ditangkap oleh banyak pemimpin dunia. Tapi sebelum Anda merasa superior terhadap George Bush, sebelum Anda melemparkan batu, tanyakan: Apakah Anda menerima ide untuk melangkah keluar dari pertempuran baik dan jahat? Bisakah Anda tidak membela atau memusuhi apapun?

Jadi apa maksudnya? Apa yang seharusnya Anda lakukan? Nah, jika Anda mengambil pandangan-pandangan besar dari filsafat Asia kuno dan Agama, dan Anda menggabungkannya dengan penelitian terbaru tentang psikologi moral, saya pikir Anda sampai pada kesimpulan berikut: Bahwa akal sehat kita dirancang oleh evolusi untuk mempersatukan kita sebagai sebuah tim, untuk memecah belah kita, melawan tim lain dan kemudian membutakan diri kita pada suatu kebenaran. Jadi apa yang harus Anda lakukan? Apakah saya sedang menasihati Anda untuk tidak berjuang? Apakah saya sedang menasihati Anda untuk merangkul pemikiran Seng-ts'an dan berhenti, berhenti berjuang dalam pembelaan dan permusuhan? Tidak, sama sekali tidak. Saya tidak mengatakan itu. Ini adalah kelompok masyarakat yang hebat yang melakukan begitu banyak, menggunakan bakat mereka, kecerdasan mereka, energi mereka, uang mereka, untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, untuk melawan —- untuk melawan kesalahan, untuk memecahkan masalah.

Tapi seperti yang kita pelajari dari Samantha Power dalam ceritanya tentang Sergio Vieira de Mello, Anda tidak bisa hanya menyerang dan berkata, "Anda salah, dan saya benar." Karena, seperti yang saya katakan, semua orang berpikir mereka benar. Terlalu banyak masalah yang harus kita selesaikan, yakni masalah yang mengharuskan kita mengubah orang lain. Jika Anda ingin mengubah orang lain, cara yang lebih baik untuk melakukannya adalah memahami terlebih dahulu siapa diri kita —- mengerti psikologi moral kita, . memahami bahwa ”kita semua berpikir bahwa kita benar” —- dan kemudian melangkah keluar —- meski hanya untuk sesaat, melangkah keluar —- lihat Seng-ts'an Melangkah keluar dari matriks moral, cobalah melihatnya sebagai sebuah perjuangan yang sedang bermain di mana setiap orang tidak berpikir mereka benar, dan semua orang, setidaknya mereka memiliki alasan —- bahkan jika Anda tidak setuju dengan mereka —- setiap orang memiliki alasan atas apa yang mereka lakukan. Melangkahlah keluar. Jika Anda melakukan itu, itu adalah langkah penting untuk menumbuhkan moral rendah hati, untuk mengeluarkan diri Anda dari kebenaran diri, yang merupakan kondisi manusia yang normal. Pikirkan tentang Dalai Lama. Pikirkan tentang otoritas moral Dalai Lama yang sangat besar — dan itu datang dari kerendahan hati moralnya.

Jadi saya pikir yang menjadi tujuan – tujuan dari ceramah saya, dan saya memikirkan tujuan —- tujuan TED, yakni bahwa ini adalah kelompok yang sangat bersemangat terlibat dalam mengejar perubahan dunia menjadi lebih baik. Orang-orang di sini bersemangat terlibat dalam usaha dunia menjadi tempat yang lebih baik. Tapi ada juga komitmen gairah untuk kebenaran. Jadi, saya berpikir bahwa jawabannya adalah dengan menggunakan komitmen gairah tersebut untuk kebenaran, untuk mewujudkannya menjadi masa depan yang lebih baik bagi kita semua. Terima kasih. (Tepuk tangan)