Brittany Packnett
5,274,411 views • 13:30

Saat saya masih anak-anak, ada sebuah buku di atas meja ruang tamu kami, berjarak beberapa langkah dari depan pintu. Dan ruang tamu tersebut adalah kesan pertama. Kami mempunyai karpet putih dan sebuah rak yang menyimpan semua koleksi berharga ibu saya. Ruangan tersebut mencerminkan pengorbanan dari setiap generasi yang sudah ada yang, melalui kehidupan pahit karena adanya kebijakan, tidak mampu memiliki rak pajangan tersebut apalagi kelas menengah. Ruangan tersebut harus tetap sempurna. Tapi, saya selalu ingin mengobrak-abrik ruangan rapi tersebut setiap hari hanya untuk melihat buku tersebut. Sampul depan buku tersebut adalah seorang wanita bernama Septima Clark. Dia mempunyai potret foto yang sempurna dengan wajahnya yang mengagah ke langit. Dia mempunyai rambut abu-abu dengan kepang-kepang kecil yang terurai di sisi kepalanya, lalu kebanggaan dan kebijaksanaan muncul dari kulit gelapnya.

Septima Clark adalah seorang aktivis dan pengajar, seorang wanita yang akhirnya menjadi acuan bagi karier saya. Tapi lebih dari semua kata yang pernah dikatakan, potret Septima Clark tersebut, mendefinisikan kepercayaan diri untuk saya bahkan sebelum saya mengenal kata itu.

Mungkin terdengar sederhana tapi kepercayaan diri adalah sesuatu yang sering kita anggap remeh. Kita sering menganggapnya sebagai "bagus kalau ada" daripada "harus ada". Kita meletakkan nilai tentang pengetahuan dan sumber daya di atas apa yang kita anggap sebagai soft-skill dari kepercayaan diri. Dari pengukuran, kita mempunyai lebih banyak pengetahuan dan sumber daya saat ini dibanding dengan semua masa lalu, dan ketidakadilan masih di mana-mana dan tantangan masih ada. Kalau pengetahuan dan sumber daya adalah yang kita butuhkan, kita tidak akan di situasi seperti ini. Saya yakin bahwa kepercayaan diri adalah salah satu hal yang hilang dari rumus tadi.

Saya sepenuhnya terobsesi dengan kepercayaan diri. Ini menjadi perjalanan penting dalam hidup saya, perjalanan yang masih dalam proses, kalau boleh dibilang. Kepercayaan diri adalah percikan sebelum melakukan segala sesuatu. Kepercayaan diri adalah perbedaan antara merasa terinspirasi dan benar-benar memulai, antara mencoba dan melakukan hingga selesai. Kepercayaan diri membantu kita untuk terus maju bahkan saat kita gagal. Judul buku di meja itu adalah "Aku Memimpikan Suatu Dunia," dan hari ini saya bermimpi tentang dunia di mana kepercayaan diri revolusioner membantu mewujudkan mimpi paling ambisius kita menjadi kenyataan.

Itu adalah jenis dunia yang saya ingin ciptakan di kelas saat saya menjadi guru, seperti dunia Willy Wonka yang murni imajinasi, tetapi dibuat ilmiah. Seluruh siswa saya hitam atau cokelat. Mereka semua tumbuh di kondisi penghasilan rendah. Beberapa imigran, beberapa menyandang disabilitas, tapi mereka semua adalah orang-orang paling terakhir yang dipaksa dunia untuk percaya diri. Itulah mengapa penting kelas saya menjadi tempat di mana siswa saya dapat membangun otot kepercayaan diri, di mana mereka dapat belajar menghadapi hari dengan kepercayaan diri untuk mendesain ulang dunia dalam gambar impian Anda sendiri. Lagipula, tidak ada gunanya keterampilan akademis tanpa percaya diri menerapkannya untuk keluar dan mengubah dunia.

Sekarang waktunya saya bercerita tentang dua siswa saya, Jamal dan Regina. Sekarang, saya sudah mengubah namanya, tapi cerita mereka tetap sama. Jamal cemerlang, tapi tidak fokus. Dia akan menggeliat di kursinya selama belajar sendiri, dan dia tidak akan pernah tetap diam untuk lebih dari tiga atau empat menit. Siswa seperti Jamal dapat membingungkan guru-guru baru karena mereka tidak cukup yakin bagaimana membantu anak muda seperti dia. Dengan pendekatan langsung, saya bernegosiasi dengan Jamal. Bila dia dapat fokus belajar, maka dia dapat melakukannya dari mana saja di kelas, di karpet kelas kami, di belakang meja saya, di dalam loker kelasnya, yang ternyata tempat favoritnya. Subjek yang paling tidak disukai Jamal adalah menulis, dan dia tidak pernah mau membaca dengan keras apa yang dia tulis di kelas tapi kami masih ada kemajuan. Suatu hari, saya memutuskan mengadakan latihan pemilihan presiden 2008 di kelas saya. Siswa kelas tiga saya harus mencari dan menulis pidato tunggul untuk kandidat terpilih mereka: Barack Obama, Hillary Clinton atau John McCain. Favorit terbanyak sudah jelas, tapi satu siswa memilih John McCain. Dia adalah Jamal. Jamal akhirnya memutuskan untuk membaca sesuatu yang telah ia tulis di kelas, dan tentu saja, Jamal membuat kami terpana dengan kecemerlangannya. Seperti ayah Jamal, John McCain adalah kawakan, dan seperti ayah Jamal yang melindunginya, Jamal percaya kalau John McCain akan melindungi negara. Dan dia bukan kandidat pilihan saya, tapi itu tidak penting, karena seluruh siswa bertepuk tangan, tepuk tangan meriah untuk teman kita Jamal yang pemberani yang akhirnya menunjukkan versi dirinya yang paling percaya diri untuk pertama kalinya di tahun itu.

Dan kemudian ada Regina. Regina juga sama cemerlangnya, tapi aktif. Dia pasti selesaikan kerjaannya lebih awal dan kemudian dia akan mengganggu siswa lain.

(Tawa)

Berjalan, berbicara, membagi catatan yang dibenci guru tapi disukai anak. Sepertinya Anda sering melakukannya.

(Tawa)

Walaupun tinggi cita-cita saya untuk kelas kami, Saya sering kembali ke insting dasar saya, dan saya akan memilih kepatuhan di atas kepercayaan diri. Regina adalah kesalahan dalam sistem yang saya maksud. Seorang guru yang baik dapat memperbaiki perilaku salah tapi tetap menjadi juara siswa. Tapi suatu hari, saya salah memilih pendekatan. Saya membentak, saya tidak berhasil menyampaikan kepada Regina kalau dia sedang mengganggu yang lain. Yang saya komunikasikan malah bahwa dia adalah seorang pengganggu. Saya melihat cahaya hilang dari matanya cahaya yang memercikkan kegembiraan di kelas kami. Saya baru saja memadamkannya. Seisi kelas menjadi sensitif, dan tidak membaik sepanjang sisa hari itu.

Saya sering berpikir tentang hari itu, dan saya sungguh berdoa saya tidak lakukan kesalahan yang tidak dapat diperbaiki, karena sebagai wanita yang dulunya anak kecil seperti Regina, saya sadar kalau saya bisa saja memulai proses membunuh kepercayaan dirinya selamanya.

Kurangnya kepercayaan diri menarik kita ke bawah dari dasar dan membebani kita dari atas, menghancurkan kita di antara kebingungan tidak bisa, tidak mau, dan tidak mungkin. Tanpa kepercayaan diri, kita terjebak, dan saat kita terjebak, kita bahkan tidak bisa memulai. Alih-alih terperosok dalam apa yang bisa menghalangi, kepercayaan diri membuat kita tampil dengan kepastian. Kita semua bekerja sedikit berbeda saat yakin kita bisa menang versus jika kita hanya berharap. Nah, ini bisa jadi pengecekan bermanfaat. Jika tidak punya cukup percaya diri, bisa jadi karena Anda butuh meninjau lagi tujuan Anda. Jika Anda terlalu percaya diri, bisa jadi karena tidak berakar pada sesuatu yang nyata. Tidak semua orang kekurangan kepercayaan diri. Kita lebih mudahkan di masyarakat ini untuk beberapa orang raih kepercayaan diri karena mereka cocok dengan pilihan pola dasar kepemimpinan kita. Kita menghargai kepercayaan diri di beberapa orang dan kita menghukum kepercayaan diri di orang lainnya, dan sementara itu terlalu banyak orang yang berjalan setiap hari tanpa kepercayaan diri. Untuk beberapa dari kita, kepercayaan diri adalah pilihan revolusioner, dan itu akan menjadi rasa malu terbesar kita melihat gagasan terbaik kita tidak terwujud dan mimpi paling cerah kita tidak tercapai hanya karena kita kekurangan mesin kepercayaan diri. Itu bukan risiko yang bersedia saya ambil.

Bagaimana memecahkan kode kepercayaan diri? Menurut perkiraan saya, setidaknya dibutuhkan tiga hal: izin, komunitas, dan rasa ingin tahu. Izin melahirkan kepercayaan diri, komunitas memeliharanya, dan rasa ingin tahu menguatkannya. Di pendidikan, kita punya pepatah. Kita tidak bisa menjadi apa yang tidak bisa kita lihat Saat kecil, saya tidak bisa menunjukkan kepercayaan diri hingga seseorang menunjukkan pada saya.

Keluarga saya biasa beraktivitas bersama, termasuk hal-hal biasa, seperti membeli mobil baru, dan tiap kali kami lakukan ini, saya akan menonton orang tua saya melakukan hal yang sama persis. Kami akan memasuki dealer, dan ayah saya akan duduk sementara ibu saya melihat-lihat. Saat ibu saya menemukan mobil yang disukainya, mereka akan masuk dan bertemu dengan dealernya dan pastinya, setiap kali dealer akan memperhatikan mendatangi ayah saya, beranggapan kalau dia yang mengontrol dompet dan bernegosiasi. "Rev. Packnett," kata mereka, "bagaimana kami bisa membantu Anda hari ini?" Ayah saya akan pasti merespons dengan cara yang sama. Dia akan dengan perlahan dan diam menunjuk ibu saya dan lalu meletakkan tangannya di pangkuannya. Hal ini mungkin sangat mengejutkan bernegosiasi keuangan dengan wanita kulit hitam di tahun 80an tapi apapun itu, saya melihat ibuku menawar hingga kami dapat membelinya hampir cuma-cuma.

(Tawa)

Dia tidak akan pernah senyum. Dia tidak akan pernah takut untuk berjalan pergi. Saya tahu ibu berpikir kalau dia baru mendapat harga bagus untuk minivannya, tapi apa yang sebenarnya dia lakukan adalah memberi izin untuk menantang harapan dan tampil percaya diri dengan keterampilan saya tak peduli siapapun.

Kepercayaan diri butuh izin untuk ada dan komunitas adalah tempat teraman untuk mencoba kepercayaan diri.

Saya pergi ke Kenya tahun ini untuk belajar pemberdayaan wanita di antara wanita Maasai. Di sana saya bertemu sekelompok wanita muda yang disebut Tim Singa Betina, di antara semua-wanita pertama komunitas kelompok penjaga hutan Kenya. Delapan wanita muda pemberani ini membuat sejarah di usia belia mereka, dan saya bertanya ke Purity, penjaga hutan yang paling banyak bicara di antara mereka "Apakah Anda pernah merasa takut?" Saya bersumpah, saya ingin mentato jawabannya di seluruh tubuh saya. Dia bilang, "Tentu saja pernah, tetapi saya memanggil saudari saya. Mereka mengingatkan saya bahwa kita akan lebih baik daripada pria-pria ini dan kita tidak akan gagal" Kepercayaan diri Purity untuk mengejar singa dan menangkap pemburu, tidak berasal dari kemampuan atletisnya atau bahkan hanya kepercayaannya. Kepercayaan dirinya didukung oleh persaudaraan wanita, oleh komunitas. Apa yang pada dasarnya dia katakan adalah kalau saya pernah merasa ragu, saya membutuhkan Anda untuk berada di sana untuk mengembalikan harapan saya dan untuk membangun kembali keyakinan saya.

Di komunitas, saya dapat menemukan kepercayaan diri saya dan rasa ingin tahu Anda dapat menguatkannya. Di awal karier, saya aku memimpin acara berskala besar yang tidak berlangsung sesuai rencana. Saya bohong. Acara itu kacau sekali. Saat bertanya jawab acara itu dengan manajer saya, Saya baru tahu kalau dia akan mengecek daftar setiap kesalahan yang pernah saya buat, mungkin sejak lahir. Tapi malah, dia memulai dengan pertanyaan: Apa niat Anda? Saya terkejut tetapi merasa lega. Dia tahu saya sudah menghukum diri saya sendiri, dan pertanyaan itu membuat saya belajar dari kesalahan saya sendiri daripada menghancurkan kepercayaan diri yang sudah rapuh. Rasa ingin tahu mengundang orang untuk bertanggungjawab atas pembelajaran mereka Percakapan itu, membantu saya melakukan pendekatan untuk proyek saya selanjutnya dengan harapan kesuksesan. Izin, komunitas, rasa ingin tahu: semua ini adalah hal yang kita akan butuhkan untuk memberi kepercayaan diri yang kita akan sepenuhnya butuhkan untuk memecahkan tantangan terbesar kita dan untuk membangun dunia yang kita impikan, dunia di mana ketidakadilan berakhir dan di mana keadilan itu nyata, dunia di mana kita bisa bebas di luar dan bebas di dalam karena kita tahu kalau tidak ada dari kita yang bebas hingga kita semua bebas. Sebuah dunia yang tak terintimidasi oleh kepercayaan diri saat hal itu tampil sebagai wanita atau kulit hitam atau apapun selain pola dasar kepemimpinan yang lebih kita pilih. Suatu dunia yang tahu kalau kepercayaan diri jenis itu adalah kunci yang tepat kita butuhkan untuk masa depan yang kita inginkan.

Saya cukup percaya diri untuk percaya kalau dunia itu memang akan terjadi, dan kitalah yang akan mewujudkannya.

Terima kasih banyak.

(Tepuk tangan)