Alanna Shaikh
6,940,402 views • 16:46

Saya akan mulai dengan berbicara sedikit tentang kualifikasi saya kepada Anda semua. Karena jujur saja, Anda seharusnya tidak mendengarkan sembarang orang tua yang berbicara tentang COVID-19. (Tawa) Saya telah bekerja di bidang kesehatan global selama 20 tahun, dengan spesialisasi teknis pada sistem kesehatan dan apa yang terjadi jika sistem kesehatan mengalami goncangan yang hebat.

Saya pun pernah bekerja di bidang jurnalistik kesehatan global. Saya pernah menulis tentang kesehatan global dan biosecurity untuk beberapa koran dan situs web, dan beberapa tahun lalu saya menerbitkan sebuah buku

tentang ancaman kesehatan global utama yang kita hadapi.

Saya memimpin gerakan terkait penyebaran penyakit menular, mulai dari evaluasi pusat penanganan virus Ebola hingga mengamati penularan tuberkulosis dalam fasilitas kesehatan

serta menggalakkan kesiagaan atas flu burung. Saya memiliki gelar magister dalam Kesehatan Internasional. Saya bukan dokter, bukan juga perawat. Bidang saya bukanlah pengobatan pasien atau perawatan individu. Bidang saya adalah mengawasi masyarakat dan sistem kesehatan -

apa yang terjadi ketika penyakit berkembang dalam skala besar. Jika kita menilai keahlian kesehatan global seseorang dalam skala 1 sampai dengan 10 -

di mana 1 adalah orang yang berkomentar di Facebook, dan 10 adalah World Health Organization - maka saya ada di angka 7 atau 8.

Jadi, ingatlah itu ketika saya berbicara dengan Anda.

Saya akan mulai dari hal-hal mendasar, karena sepertinya ada yang hilang dari kegaduhan media seputar COVID-19. COVID-19 adalah virus corona, virus corona merupakan bagian spesifik dari virus,

yang memiliki karakteristik unik. Virus ini menggunakan ARN bukan DNA sebagai materi genetik, dan dilindungi oleh duri pada permukaannya,

yang digunakan untuk menyerbu sel.

Duri itu adalah bagian corona (mahkota) dari virus corona.

COVID-19 dikenal sebagai virus corona yang baru karena, hingga Desember, kami hanya mengetahui enam jenis virus corona. COVID-19 adalah jenis ketujuh. Ini baru bagi kami, virus ini baru saja diurutkan gen-nya, baru saja diberi nama - itu sebabnya disebut baru. Kalau Anda ingat SARS - sindrom pernapasan akut berat atau MERS - sindrom pernapasan Timur Tengah

itu juga virus corona, dan keduanya disebut sindrom pernapasan karena itulah yang dilakukan virus corona. Virus ini menyerang paru-paru. Tidak menyebabkan muntah, tidak menyebabkan darah keluar dari mata, tidak menyebabkan pendarahan, tetapi menyerang paru-paru. COVID-19 juga begitu. Virus ini menimbulkan serangkaian sindrom pernapasan, mulai dari batuk kering dan demam,

hingga pneumonia yang mematikan.

Serangkaian gejala tersebut adalah alasan sulitnya melacak wabah ini. Banyak orang terkena COVID-19, tetapi gejala yang ditunjukkan sangat ringan hingga tidak memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. Mereka tidak terdaftar di sistem. Anak-anak, khususnya, mudah sembuh dari COVID-19, yang patut disyukuri.

Virus corona bersifat zoonosis, artinya ditularkan dari hewan ke manusia. Beberapa virus corona, seperti COVID-19, juga dapat menular antar manusia. Penyebaran antar manusia terjadi lebih cepat dan lebih jauh, seperti yang terjadi dengan COVID-19. Penyakit zoonosis sangat sulit dihilangkan karena mereka berasal dari hewan.

Contohnya flu burung. Kita bisa menghilangkannya dari hewan ternak seperti kalkun, bebek, tetapi selalu muncul lagi tiap tahun karena ditularkan oleh burung liar. Anda tidak sering mendengarnya, karena flu burung tidak menular antar manusia, tetapi wabah itu terjadi setiap tahun di peternakan di seluruh dunia. COVID-19 kemungkinan besar ditularkan dari hewan ke manusia di pasar hewan liar di Wuhan, Cina.

Sekarang kita bicara yang lebih rumit. Wabah ini bukan wabah besar terakhir yang akan kita temui. Akan ada lebih banyak wabah, dan akan ada lebih banyak epidemi. Itu bukan hal yang mungkin terjadi, hal itu pasti terjadi. Ini adalah hasil dari cara kita, selaku manusia,

berinteraksi dengan bumi kita.

Pilihan manusia membawa kita ke posisi di mana kita akan menemui lebih banyak wabah. Di antaranya perubahan iklim dan naiknya suhu bumi yang membuat bumi lebih 'ramah' terhadap virus dan bakteri.

Namun ini juga berkaitan dengan eksploitasi alam liar. Ketika kita membakar dan membajak hutan hujan Amazon sehingga kita mendapat lahan murah untuk beternak, ketika padang belukar terakhir di Afrika diubah menjadi peternakan, ketika hewan liar di Cina diburu hingga punah, manusia bersentuhan dengan populasi satwa liar yang belum pernah ditemui sebelumnya, dan populasi itu memiliki bermacam penyakit baru:

bakteri, virus - hal yang tidak siap kita hadapi. Kelelawar, khususnya, memiliki bakat sebagai inang berbagai penyakit yang bisa menular ke manusia. Namun kelelawar bukan satu-satunya hewan yang bisa menularkan. Jadi semakin kita membuat tempat terpencil menjadi terbuka, wabah akan terus berdatangan. Kita tidak bisa menghentikan wabah dengan karantina atau larangan bepergian. Itu reaksi pertama semua orang: Cegah orang-orang bepergian, hentikan penularan wabah. Namun kenyataannya sangat sulit menerapkan karantina yang baik. Sulit untuk membuat larangan bepergian. Bahkan di negara yang telah memerhatikan kesehatan masyarakat, seperti AS dan Korea Selatan, tidak bisa menerapkan larangan sedemikian cepat hingga dapat langsung menghentikan penyebaran wabah. Ada penjelasan logis dan medis untuk itu. Jika Anda melihat COVID-19 saat ini, ada saat di mana Anda terinfeksi, dan tidak menunjukan gejala apa pun setidaknya selama 24 hari. Jadi orang-orang bepergian membawa virus ini tanpa menunjukan gejala.

Mereka tidak akan dikarantina. Tidak ada yang tahu mereka perlu dikarantina. Karantina dan larangan bepergian juga memiliki dampak negatif. Manusia adalah makhluk sosial, yang melawan ketika ditahan di satu tempat, atau dipisahkan dari komunitasnya. Kami melihat saat wabah Ebola begitu karantina diterapkan, orang mencoba untuk menghindarinya. Saat pasien individu tahu ada peraturan karantina yang ketat, mereka tak akan mengunjungi fasilitas kesehatan karena takut akan sistem kesehatan yang ada, atau tidak sanggup membayar, dan tidak mau dipisahkan dari keluarga dan teman. Politikus atau pejabat pemerintah yang menghadapi kemungkinan karantina saat mereka bicara tentang wabah dan kasus,

mungkin akan menutup-nutupi informasi karena takut memicu perintah karantina.

Tentunya penyangkalan dan ketidakjujuran seperti ini yang membuat pelacakan wabah menjadi sangat sulit. Karantina dan larangan bepergian bisa diperbaiki, dan memang harus. Namun itu bukan satu-satunya pilihan, dan bukan pula pilihan terbaik dalam situasi seperti ini. Cara jangka panjang untuk membuat wabah tidak berakibat terlalu fatal adalah dengan membangun sistem kesehatan global

untuk mendukung fungsi fasilitas kesehatan setiap negara di dunia. Sehingga semua negara, bahkan yang miskin, dapat dengan cepat mengenali dan mengobati penyakit menular sejak dini. Cina mendapat banyak kritik atas penanganan COVID-19. Namun bagaimana jika COVID-19 pertama kali muncul di Republik Chad, yang hanya memiliki 3,5 dokter untuk setiap 100.000 orang? Bagaimana jika munculnya di Republik Demokratik Kongo, yang baru saja selesai merawat pasien Ebola terakhir? Kenyataannya, negara-negara ini tidak memiliki sumber daya untuk merespons penyakit menular, untuk merawat pasien, dan untuk melaporkan dengan cepat agar dapat membantu negara lain. Saya memimpin evaluasi pusat perawatan Ebola di Sierra Leone. Ternyata, dokter di Sierra Leone telah mengetahui adanya krisis Ebola dengan cepat. Pertama sebagai virus hemoragik menular yang berbahaya, dan kemudian sebagai virus Ebola. Namun tidak ada sumber daya untuk merespons temuan tersebut. Tidak cukup dokter maupun ranjang di rumah sakit, dan tidak ada informasi yang cukup tentang cara mengobati Ebola maupun cara mengendalikan penularannya. Sebelas orang dokter meninggal akibat Ebola di Sierra Leone. Sebelum krisis terjadi, Sierra Leone hanya punya 120 orang dokter. Sebagai perbandingan, Dallas Baylor Medical Center memiliki lebih dari 1.000 orang dokter dan staf.

Ketimpangan semacam inilah yang dapat membunuh manusia. Pertama, virus membunuh orang miskin saat wabah dimulai, dan kemudian membunuh orang di seluruh dunia saat wabah menyebar. Jika kita ingin memperlambat laju penyebaran wabah dan meminimalkan dampaknya, kita harus memastikan bahwa semua negara di dunia memiliki kapasitas untuk mengenali penyakit baru, cara mengobatinya, dan melaporkannya supaya dapat berbagi informasi. COVID-19 akan menjadi beban yang berat bagi sistem kesehatan kita. Saya tidak akan membicarakan tingkat kematian di sini, karena terus terang, belum ada kata sepakat tentang itu saat ini. Namun yang bisa disepakati ialah, sekitar 20% orang yang terinfeksi COVID-19 membutuhkan rawat inap di rumah sakit.

Sistem kesehatan Amerika Serikat saja hampir tidak bisa mengatasinya. Bagaimana dengan Meksiko? COVID-19 juga mengungkapkan beberapa kelemahan dalam rantai pasokan sistem kesehatan global.

Sistem pemesanan tanpa stok barang sangat sempurna dalam kondisi normal, tetapi di saat krisis, artinya kita tidak punya cadangan.

Jika suatu rumah sakit atau negara kehabisan masker wajah atau Alat Pelindung Diri, tidak ada barang yang tersedia untuk digunakan. Anda harus memesan melalui pemasok dan menunggu mereka memproduksinya, atau mengimpornya, yang biasanya dari Cina. Ini jeda waktu di saat seharusnya semua dilakukan dengan cepat. Jika saja kita sudah lebih siap menghadapi COVID-19,

Cina mungkin dapat lebih cepat mengenali wabah ini. Mungkin saja orang-orang yang terjangkit bisa lebih cepat dirawat tanpa harus membangun rumah sakit baru terlebih dahulu. Cina bisa membagikan informasi yang benar ke warganya sehingga tak ada rumor liar yang menyebar di media sosial. Cina juga bisa berbagi informasi dengan otoritas kesehatan global agar dapat melapor ke sistem kesehatan nasional dan melakukan persiapan saat virus menyebar. Sistem kesehatan nasional kemudian akan mampu melakukan pengadaan perlengkapan yang dibutuhkan dan melatih tenaga kesehatan untuk merawat dan mengendalikan infeksi. Kita akan memiliki protokol berbasis sains, untuk bertindak saat sesuatu terjadi, seperti saat ada pasien terinfeksi di dalam sebuah kapal pesiar. Kita akan memiliki informasi yang benar untuk disampaikan ke masyarakat, sehingga tidak akan ada insiden memalukan seperti xenofobia, contohnya orang yang diserang di Philadephia karena berwajah Asia. Meskipun semua hal tadi sudah kita penuhi, wabah tetap akan menyerang. Pilihan yang kita buat tentang cara kita hidup di bumi ini membuat hal itu tidak dapat dihindari. Sejauh ini, konsensus dari para ahli mengenai COVID-19 adalah: di Amerika Serikat dan dunia, keadaan akan semakin memburuk sebelum kemudian membaik. Kita sudah melihat kasus penularan pada manusia yang bukan berasal dari bepergian, namun muncul begitu saja dalam komunitas. Kita telah melihat orang tetap terjangkit COVID-19 walau kita tak tahu dari mana penularannya. Itu adalah tanda-tanda wabah ini semakin parah,

bukan wabah yang terkendali. Ini menyedihkan, tetapi tidak mengejutkan. Saat ahli kesehatan global berbicara tentang skenario virus baru, kejadian ini adalah salah satu skenario yang mereka pertimbangkan. Kita berharap bisa melaluinya dengan mudah. Namun saat para ahli berbicara tentang perencanaan viral, ini adalah kondisi saat para ahli memperkirakan bagaimana cara virus berpindah. Saya ingin mengakhiri dengan sebuah saran pribadi. Cuci tangan Anda! Seringlah mencuci tangan Anda! Saya tahu Anda sering mencuci tangan, karena Anda tidak jorok. Namun cucilah tangan Anda lebih sering. Atur waktu dan rutinitas dalam hidup untuk mendorong Anda mencuci tangan. Cucilah tangan Anda setiap kali masuk dan keluar bangunan. Cucilah tangan Anda setiap kali mulai dan selesai pertemuan. Lakukan ritual terkait mencuci tangan. Bersihkan ponsel Anda. Anda terus-menerus menyentuh ponsel itu dengan tangan yang kotor. Saya tahu Anda membawanya ke kamar mandi. (Tawa) Jadi, bersihkan ponsel Anda dan pertimbangkan untuk tak terlalu sering memakainya di tempat umum. Mungkin TikTok dan Instagram dibuka di rumah saja? Jangan sentuh muka Anda. Jangan gosok mata Anda. Jangan menggigiti kuku Anda. Jangan lap hidung Anda dengan punggung tangan. Jangan lakukan sama sekali, karena itu jorok. (Tawa) Jangan pakai masker wajah. Peruntukan masker wajah adalah bagi orang sakit dan tenaga kesehatan. Jika Anda sakit, masker wajah menahan batuk dan bersin Anda dan melindungi orang di sekitar Anda. Jika Anda adalah tenaga kesehatan, masker wajah adalah bagian dari seperangkat alat yang disebut Alat Perlindungan Diri,

yang digunakan agar Anda dapat merawat pasien dan tidak tertular penyakit. Jika Anda orang yang sehat, menggunakan masker wajah hanya akan membuat wajah Anda berkeringat. (Tawa) Biarkan masker wajah tetap ada di toko-toko untuk para dokter, perawat, dan orang yang sakit. Jika Anda merasa memiliki gejala COVID-19, tetap di rumah, telepon dokter Anda untuk berkonsultasi. Jika Anda didiagnosis dengan COVID-19, ingatlah, biasanya hanya sakit ringan. Jika Anda seorang perokok, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berhenti. Jika Anda seorang perokok,

saat ini selalu menjadi saat yang tepat untuk berhenti. Namun jika Anda perokok dan Anda khawatir dengan COVID-19, saya jamin berhenti merokok adalah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk melindungi diri Anda dari dampak terburuk COVID-19. COVID-19 itu mengerikan. Bahkan saat semua berita yang ada sudah terdengar mengerikan. Banyak pilihan buruk tetapi menarik untuk menghadapinya: kepanikan, xenofobia, agorafobia, tindakan sewenang-wenang, serta kebohongan yang menyepelekan, yang membuat kita berpikir bahwa kemarahan, kebencian, atau kesepian adalah jalan keluar dari wabah ini. Padahal bukan itu. Hal-hal ini hanya akan membuat kita tidak siap. Ada pilihan lain yang lebih membosankan, namun lebih berguna yang bisa kita lakukan saat terjadi wabah. Hal-hal seperti meningkatkan pelayanan kesehatan di setiap tempat; berinvestasi pada infrastruktur kesehatan dan pengawasan penyakit sehingga kita tahu kapan penyakit baru muncul; membangun sistem kesehatan dunia; memperkuat rantai pasokan agar selalu siap saat terjadi keadaan darurat; dan pendidikan yang lebih baik, sehingga kita mampu bicara tentang wabah penyakit dan risiko matematis, tanpa kepanikan yang membabi-buta. Kita butuh dibimbing oleh kesetaraan, karena dalam situasi seperti ini, kesetaraan sebenarnya demi kepentingan kita sendiri. Terima kasih telah mendengarkan saya berbicara hari ini, dan bisakah saya menjadi yang pertama berkata: cucilah tangan Anda saat meninggalkan ruangan ini.

(Tepuk tangan)