Suatu hari saya sedang berjalan-jalan di pasar bersama istri saya dan seseorang menyodorkan kerangkeng ke hadapan saya dan di antara jerujinya ada dua mata tersedih yang pernah saya lihat ternyata seekor bayi orangutan yang sakit, baru kali itu saya lihat. Malam itu saya kembali ke pasar dalam kegelapan dan saya dengar "uhh, uhh" dan sudah pasti saya temukan bayi orangutan sekarat di tumpukan sampah tentunya kerangkengnya tidak ikut dibuang saya pungut bayi kecil itu memijatnya, memaksanya minum sampai akhirnya dia mulai bernafas secara normal
Ini Uce Sekarang dia tinggal di hutan di Sungai Wain dan ini Matahari, anak keduanya yang kebetulan juga anak dari orangutan kedua yang saya selamatkan, Dodoy Peristiwa itu mengubah hidup saya secara dramatis dan hari ini, saya punya hampir 1000 ekor bayi di dua pusat pemeliharaan saya
Jangan. Jangan. Jangan. Salah. Ini mengerikan. Ini bukti kegagalan kita menyelamatkan mereka di alam liar. Ini buruk. Ini hanyalah bukti kegagalan setiap orang untuk melakukan hal yang benar. Merawat lebih banyak orangutan daripada gabungan seluruh kebun binatang di dunia seperti korban untuk tiap bayi yang lahir, enam sudah menghilang dari hutan
Perusakan hutan, terutama untuk menanam kelapa sawit untuk menyediakan bahan bakar nabati bagi negara-negara Barat adalah penyebab semua masalah ini. Dan hutan ini adalah hutan rawa gambut di atas lapisan gambut setebal 20 meter tumpukan bahan organik terbesar di dunia Ketika Anda membukanya untuk menanam sawit Anda menciptakan gunung api CO2 yang melepaskan begitu banyak CO2 sehingga kini negara saya menjadi pelepas gas rumah kaca terbanyak ketiga dunia setelah China dan Amerika Serikat, meski kami tak punya industri sama sekali. Hanya karena perusakan hutan.
Berikut ini adalah gambar-gambar mengerikan. Saya tak akan bicara banyak tentang hal ini, tapi ada begitu banyak anggota keluarga Uce yang kurang beruntung karena tinggal di hutan itu yang masih harus mengalami proses (perusakan) itu dan saya tidak tahu lagi harus menempatkan mereka di mana. Karenanya saya putuskan bahwa saya harus menemukan jawaban untuk Uce tapi jawaban itu juga akan bermanfaat bagi masyarakat yang berupaya mengeksploitasi hutan-hutan tersebut, yang berupaya mengambil kayu sampai batang terakhir dan, karenanya, juga menyebabkan hilangnya habitat dan satwa-satwa yang menjadi korban.
Maka saya membuat tempat bernama Samboja Lestari idenya adalah, kalau saya bisa melakukan ini di tempat yang paling parah di mana tidak ada yang tersisa sama sekali, tak seorang pun akan bisa berkelit, "Iya sih, tapi... " Tidak. Semua harus bisa mengikuti (upaya) ini.
Jadi ini Kalimantan Timur. Inilah tempat saya memulainya. Seperti Anda lihat hanya ada tanah kuning tak ada yang tersisa, hanya ada sedikit alang-alang. Tahun 2002 kami mendapati 50% masyarakat di sana menganggur. Angka kejahatan sangat tinggi. Masyarakat menghabiskan banyak uang untuk urusan kesehatan dan air minum. Tak ada produktifitas pertanian yang tersisa. Ini adalah daerah termiskin di seluruh propinsi dan kepunahan total kehidupan liar. Tempat ini bagaikan gurun pasir biologis. Ketika saya berdiri di tengah rerumputan, rasanya panas -- bahkan tak ada bunyi serangga -- hanya ada rumput bergoyang.
Meski begitu, empat tahun kemudian kami berhasil menciptakan lapangan kerja untuk sekitar 3000 orang Iklimnya pun sudah berubah. Saya akan perlihatkan pada Anda: tidak ada lagi banjir, kebakaran. Daerah ini tidak lagi menjadi yang termiskin, dan ada perkembangan besar dalam keragaman hayati. Kami punya lebih dari 1000 spesies, dan 137 spesies burung sampai hari ini. Kami punya 30 spesies reptil.
Jadi apa yang terjadi di sini? Kita menciptakan kegagalan ekonomi di hutan ini. Jadi sebenarnya keseluruhan proses perusakan sudah agak melambat dibanding dengan yang terjadi sekarang pada perkebunan sawit. Tapi kami menyaksikan hal yang sama -- ada cara bertani membabat dan membakar masyarakat tidak mampu membeli pupuk jadi mereka bakar pepohonan dan separuh dari mineral yang ada di situ. Kebakaran menjadi lebih sering dan setelah beberapa waktu Anda cuma punya areal tanah di mana tak ada lagi kesuburan yang tersisa. Tidak ada satu pun pohon tersisa. Meski demikian, di tempat ini, di padang rumput ini di mana Anda bisa melihat kantor kami yang pertama di bukit itu, empat tahun kemudian, ada sebuah lingkatan hijau di permukaan tanah ...
Dan ada hewan-hewan, dan masyarakat yang senang, dan ada nilai ekonomi.
Bagaimana ini mungkin? Sederhana saja bila Anda melihat langkah-langkahnya: kami membeli tanahnya, kami mengatasi apinya, dan baru setelah itu, kami memulai penghutanan kembali dengan cara menggabungkan pertanian dengan perhutanan Setelah itu kami menyiapkan infrastruktur dan pengelolaan dan keuangan. Tapi kami memastikan bahwa dalam setiap langkah masyarakat setempat akan sepenuhnya dilibatkan agar tidak ada kekuatan luar yang dapat mencampuri proses ini. Dan menjadikan masyarakat sebagai pembela hutan tersebut. Jadi kami berlakukan prinsip "masyarakat, keuntungan, planet", tapi kami melakukannya dengan tambahan -- status hukum yang pasti -- karena bila hutan tetap dimiliki oleh negara orang akan bilang hutan ini milik saya, milik semua orang. Lalu kami menerapkan prinsip-prinsip lain seperti transparansi, pengelolaan profesional, hasil terukur, skalabilitas, pengulangan, dan lain-lain
Yang kami lakukan adalah merumuskan resep bagaimana berangkat dari situasi awal di mana Anda tidak punya apapun menuju situasi sasaran. Anda merumuskan resep berdasarkan faktor-faktor yang dapat Anda kendalikan. Apakah itu keahliannya atau pupuknya atau pilihan tanamannya. Lalu Anda lihat hasilnya dan mulai mengukur apa yang dihasilkan. Nah dalam resep ini Anda juga punya biaya. Anda juga tahu berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan. Kalau Anda bisa menempatkan resep ini di peta di tanah berpasir, di tanah berlempung, di lereng curam, di tanah datar, Anda merangkai bermacam-macam resep itu, bila Anda menggabungkannya, maka akan didapatkan sebuah rencana usaha, rencana kerja, dan Anda bisa mengoptimalisasinya untuk jumlah tenaga kerja yang tersedia atau jumlah pupuk yang dimiliki, dan Anda bisa melakukannya.
Seperti inilah wujudnya dalam pelaksanaan. Ada rerumputan yang perlu dibasmi. Rerumputan ini mengeluarkan zat penghambat pertumbuhan dari akarnya pohon Akasia nilai ekonominya sangat rendah tapi kami membutuhkannya untuk memulihkan iklim mikro, untuk melindungi tanah dan untuk melenyapkan ilalang. dan setelah delapan tahun mungkin akasia akan menghasilkan kayu, bila Anda bisa mengawetkannya dengan benar, yang dapat kita lakukan dengan kupasan bambu. Ini adalah teknik kuno membangun kuil dari Jepang tapi bambu sangat rentan dilalap api. Jadi kalau kami menanamnya di tahap awal kami akan menanggung resiko amat tinggi untuk kehilangan segalanya lagi. Jadi kami menanamnya pada tahap lanjut, sepanjang aliran air untuk menyaring air, menyediakan bahan baku yang bisa dipanen bersamaan dengan kayu dari pohon akasia.
Jadi idenya adalah: bagaimana menyatukan rangkaian-rangkaian ini, dalam suatu tempat, waktu, dan dengan keterbatasan sumber daya yang ada. Maka kami menanam pohon-pohon tersebut, kami menanam nanas dan kacang-kacangan dengan jahe di antaranya, agar pepohonan berkurang saingannya, pupuk tanamannya -- bahan organik sangat berguna untuk tanaman pertanian, untuk masyarakat, tapi juga membantu pepohonan, para petani mendapat tanah cuma-cuma sistem ini menghasilkan pemasukan lebih cepat, urangutannya mendapat makanan sehat dan kami dapat mempercepat regenerasi ekosistem sambil menghemat uang juga.
Indah sekali. Teori yang hebat.
Tapi apakah betul semudah itu? Tidak juga, karena bila Anda melihat apa yang terjadi tahun 1998, kebakaran mulai terjadi. Ini adalah area seluas sekitar 50 juta hektar. Januari. Februari. Maret. April. Mei. Kami kehilangan 5.5 juta hektar hanya dalam beberapa bulan. Ini karena ada 10.000 titik api bawah tanah yang juga Anda temui di Pennsylvania di Amerika Serikat sini. Dan begitu tanah mengering, Anda memasuki musim kemarau, tanah merekah, oksigen masuk ke tanah, lidah api menyala dan masalahnya mulai kembali.
Jadi bagaimana memutus lingkaran itu? Api adalah masalah terbesar. Beginilah wujudnya selama tiga bulan. Selama tiga bulan, lampu otomatis di luar tak pernah padam karena selalu gelap. Kami gagal panen, tak ada anak yang naik berat badannya selama setahun lebih. Mereka kehilangan 12 poin IQ, benar-benar malapetaka bagi orangutan dan manusia. Jadi api benar-benar prioritas pertama yang harus ditangani. Itulah mengapa saya menempatkannya sebagai persoalan utama. Dan Anda memerlukan masyarakat setempat untuk itu karena lahan ilalang ini, begitu mulai terbakar, api cepat menyebar seperti badai dan Anda kehilangan sisa-sisa abu dan nutrisi tanah karena hujan akan menghanyutkannya ke laut dan menghancurkan terumbu karang di laut.
Jadi Anda harus melakukannya bersama masyarakat setempat. Itu adalah solusi jangka pendek tapi Anda juga perlu solusi jangka panjang. Jadi yang kami lakukan adalah membuat lingkaran pohon aren di sekeliling area. Pohon aren ternyata tahan api dan juga tahan banjir / genangan. Dan memberi banyak penghasilan bagi masyarakat setempat.
Beginilah wujudnya: masyarakat harus menyadap niranya dua kali sehari, cukup sayatan setebal 1mm dan yang dipanen hanya air niranya, karbon dioksida, curah hujan dan sedikit sinar matahari. Pada prinsipnya, Anda menjadikan pohon-pohon tersebut sel tenaga surya biologis. Dan Anda dapat menghasilkan begitu banyak energi darinya karena aren menghasilkan 3x lebih banyak energi per hektar per tahunnya karena Anda dapat menyadapnya setiap hari. Anda tidak perlu memanen organ tanaman atau bagian aren lainnya.
Jadi ini adalah kombinasi di mana kami memiliki potensi genetik di daerah tropis yang masih belum dieksploitasi, dan dikombinasikan dengan teknologi tapi urusan hukum juga harus dipastikan beres. Jadi kami membeli tanah itu dan di sinilah kami memulai proyek kami di tengah negeri antah-berantah. Dan bila Anda melihat lebih dekat Anda dapat melihat bahwa seluruh area ini terbagi ke dalam alur-alur yang melalui berbagai tipe tanah, dan kami sebenarnya memantau, mengukur setiap batang pohon dalam area 2000 hektar ini, Dan hutan ini agak berbeda.
Yang saya lakukan hanyalah mencontoh alam, dan alam tidak mengenal monokultur, hutan alamiah punya banyak lapisan. Artinya bahwa baik di dalam maupun di atas tanah hutan dapat memanfaatkan cahaya yang tersedia sebaik-baiknya, dapat menyimpan lebih banyak karbon dalam sistemnya, berfungsi lebih banyak, tapi lebih rumit, tidak sesederhana itu dan Anda harus bekerja sama dengan masyarakat.
Jadi kami juga melakukan, seperti alam, kami menanam pepohonan yang tumbuh cepat dan di bawahnya kami tanam pepohonan hutan utama yang tumbuh lebih lambat dengan keragaman tinggi yang dapat memanfaatkan cahaya seoptimal mungkin dan yang juga sama pentingnya: masukkan jejamuran ke dalam sistem itu yang akan tumbuh pada sisa dedaunan, mengembalikan nutrisi ke akar-akar pohon yang merontokkan daun tadi dalam 24 jam. Dan mereka jadi seperti pompa nutrisi dan Anda juga perlu bakteri untuk mengikat nitrogen, dan tanpa mikro organisme itu, Anda tidak akan memperoleh apapun.
Lalu kami mulai menanam -- hanya 1000 pohon setiap harinya. Kami dapat menanam jauh lebih banyak, tapi kami tak mau itu karena kami ingin menjaga jumlah lapangan pekerjaan Kami tidak ingin kehilangan masyarakat yang akan bekerja di perkebunan itu. Dan kami melakukan banyak pekerjaan di sini. Kami gunakan tanaman-tanaman indikator untuk mengenali jenis tanah, atau sayuran atau pepohonan apa yang dapat tumbuh di sini. Dan kami memonitor setiap batang pohon tersebut dengan menggunakan satelit.
Beginilah wujudnya dalam kenyataan, terlihat lingkaran tak beraturan yang mengelilingi, dengan jalur pohon aren selebar 100 meter yang dapat memberi penghasilan untuk 648 kepala keluarga. Ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan area.
Pembibitan di sini juga agak berbeda. Bila Anda menghitung jumlah spesies pohon yang ada di Eropa, misalnya, dari Pegunungan Ural sampai ke Inggris, Anda tahu ada berapa? 165. Di pembibitan ini, kami akan menumbuhkan 10 kali lebih banyak jumlah spesies. Bisa Anda bayangkan? Anda benar-benar harus tahu Anda bekerja dengan apa, tapi keragaman inilah yang memungkinkan proyek ini berjalan. Bahwa Anda bisa memulai dari nol dengan menanam sayuran dan pepohonan, atau langsung pepohonan, di jalur-jalur di tengah ilalang, membuat zona penyangga, membuat kompos, dan lalu memastikan bahwa pada setiap tahapan pertumbuhan hutan selalu ada panenan yang dapat dimanfaatkan. Di awal, mungkin nanas dan kacang-kacangan dan jagung. Di tahap dua, akan ada pisang dan pepaya. Selanjutnya, akan ada kakao dan cabai. Dan kemudian perlahan-lahan, pepohonan mulai mengambil alih, menyediakan hasil bumi, mulai dari buah-buahan, kayu, kayu bakar. Dan pada akhirnya, hutan aren mengambil alih dan menyediakan penghasilan tetap bagi masyarakat.
Di kiri atas, di bawah jalur-jalur hijau itu, Anda lihat beberapa titik putih -- itu adalah sebatang tanaman nanas yang terlihat dari angkasa. Dan di area itu kami mulai menumbuhkan sejumlah pohon akasia yang tadi Anda lihat. Nah ini setelah satu tahun. Dan ini setelah dua tahun. Dan jadi hijau, bila Anda lihat dari menara, ini ketika kami mulai memberantas ilalang. Kami menanam bibit-bibit dicampur pisang, pepaya, semua tanaman pertanian untuk masyarakat setempat. tapi pepohonan juga tumbuh cepat di antara mereka. Dan tiga tahun kemudian, 137 spesies burung.
Kami berhasil menurunkan suhu udara 3 sampai 5 derajat Celsius. Kelembaban udara naik 10 %. Naungan awan -- saya akan perlihatkan pada Anda -- juga naik. Curah hujan naik. Dan semua spesies ini mendatangkan pemasukan.
Penginapan ekologis yang saya dirikan di sini, tiga tahun sebelumnya hanya lapangan kosong yang menguning. Transponder ini kami operasikan bersama Badan Ruang Angkasa Eropa yang memberi kami manfaat karena tiap satelit yang lewat untuk mengkalibrasi sendiri selalu mengambil foto. Kami gunakan foto satelit itu untuk menganalisa jumlah karbon dan perkembangan hutan, dan kami dapat memantau setiap pohon dari foto satelit tersebut melalui perusahaan kami, kami juga bisa menggunakan data-data ini sekarang untuk menyediakan rumus dan teknologi yang sama untuk daerah-daerah lain. Kita sebenarnya sudah punya (datanya) pada Google Earth Kalau saja Anda mau gunakan sebagian dari teknologi Anda untuk menempatkan alat pelacak di setiap truk dan menggabungkannya dengan Google Earth, Anda bisa langsung tahu minyak sawit mana yang diproduksi secara lestari, perusahaan mana yang mencuri kayu, dan Anda dapat mengurangi begitu banyak karbon dibandingkan dengan cara-cara menghemat energi di sini.
Jadi inilah area Samboja Lestari, Anda mengukur bagaimana pepohonan tumbuh kembali, dan Anda juga dapat mengukur kembalinya keragaman hayati. Dan keragaman hayati adalah petunjuk seberapa jauh terdapat keseimbangan air, berapa banyak tanaman obat yang terdapat di sini. Dan pada akhirnya saya menjadikannya mesin hujan karena hutan ini kini menciptakan hujannya sendiri. Kota Balikpapan di dekatnya punya masalah air yang parah, kota itu 80%nya dikelilingi air laut, dan sudah terjadi banyak intrusi air laut di sana. Mari kita lihat awan-awan di atas hutan ini, kita lihat di atas area penghutanan kembali, area semi terbuka, dan area terbuka.
dan lihatlah gambar-gambar ini. Saya akan menayangkannya secara cepat. Di daerah tropis, tetes hujan tidak dibentuk dari kristal es, seperti halnya di daerah beriklim sedang, Anda memerlukan pepohonan dengan zat tertentu, zat kimia yang keluar dari dedaunan pepohonan yang memicu pembentukan tetes hujan. Jadi Anda menciptakan tempat yang sejuk di mana awan dapat terkumpul, dan Anda punya pepohonan untuk memicu jatuhnya hujan. Dan lihatlah, sekarang ada 11.2 persen lebih banyak awan, dalam waktu tiga tahun. Bila Anda mengamati curah hujannya, ternyata naik juga sebanyak 20% Mari kita lihat tahun berikutnya, dan Anda bisa lihat bahwa kecenderungannya berlanjut. Di mana awalnya kami hanya punya sedikit area dengan curah hujan tinggi, sekarang wilayah itu meluas dan makin tinggi. Dan bila kita lihat pola curah hujan di atas Samboja Lestari, dulunya daerah itu adalah yang terkering, tapi kini Anda lihat secara konsisten, terbentuknya puncak hujan di situ. Jadi sebenarnya Anda bisa mengubah iklim. Ketika ada angin musiman tentu saja efek tersebut menghilang, tapi setelah itu, begitu anginnya stabil kembali, Anda lihat lagi bahwa puncak curah hujan kembali ke atas area ini.
Jadi berputus asa bukanlah langkah yang benar, karena kita benar-benar bisa membuat perbedaan bila Anda mengintegrasikan bermacam-macam teknologi. Dan ada baiknya memiliki ilmu pengetahuan, tapi semuanya lebih banyak bergantung pada faktor manusia, pada didikan Anda. Kami memiliki sekolah pertanian. Tapi cerita sukses sebenarnya tentu saja adalah band kami, karena bila ada bayi lahir, kami akan main, jadi setiap orang adalah keluarga dan Anda tidak akan macam-macam terhadap keluarga Anda.
Beginilah rupanya. Kami memiliki jalan yang mengelilingi area itu, yang juga menyalurkan listrik dan air dari area kami sendiri. Kami punya zona pohon aren, dan kemudian pagar pohon salak yang berduri untuk memisahkan orangutan -- yang kami beri tempat tinggal di tengah -- dari permukiman masyarakat. Dan di dalam, kami memiliki area penghutanan kembali sebagai bank gen untuk menjaga agar semuanya tetap hidup, karena dalam 12 tahun terakhir tak satupun bibit tanaman keras tropis bisa tumbuh karena iklim yang memicunya telah lenyap. Seluruh biji-bijinya termakan.
Jadi kami melakukan pemantauan di dalam dari menara, satelit, pesawat ringan. Setiap keluarga yang sudah menjual tanahnya sekarang mendapatkan kembali sebagian tanahnya. Dan tanah itu punya dua pagar bagus berupa pohon kayu keras tropis ada juga pohon peneduh yang ditanam pada tahun pertama, lalu di bawahnya Anda tanam pohon aren, dan kemudian tanaman pagar berduri. Setelah beberapa tahun, Anda dapat menebang sebagian pohon peneduh, masyarakat mendapat kayu akasia yang sudah diawetkan dengan kupasan bambu, dan mereka bisa mendirikan rumah, mereka punya cukup kayu bakar. Dan mereka mulai mendapat hasil dari pepohonan sebanyak yang mereka inginkan Mereka memperoleh cukup penghasilan untuk tiga keluarga. Tapi apapun yang Anda lakukan dalam program itu, semuanya harus sepenuhnya didukung oleh masyarakat, yang artinya Anda harus menyesuaikannya dengan nilai budaya setempat. Tak ada satu rumusan sederhana untuk satu tempat.
Anda juga harus memastikan bahwa sistem ini sulit untuk dikorupsi, harus transparan. Seperti di sini di Samboja Lestari, kami membagi lingkaran tersebut ke dalam kelompok berisikan 20 keluarga. Bila salah satu warga melanggar kesepakatan, dan menebang pepohonan, 19 anggota lainnya harus memutuskan apa yang akan dikenakan padanya. Bila kelompok tidak bertindak, 33 kelompok lainnya harus memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap kelompok itu yang tidak tunduk pada kesepakatan menguntungkan yang ditawarkan pada mereka.
Di Sulawesi Utara ada sistem seperti koperasi, mereka punya budaya yang demokratis jadi Anda bisa manfaatkan sistem peradilan setempat untuk melindungi sistem Anda. Jadi kesimpulannya, bila Anda mengamatinya, di tahun pertama masyarakat dapat menjual tanahnya untuk mendapat penghasilan, tapi mereka memperoleh pekerjaan kembali untuk konstruksi dan penghutanan kembali, merawat orangutan, mereka dapat menggunakan kayu sisa untuk membuat kerajinan. Mereka juga mendapatkan tanah cuma-cuma di antara pepohonan, di mana mereka dapat bercocok tanam. Lalu mereka bisa menjual sebagian buah-buahan ke proyek orangutan. Mereka mendapat material untuk membangun rumah, kontrak penjualan gula sehingga kami bisa menghasilkan ethanol dan energi dalam jumlah besar secara lokal. Mereka mendapatkan keuntungan lain dari alam, uang, mereka mendapatkan pendidikan, benar-benar menguntungkan.
Dan semuanya berlandaskan satu hal pokok -- pastikan bahwa hutan tersebut tetap ada di sana. Jadi bila kita mau menolong para orangutan -- sebagaimana menjadi niat awal saya -- kita harus pastikan bahwa masyarakat setempatlah yang mendapat manfaatnya. Nah saya pikir kunci utama dalam melakukan hal ini, sebagai jawaban sederhana, adalah integrasi. Saya harap -- bila Anda ingin tahu lebih jauh, Anda dapat membaca lebih banyak.
You can share this video by copying this HTML to your clipboard and pasting into your blog or web page. This video will play with subtitles.
You either have JavaScript turned off or have an old version of the Adobe Flash Player. To view this rating widget you
need to get the latest Flash player.
If your browser allows only "trusted sites" to execute Javascript, you should add the "googleapis.com" domain to your whitelist to allow our Flash detection to work properly.
Got an idea, question, or debate inspired by this talk? Start a TED Conversation.
Dengan merangkai teka-teki ekologis yang rumit, ahli biologi Willie Smits menemukan cara untuk menumbuhkan kembali hutan hujan yang gundul di Kalimantan, menyelamatkan orangutan lokal -- dan menciptakan cara menakjubkan untuk memulihkan ekosistem yang rapuh.
Willie Smits has devoted his life to saving the forest habitat of orangutans, the "thinkers of the jungle." As towns, farms and wars encroach on native forests, Smits works to save what is left. Full bio ยป
Translated into Indonesian by Budianastas Prastyatama
Reviewed by Dani Satyawan
Comments? Please email the translators above.
23:46 Posted: Sep 2008
Views 261,902 | Comments 49
17:25 Posted: Apr 2007
Views 1,030,292 | Comments 295
12:53 Posted: Oct 2006
Views 274,401 | Comments 51
Just follow the guidelines outlined under our Creative Commons license.
This comment will be attributed to . Not ? Sign Out.