Hari ini, saya akan bawa Anda keliling dunia dalam 18 menit Pusat operasi saya di Amerika Tapi mari kita mulai dari belahan dunia yang lain di Kyoto, Jepang, saya tinggal dengan sebuah keluarga Jepang waktu itu saya sedang menyelesaikan disertasi saya 15 tahun yang lalu. Waktu itu saya tahu akan mengalami kesulitan karena beda budaya dan bahasa, tapi kesulitan itu muncul di saat yang tidak disangka-sangka.
Hari pertama saya di sana, saya pergi ke rumah makan dan memesan secangkir teh hijau manis. Setelah tertegun beberapa saat, pelayannya berkata, "Biasanya teh hijau tidak pakai gula." "Saya tahu." jawab saya. "Saya tahu tentang kebiasaan itu. Tapi saya sedang ingin yang manis." Kemudian dia menjawab dengan nada yang jauh lebih formal tapi intinya sama saja. "Biasanya, gula tidak dicampurkan ke dalam teh hijau." "Iya, saya tahu." Kata saya "orang Jepang tidak mencampur gula dengan teh hijau. tapi saya mau mencampurkan gula ke teh hijau saya." (Suara tawa) Kaget dengan kengototan saya, pelayan itu berkonsultasi dengan manajernya. Selang beberapa saat, terjadi diskusi panjang, sebelum akhirnya sang manajer datang dan memberitahu, "Maaf sekali. Kami tidak punya gula." (Suara tawa) Karena saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan, saya ganti pesan kopi saja, yang langsung disediakan si pelayan. Lengkap dengan tatakannya di mana tersedia dua bungkus kecil gula.
Kegagalan saya memesan secangkir teh hijau manis bukan karena kesalahpahaman yang sederhana. Tapi karena perbedaan mendasar tentang konsep pilihan di antara kami Dari sudut pandang orang Amerika, ketika pelanggan meminta sesuatu yang masuk akal berdasarkan seleranya, dia berhak mendapatkan apa yang diinginkannya. Cara Amerika, mengutip Burger King. "Terserah Anda saja." karena, mengutip Starbucks, "kebahagiaan itu pilihan Anda." (Suara tawa) Tapi dari sudut pandang orang Jepang, adalah kewajiban mereka untuk meluruskan selera yang jelek -- (Suara tawa) dalam hal ini, melindungi gaijin udik ini -- dari pilihan yang salah. Kalau mau jujur : apa yang saya minta memang di luar kebiasaan budaya pada umumnya, dan mereka mati-matian menyelamatkan muka saya.
Orang Amerika cenderung meyakini bahwa mereka telah mencapai puncak tertinggi dalam mengamalkan pilihan. Mereka pikir konsep pilihan dari kacamata Amerika ini adalah yang paling cocok menjawab kebutuhan yang wajar dan universal bagi semua orang. Sayangnya, keyakinan ini didasarkan pada sejumlah asumsi yang tidak selalu benar di banyak negara, di banyak budaya. Kadang-kadang keyakinan ini juga salah bahkan bagi orang Amerika sendiri. Saya akan diskusikan beberapa asumsi yang ada dan masalah-masalah yang timbul sebagai akibatnya. Dengan ini, saya harap Anda mulai merenungkan asumsi-asumsi yang pernah Anda sendiri dan bagaimana asumsi itu dibentuk oleh latar belakang Anda.
Asumsi pertama: kalau pilihan itu berdampak pada Anda, maka Anda sendiri yang harus memilih. Ini satu-satunya cara untuk memastikan agar selera dan kepentingan Anda benar-benar diperhatikan. Ini penting kalau mau berhasil. Di Amerika, titik berat utama sebuah pilihan ada pada individu itu sendiri Orang harus memilih untuk dirinya sendiri, kadang sampai bersikukuh, tidak peduli apa yang orang lain inginkan atau sarankan. Namanya "Jujur pada diri sendiri." Tapi apa benar semua orang cocok dengan gaya memilih seperti ini? Mark Lepper dan saya pernah melakukan penelitian untuk menemukan jawaban dari pertanyaan ini. Pada satu penelitian, yang kami lakukan di Japantown, San Francisco, kami kumpulkan anak-anak keturunan Amerika dan Asia berumur 7-8 di sebuah laboratorium, lalu kami bagi mereka jadi tiga kelompok.
Pada kelompok pertama, setelah disapa oleh nona Smith, mereka mendapat 6 tumpuk permainan menyusun kata. Anak-anak itu diberitahu mereka boleh memilih tumpukan yang mana saja. Bahkan mereka boleh memilih spidol apa yang dipakai untuk menuliskan jawaban mereka. Saat kelompok kedua yang datang kemudian, mereka dibawa ke ruang yang sama, ditunjukkan permainan yang sama, tapi kali ini nona Smith memerintahkan mereka untuk mengerjakan tumpukan yang mana dan spidol yang mana yang harus dipakai, Ketika tiba giliran kelompok ketiga mereka diberitahu tumpukan permainan dan spidolnya sudah dipilihkan ibu mereka masing-masing. (Suara tawa) Yang anak-anak itu tidak ketahui Anak-anak yang diperintah baik oleh nona Smith maupun ibu mereka masing-masing, sebetulnya melakukan permainan yang persis sama, dengan yang dipilih secara bebas oleh kelompok pertama.
Dengan prosedur ini, kita bisa memastikan semua anak-anak dalam tiap kelompok mengerjakan permainan yang sama, sehingga mudah untuk membandingkan kinerja mereka. Variasi yang begitu sederhana dari cara kita melakukan ini menghasilkan perbedaan yang mengejutkan dalam kinerja mereka. Anak-anak keturunan Amerika, menyelesaikan dua setengah kali lebih banyak permainan ketika mereka boleh memilih sendiri, dibandingkan ketika permainannya dipilihkan oleh nona Smith atau Ibu mereka masing-masing. Jadi tidak berpengaruh siapa yang memilihkan, kalau pekerjaan didiktekan kepada mereka kinerja mereka menurun. Bahkan, beberapa anak secara fisik menunjukkan rasa malu ketika diberitahu ibu mereka yang memilihkan. (Suara tawa) Seorang gadis bernama Mary berkata, "Anda bertanya ke ibu saya?"
Sebaliknya, Anak-anak keturunan Asia kinerjanya paling baik ketika mereka yakin ibu mereka yang memilihkan, kinerjanya agak turun ketika mereka bebas memilih, dan paling parah ketika dipilihkan oleh nona Smith. Seorang gadis bernama Natsumi bahkan menghampiri nona Smith waktu pulang menarik roknya dan berkata "Bisa tolong beritahu mami nanti kalau saya sudah kerjakan persis yang diminta?" Generasi pertama anak-anak imigran sangat dipengaruhi konsep memilih orang tua mereka. Bagi mereka, pilihan itu bukan sekadar cara menyatakan dan menegaskan siapa mereka, tapi usaha menjadi bagian dari komunitas dan keselarasan dengan tunduk pada pilihan orang-orang yang mereka percayai dan hormati. Bahkan ketika berusaha jujur pada diri sendiri, diri yang dimaksud, hampir selalu terdiri dari, bukan individu tapi kolektif. Keberhasilan juga tentang memuaskan orang-orang dekat mereka selain untuk memuaskan diri mereka sendiri. Atau, dengan kata lain selera orang per orang dibentuk oleh selera orang-orang tertentu lainnya.
Jadi asumsi bahwa kinerja seseorang itu terbaik ketika orang itu bebas memilih hanya berlaku jika orang itu tidak punya orang dekat. Di mana sebaliknya, ketika dua atau lebih orang merasa bahwa pilihan dan hasil pilihannya dengan kuat saling mempengaruhi, mereka bisa mempengaruhi keberhasilan masing-masing kalau mereka memilih secara kolektif. Memaksa mereka memilih dengan seleranya sendiri, bisa merusak baik kinerja maupun hubungan mereka. Padahal justru itulah yang dituntut paradigma orang Amerika. Paradigma itu nyaris tidak peduli akan hubungan dengan orang lain atau kenyataan bahwa orang bisa salah. Paradigma itu menganggap pilihan sebagai tindakan pribadi dan merupakan ciri diri. Mereka yang tumbuh dengan paradigma itu mungkin terpacu oleh paradigma itu. Tapi adalah salah kalau kita berasumsi bahwa tekanan ketika harus memilih sendiri itu hal yang wajar buat semua orang.
Asumsi kedua yang menggambarkan opini orang Amerika tentang pilihan bunyinya kurang lebih seperti ini. Makin banyak pilihan, makin besar peluang orang menemukan pilihan terbaik Jadi ayo Walmart pamerkan 100.000 macam produkmu, silakan Amazon dengan 27 juta bukunya dan Match.com yang -- berapa sekarang ? -- 15 juta calon kencan. Tidak mungkin tidak ada yang tidak cocok. Mari kita uji asumsi ini dengan menuju ke Eropa timur. Di sana, saya mewawancarai beberapa orang yang dulu hidup di negara-negara komunis, yang semuanya menghadapi tantangan ketika pindah ke masyarakat yang lebih demokratis dan kapitalis. Salah satu pencerahan paling menarik datang bukan dari sesi tanya jawabnya, tapi justru muncul waktu basa basi. Ketika peserta datang untuk diwawancara saya tawarkan satu set minuman, Coke, Diet Coke, Sprite -- semuanya ada tujuh macam
Selama sesi pertama, yang dilakukan di Rusia salah satu peserta memberikan komentar yang benar-benar mengena. "Oh, yang mana sajalah. Semuanya soda. Cuma satu pilihan." (Berguman) Saya begitu terkesan dengan komentar itu hingga sejak itu saya mulai menawarkan hal yang sama ke semua peserta ketujuh macam soda itu. Saya bertanya, "Ada berapa macam minuman semuanya?" Berulang kali, mereka menganggap ketujuh macam soda ini, bukan sebagai tujuh pilihan, tapi satu: soda dan bukan soda. Ketika saya tambahkan jus dan air selain ketujuh soda itu, sekarang mereka menganggapnya sebagai tiga pilihan -- jus, air, dan soda. Bandingkan ini dengan Orang Amerika yang jadi penggemar setia, tidak hanya terhadap satu jenis soda, tapi terhadap satu merk. Penelitian bolak-balik sudah membuktikan bahwa kita tidak pernah bisa membedakan Coke dan Pepsi. Tapi kita semua tahu Coke pilihan yang lebih baik.
Bagi orang Amerika modern yang punya lebih banyak pilihan dan iklan tentang pilihan dibanding orang lain di dunia ini, pilihan jadi cerminan kualitas diri selain kualitas produk itu sendiri. Ditambah asumsi bahwa makin banyak pilihan makin baik, lahirlah orang-orang yang sangat peduli pada perbedaan sekecil sekalipun alhasil, setiap macam pilihan jadi penting. Tapi buat orang-orang Eropa Timur, ketersediaan yang sekonyong-konyong dari begitu banyak pilihan produk di pasar, adalah berlebihan. Mereka dibanjiri pilihan sebelum sempat belajar berenang. Ketika ditanya, "Kata dan gambar apa bagi Anda yang melambangkan pilihan?" Grzegorz dari Warsaw bilang, "Ah, bagi saya, 'rasa takut'. Memang ini dilema. Saya terbiasa hidup tanpa pilihan." Bohdan dari Kiev menjawab, ketika ditanya perasaannya tentang beragam barang di pasar yang baru, "Kebanyakan. Kami tidak butuh semua yang ada di sana." Seorang sosiolog dari Agen survey Warsaw menjelaskan, "Generasi yang lebih tua loncat dari tanpa pilihan jadi banyak pilihan. Mereka tidak sempat belajar bagaimana menghadapi semuanya." Tomasz, pemuda dari Polandia berkata, "Saya tidak perlu 20 macam permen karet. Saya tidak bilang saya tidak mau ada pilihan, tapi kebanyakan pilihan yang ada itu pilihan yang semu."
Memang kenyataannya pilihan sering muncul di antara hal-hal yang tidak jauh berbeda. Penting tidaknya pilihan tergantung kemampuan kita memaknai perbedaan di antara berbagai pilihan itu. Orang Amerika berlatih seumur hidup memainkan "cari perbedaannya." Mereka sudah terbiasa dengan ini sejak kecil sehingga mereka meyakini bahwa semua orang punya kemampuan ini. Sebetulnya, meski semua orang punya kebutuhan mendasar akan pilihan, bentuk pilihan dan makna pilihan tidak sama bagi semua orang. Ketika orang tidak mampu membedakan pilihan yang satu dengan pilihan yang lain, atau ketika terlalu banyak pilihan untuk dibedakan, proses pemilihan bisa jadi membingungkan dan menyebalkan. Bukannya jadi bisa memilih dengan baik, kita malah kewalahan dengan pilihan yang ada, kadang malah jadi takut akan adanya pilihan. Pilihan tidak lagi memberikan kesempatan, tapi malah mengekang. Pilihan bukan lagi lambang kebebasan, tapi lambang keterikatan dalam tetek bengek tanpa arti. Dengan kata lain, pilihan bisa memberikan dampak sebaliknya dari apa yang dimaksudkan oleh masyarakat Amerika ketika dijejalkan pada mereka yang belum siap menghadapinya. Tapi ini tidak hanya bagi orang lain di tempat lain perasaan tertekan yang muncul ketika dihadapkan pada begitu banyak pilihan. Orang Amerika sendiri mulai menyadari bahwa pilihan yang tanpa batas lebih indah dalam teori dari pada praktiknya.
Kita semua punya keterbatasan fisik mental, dan emosional. yang tidak memungkinkan kita memproses tiap pilihan yang ditemui, bahkan di toko kelontong sekalipun, apalagi dalam perjalanan hidup. Beberapa penelitian saya menunjukkan ketika kita berikan 10 atau lebih pilihan pada seseorang ketika memilih, mereka sering salah pilih baik dalam hal kesehatan, investasi maupun bidang penting lainnya. Tapi tetap saja, banyak dari kita masih percaya bahwa kita harus memilih untuk diri sendiri dan menuntut lebih banyak lagi pilihan.
Ini membawa kita pada asumsi ke tiga, dan mungkin asumsi paling bermasalah: "Anda tidak boleh menolak memilih." Untuk meneliti ini, mari kita kembali ke Amerika dan loncat melewati samudra ke Prancis. Di pinggiran Chicago, pasangan muda, Susan dan Daniel Mitchell sedang menunggu kelahiran bayi pertama mereka. Mereka bahkan sudah menyiapkan nama, Barbara, seperti nama neneknya. Suatu malam, ketika usia kandungan Susan 7 bulan, dia merasakan kontraksi dan segera dilarikan ke rumah sakit. Bayinya dilahirkan lewat operasi Caesar, tapi Barbara mengalami cerebral anoxia, kekurangan oksigen pada otak. Karena tidak bisa bernapas sendiri, dia dimasukkan ke ventilator. Dua hari kemudian, dokter memberikan keluarga Mitchell sebuah pilihan. Mereka bisa melepaskan Barbara dari mesin penunjang hidup, yang akan berakibat meninggalnya Barbara dalam hitungan jam, atau mereka bisa membiarkan hidupnya ditunjang mesin, yang pada akhirnya dia mungkin akan meninggal juga tapi dalam hitungan hari. Kalau pun selamat, dia menjadi lumpuh permanen secara keseluruhan, tidak bisa berjalan, berbicara atau berinteraksi dengan orang. Apa yang harus mereka pilih? Apa yang semua orang tua akan pilih?
Dalam penelitian yang saya lakukan dengan Simona Botti dan Kristina Orfali, pasangan orang tua Amerika dan Prancis yang diwawancarai. Semuanya pernah mengalami tragedi yang sama. Dalam semua kasus, mesin penunjang hidupnya dilepaskan, dan bayinya meninggal. Tapi ada perbedaan mencolok. Di Prancis, para dokter yang memutuskan mengapa dan kapan mesin penunjang hidup dicabut, sementara di Amerika, keputusan akhir ada pada orang tuanya. Kami ingin tahu: apakah hal ini berpengaruh terhadap cara para orang tua itu menghadapi hilangnya orang yang mereka cintai? Kami temukan, ternyata ada. Bahkan setelah setahun kemudian, Orang tua Amerika masih memancarkan emosi yang negatif, dibandingkan dengan para orang tua Prancis. Orang tua Prancis kebanyakan mengatakan hal seperti "Kehadiran Noah begitu singkat, tapi dia mengajarkan kami begitu banyak hal. Dia memberikan padangan baru terhadap hidup."
Para orang tua Amerika akan mengatakan hal seperti, "Andaikan... andai saja..." Ada juga yang mengeluh, "Saya merasa kami sengaja disiksa. Bagaimana bisa mereka minta kami melakukan itu?" Pasangan lain menuturkan, "Saya merasa ikut mengeksekusi." Tapi ketika para orang tua Amerika ditanya apakah sebaiknya dokter saja yang memutuskan, semuanya bilang, "Tidak." Mereka tidak bisa membayangkan menyerahkan keputusan itu ke orang lain, meskipun dihadapkan dengan pilihan seperti itu membuat mereka merasa dijebak, bersalah, marah. Dalam banyak kasus mereka bahkan mengalami depresi. Para orang tua ini tidak bisa menerima kalau harus menolak pilihan itu, karena penolakan itu bertolak belakang dengan semua yang diajarkan pada mereka dan semua yang mereka yakini tentang kekuasaan dan makna sebuah pilihan.
Dalam esainya, "The White Album." Joan Didion menuliskan, "Kita mengarang cerita untuk diri kita sendiri untuk tetap hidup. Kita menginterpretasi apa yang kita lihat memilih yang paling layak dari pilihan-pilihan yang ada. Kita hidup sepenuhnya karena tuntutan sebuah jalan cerita yang penuh warna, dengan sebuah ajaran yang kita pakai untuk mengabadikan rangkaian adegan yang merupakan pengalaman kita yang sesungguhnya." Cerita yang dikarang orang Amerika cerita yang menjadi dasar mimpi orang Amerika adalah cerita tentang pilihan tanpa batas. Jalan cerita ini menjanjikan begitu banyak: kebebasan, kebahagiaan, kesuksesan. Menghamparkan dunia di bawah kaki kita dan berkata, "Kita bisa miliki apa saja, segalanya." Cerita yang bagus, sangat bisa dimengerti mengapa tidak ada yang mau merevisinya. Tapi kalau dicermati lebih dekat, jalan ceritanya tidak sempurna, dan kita mulai menyadari bahwa ceritanya bisa diceritakan dengan banyak cara.
Orang Amerika sering kali berusaha menyebarluaskan ide mereka tentang pilihan, merasa mereka sepantasnya atau seharusnya disambut dengan tangan dan pikiran terbuka. Tapi sejarah dan berita sehari-hari menunjukkan hal itu tidak selalu benar. Rangkaian adegan pengalaman sesungguhnya yang coba kita pahami dan susun menjadi sebuah cerita, berbeda di satu tempat ke tempat yang lain. Tidak ada cerita tunggal yang bisa memenuhi kebutuhan semua orang di semua tempat. Apalagi, orang Amerika sendiri bisa jadi lebih baik kalau mereka menyertakan pandangan-pandangan baru ke jalan cerita mereka, yang sudah mendikte pilihan mereka begitu lama.
Robert Frost pernah bilang, "Yang hilang dalam penerjemahan adalah sastra." Ini artinya apapun yang indah dan mengharukan, apapun yang memberikan pandangan baru, tidak bisa dikomunikasikan kepada mereka yang berbicara dalam bahasa yang berbeda. Sebaliknya, Joseph Brodsky berkata, "Yang didapat dari penerjemahan adalah sastranya." Arinya penerjemahan bisa ditempuh dengan cara yang kreatif dan transformatif. Berbicara tentang pilihan, lebih banyak yang bisa didapat ketimbang yang bisa hilang kalau kita aktif menerjemahkan berbagai cerita. Alih-alih mengganti satu cerita dengan yang lain, kita bisa belajar dari dan bermain dengan semua versi yang ada dan yang belum ditulis sekalipun. Tidak peduli dari mana kita berasal dan apa jalan cerita kita, semuanya punya tanggung jawab untuk membuka diri dan menerima berbagai akibat yang timbul dari pilihan dan apa maknanya. Ini tidak akan jadi relativisme moral yang mandul. Tapi, akan mengajarkan kita kapan dan bagaimana bertindak. Yang akan membuat kita makin menyadari potensi sesungguhnya dari sebuah pilihan, menumbuhkan harapan dan melahirkan kebebasan seperti yang kerap dijanjikan pilihan meski tidak selalu ditepati. Kalau kita belajar berbicara satu dengan yang lain, meski lewat penerjemahan, maka kita akan bisa melihat pilihan dengan segala keanehannya, kerumitannya, dan keindahannya
Bruno Giussani : Terima kasih Sheena, ada satu hal dalam biografi Anda yang luput dicantumkan dalam buku program kami. Tapi sekarang sudah jelas buat semua yang ada di sini. Anda tuna netra. Saya kira yang paling banyak ingin diketahui orang adalah: Apakah hal itu berpengaruh dalam penelitian Anda tentang pilihan, karena biasanya itu kegiatan yang membutuhkan masukan-masukan visual seperti estetika dan warna dan lain lain ?
Sheena Lyengar: Kebetulan ini ditanyakan, karena salah satu hal yang menarik sebagai tuna netra adalah saya jadi punya sudut pandang yang unik ketika sedang meneliti orang dengan mata normal sedang memilih. Seperti Anda katakan, ada banyak sekali pilihan yang biasanya visual. Ya, saya -- seperti dugaan Anda -- kadang agak bingung dengan pilihan seperti pewarna kuku apa sebaiknya yang dipakai, karena saya jadi tergantung saran orang lain. Saya tidak bisa memutuskan. Contoh, pernah satu kali ketika saya di salon, dan saya harus memilih antara dua jenis warna merah jambu. Yang satu disebut "Ballet slippers" Yang lain disebut "Adorable". (Suara tawa) Jadi saya tanya pada dua orang wanita ini. Yang satu bilang, "Sebaiknya pakai yang 'ballet slippers'". "Memang seperti apa rupanya?" "Itu jenis merah jambu yang sangat anggun." "Baiklah, keren." Wanita satunya menyarankan saya pakai "Adorable". "Memangnya seperti apa rupanya?" "Itu jenis merah jambu yang glamor." Jadi saya tanya pada keduanya, "Lalu bagaimana membedakannya ? Apa bedanya?" Mereka menjawab, "Yang satu anggun yang satu glamor." Baik, apa lagi? Dua-duanya setuju: kalau saya bisa melihatnya, saya pasti tahu bedanya.
Saya jadi penasaran, mereka terpengaruh namanya atau sungguh-sungguh karena warnanya. Jadi saya lakukan satu percobaan kecil. Saya bawa kedua botol pewarna kuku itu ke laboratorium, saya sobek labelnya. Saya datangkan beberapa wanita ke laboratorium, dan saya tanya."Yang mana yang cocok dengan saya?" Separuh dari wanita itu menuduh saya menjebak mereka, dengan memperlihatkan pewarna kuku yang warnanya sama tapi dengan botol yang berbeda. (Suara tawa) (Tepuk tangan) Sampai di situ saya jadi bingung siapa yang menjebak siapa ini. Wanita-wanita yang merasa bisa membedakan keduanya, memilih "Adorable" ketika labelnya tidak ada, dan ketika labelnya dipasang lagi mereka memilih "Ballet slippers." Jadi tampaknya mawar kalau diberi nama lain mungkin akan kelihatan berbeda bahkan mungkin baunya jadi beda juga.
You can share this video by copying this HTML to your clipboard and pasting into your blog or web page. This video will play with subtitles.
You either have JavaScript turned off or have an old version of the Adobe Flash Player. To view this rating widget you
need to get the latest Flash player.
If your browser allows only "trusted sites" to execute Javascript, you should add the "googleapis.com" domain to your whitelist to allow our Flash detection to work properly.
Got an idea, question, or debate inspired by this talk? Start a TED Conversation.
Sheena lyengar meneliti bagaimana kita membuat pilihan -- dan bagaimana perasaan kita terhadap pilihan yang kita buat. Dalam ajang TEDGlobal, dia berbicara mulai dari pilihan yang sepele (Coke vs Pepsi) sampai pilihan yang sangat penting, dan memaparkan penelitiannya yang menjadi terobosan tentang perilaku mengejutkan pilihan kita.
Sheena Iyengar studies how people choose (and what makes us think we're good at it). Full bio ยป
Translated into Indonesian by Judge Pau
Reviewed by Ade Indarta
Comments? Please email the translators above.
17:30 Posted: Sep 2006
Views 2,568,861 | Comments 290
19:37 Posted: Sep 2006
Views 3,400,429 | Comments 729
33:38 Posted: Dec 2008
Views 1,373,710 | Comments 181
Just follow the guidelines outlined under our Creative Commons license.
This comment will be attributed to . Not ? Sign Out.