Saya hendak membuka dengan mengutip perkataan indah dari Einstein, supaya orang-orang akan merasa tenang bahwa ilmuwan ternama dari abad ke-20 juga setuju dengan kita, dan juga memanggil kita untuk melakukan tindakan ini. Beliau berkata, "Seorang manusia merupakan bagian dari sesuatu, yang kita namakan, alam semesta, bagian yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia mengalaminya sendiri, pikiran dan perasaannya, sebagai sesuatu yang terpisah dari yang lain, pemisahan tersebut merupakan semacam tipu muslihat dari kesadarannya sendiri, Tipu muslihat ini merupakan bentuk dari penjara atas kita semua, membatasi keinginan pribadi kita dan rasa sayang yang hanya untuk beberapa orang terdekat kita. Tugas kita adalah untuk membebaskan diri kita sendiri dari penjara ini dengan cara memperluas lingkaran kepedulian kita, untuk merangkul semua makhluk hidup dan alam semesta dengan keindahannya."
Pengertian Einstein tersebut luar biasa mirip dengan psikologi ajaran Buddha, dimana belas kasih (kepedulian), juga biasa disebut karuna, diartikan sebagai, "Rasa peka terhadap penderitaan orang lain dan keinginan yang sesuai untuk membebaskan orang lain dari penderitaan tersebut." Hal ini juga dipasangkan dengan cinta. Yaitu keinginan agar orang lain bahagia. Yang tentu saja memerlukan seseorang untuk merasa bahagia akan dirinya sendiri dan punya keinginan untuk membaginya. Hal ini sempurna dalam arti bahwa dia menentang keinginan untuk mementingkan diri sendiri dan perasaan egois dibandingkan dengan rasa belas kasih, dan memperhatikan orang lain, dan juga, hal ini menandakan bahwa mereka yang terjerumus dalam siklus yang hanya memperhatikan diri sendiri akan menderita tidak berdaya, sedangkan rasa belas kasih lebih bebas dan secara implisit lebih bahagia.
Dalai Lama seringkali menyatakan bahwa rasa belas kasih adalah sahabatnya. Perasaan tersebut menolong saat beliau diliputi rasa sedih dan putus asa. Rasa belas kasih menolong beliau untuk pergi dari perasaan menderita yang paling mutlak, penderitaan yang paling parah yang orang dapat rasakan dan memperluas kesadaran beliau akan penderitaan orang lain, bahkan penderitaan atas si penyebab kesengsaraan beliau dan banyak orang lainnya. Kenyataannya, penderitaan itu sangat besar, sehingga lama kelamaan penderitaan beliau sendiri menjadi kurang penting. Lalu beliau mulai beranjak dari rasa memperhatikan diri sendiri untuk lebih memperhatikan orang lain. Hal ini dengan segara membuat beliau senang, sebab keberaniannya telah dibangkitkan untuk menghadapi tantangan tersebut. Dengan demikian, beliau menggunakan rasa penderitannya sendiri sebagai jalan untuk memperluas lingkaran kepeduliannya. Kita patut berkata bahwa beliau adalah rekan kerja Einstein yang sangat baik.
Sekarang, saya ingin menyampaikan sebuah cerita, cerita yang sangat terkenal dalam tradisi India dan Buddha, mengenai orang suci yang terkemuka, Asanga yang hidup -- di jaman yang sama dengan Augustine di Barat dan bisa dianalogikan sebagai Augustine dari ajaran Buddha. Asanga hidup 800 tahun setelah Buddha. Dan ia tidak senang dengan penerapan orang-orang terhadap agama Buddha di India pada waktu itu.
Lalu dia berkita, "Saya muak dengan semua hal ini. Tidak seorangpun yang benar-benar menjalankan ajaran (Buddha). Mereka berbica tentang cinta dan rasa welas asih dan kebijaksanaan dan pencerahan, namun bereka bersikap egois dan menyedihkan. Sehingga ajaran Buddha telah kehilangan momentumnya. Saya tahu bahwa Buddha selanjutnya akan datang beberapa ribu tahun dari sekarang, tetapi sekarang ini berada di suatu surga, yakni Maitreya. Jadi, saya akan pergi mengasingkan diri, dan saya akan melakukan meditasi dan berdoa sampai Buddha Maitreya menunjukkan dirinya kepada saya, dan memberikan ajaran atau sesuatu hal untuk menghidupkan kembali penerapan rasa belas kasih di dunia sekarang ini."
Lalu ia pergi mengasingkan diri, dan bermeditasi selama tiga tahun dan ia tidak menemukan Buddha Maitreya. dan ia pergi dengan merasa muak. Dan ketika ia sedang beranjak pergi, ia melihat seorang pria -- pria yang kecil dan lucu -- duduk di tengah jalan menuju kaki gunung. Dan pria tersebut mempunyai sebongkah besi. Dan ia sedang menggosoknya dengan sehelai kain. Dan ia menjadi tertarik dengan hal tersebut. Ia berkata, "Apa yang sedang kamu lakukan?" Dan pria itu berkata, "Saya sedang membuat jarum." Dan ia berkata, "Konyol sekali. Kamu mana bisa membuat jarum dengan cara menggosok sebongkah besi dari kain." Dan pria tersebut berkata, "Apa betul?" Dan menunjukkan kepadanya satu piring penuh dengan jarum. Lalu ia berkata, "Oke, saya mengerti maksudnya." Ia pergi kembali ke gua dan bermeditasi lagi.
Tiga tahun berlalu, tidak ada penglihatan. Ia pergi lagi. Kali ini, ia turun dari gunung. Dan selagi ia pergi, ia melihat seekor burung sedang membuat sarang di ujung jurang. Dan tempat dimana burung itu mendarat untuk membawa ranting - ranting ke jurang, bulunya menyebat batu, dan telah memotong batu tersebut, sedalam enam sampai delapan inci, terdapat celah pada batu tersebut hasil dari sabetan bulu beberapa generasi burung - burung tersebut. Lalu ia berkata, "Baiklah. Saya mengerti maksudnya." Ia pergi kembali.
Tiga tahun berlalu. Lagi-lagi, tidak ada penglihatan akan Maitreya setelah sembilan tahun. Dan, ia pergi lagi, dan kali ini air menetes, sampai membentuk mangkuk di batu dimana air terus menerus menetes. Dan lagi-lagi, ia pergi kembali. Dan setelah 12 tahun masih tidak ada penglihatan. Dan ia menjadi gila. Dan ia bahkan tidak mau melihat ke kanan kirinya untuk melihat kejadian yang mendukungnya.
Dan ia pergi ke kota. Ia seorang yang tidak beres. Dan di sana, di kota tersebut, ia dihampiri oleh seekor anjing yang datang seperti ini -- salah satu anjing terburuk yang bisa anda lihat di negara miskin, bahkan di Amerika, menurut saya, di beberapa daerah -- dan anjing itu sungguh terlihat buruk. Dan ia menjadi tertarik dengan anjing itu karena ia terlihat sangat menyedihkan, dan anjing itu mencoba untuk mencuri perhatiannya. Dan ia duduk melihat anjing tersebut. Dan seluruh bagian bokong anjing itu merupakan luka yang terbuka. Dan beberapa bagiannya seperti bernanah dan borok. Dan ada belatung di dagingnya. Dan ini sangat buruk. Dia berpikir, "Apa yang bisa saya lakukan untuk menyembuhkan anjing ini? Ya, setidaknya saya bisa membersihkan luka ini dan mencucinya."
Kemudian dia membawa anjing itu ke tempat dimana ada air, ia baru mau mulai membersihkan lalu perhatiannya tertuju kepada belatung tersebut. Dan ia melihat belatung, dan belatung itu terlihat sedikit lucu. Dan mereka dengan gembiranya makan di bagian bokong anjing tersebut. "Begini, kalau saya membersihkan anjing itu, saya akan membunuh belatungnya. Jadi bagaimana bisa? Ya sudah. Saya orang yang tidak berguna dan tidak ada Buddha, tidak ada Maitreya, dan semua hal sepertinya tidak ada harapan. Dan sekarang saya akan membunuh belatung?"
Lalu, ia terpikir ide cemerlang. Dan ia mengambil pecahan suatu benda, dan memotong sebagian daging dari bagian pahanya sendiri, dan ia menaruhnya di tanah. Dia tidak terlalu berpikir terlalu serius tentang ASPCA (Organisasi Perlindungan Hewan) Dia hanya tiba-tiba terlarut dalam situasi itu. Jadi ia berpikir, "Saya akan mengambil belatung itu dan menaruh mereka di atas daging ini, lalu membersihkan luka anjing itu, dan lalu, kamu tahu, Saya akan mencari tahu apa yang harus dilakukan dengan belatung itu."
Jadi ia mulai untuk melakukan hal itu. Dia tidak bisa mengambil belatung tersebut. Ternyata mereka bergerak kesana kemari. Belatung-belatung tersebut jadi susah untuk ditangkap. Jadi ia berkata, "Yah, saya akan menaruh lidah saya pada luka anjing itu. Dan lalu belatung tersebut akan lompat ke lidah saya yang lebih hangat. Anjing itu sepertinya sedang dimanfaatkan. Dan lalu saya akan meludahkan mereka satu per satu ke daging tersebut." Jadi ia membungkuk, dan mejulurkan lidahnya seperti ini. Dan ia harus menutup matanya, sangat menjijikkan, dan baunya dan semuanya.
Dan lalu, tiba - tiba, ada pfft, suara seperti itu. Ia terloncat dan di situ, tentu saja, Buddha Maitreya dari masa yang akan datang. Dalam penglihatan yang indah seperti sinar pelangi, emas, berkilau, tubuh yang tembus pandang, seperti penglihatan mistik yang sangat indah, ia melihat. Dan ia berkata, "Oh." Ia membungkuk. Tapi, sebagai manusia, ia tiba-tiba teringat akan keluhan selanjutnya.
Jadi sambil ia bangun dari bungkukan pertamanya ia berkata, "Ya Tuhan, saya sangat senang melihat anda, tapi ke mana saja anda selama 12 tahun ini? Apa ini?"
Dan Maitreya berkata, "Saya bersama dengan kamu. Kamu pikir siapa yang membuat jarum dan membuat sarang dan meneteskan air di atas batu untuk kamu, tuan bodoh?" (Tawa) "Melihat Buddha dengan mata kepala sendiri." ia berkata. Dan ia berkata, "Kamu tidak mempunyai, sampai saat ini, perasaan belas kasih yang nyata. Dan, sampai kamu memiliki rasa belas kasih yang nyata, kamu tidak bisa menyadari cinta." Maitreya artinya cinta, Dia yang mencintai, anda tahu, dalam bahasa Sansekerta.
Dan Asanga jadi kelihatan sangat ragu-ragu. Dan ia berkata, "Jika kamu tidak percaya saya, bawa saja saya dengan kamu." Dan ia membawa Maitreya -- ia mengecil menjadi sebuah bola -- membawa ia pada pundaknya. Dan ia lari menuju kota ke daerah pasar, dan ia berkata, "Bergembiralah. Bergembiralah. Buddha masa depan telah datang lebih dulu dari segala prediksi. Ini dia." Dan tak lama kemudian mereka mulai melempar kerikil dan batu kepada ia -- Itu bukan di Chautauqua. Tapi itu di kota lain -- karena mereka melihat orang yogi kurus dan seperti sakit jiwa, seperti hippi, dengan kaki yang berdarah dan anjing yang membusuk di pundaknya, berteriak bahwa Buddha masa depan telah datang.
Jadi, sewajarnya, mereka mengusir dia pergi ke luar kota. Namun di pinggir kota, seseorang wanita tua, wanita yang terlihat kusam di tanah kuburan, melihat kaki yang berkilau di atas teratai yang berkilau di atas pundaknya dan lalu anjing tersebut, namun wanita itu melihat kaki Maitreya yang berkilau, dan ia menawarkan setangkai bunga. Jadi hal itu mendorong dia, dan ia pergi dengan Maitreya.
Maitreya lalu membawanya ke suatu surga, sebagaimana jalan cerita mitos agama Buddha pada umumnya. Dan Maitreya lalu menyimpan dia di surga selama lima tahun, mendiktenya lima jilid buku tebal dan rumit tentang metode bagaimana seseorang mengembangkan rasa belas kasih.
Dan lalu saya berpikir untuk membagi dengan anda metode tersebut, atau salah satu dari metode itu. Yang paling terkenal, dinamakan "Tujuh rangkap metode sebab-akibat untuk mengembangkan rasa belas kasih" Dan ini dimulai dengan seseorang bermeditasi dan membayangkan bahwa semua makhluk hidup adalah dengan satu, sama lain -- bahkan hewan juga -- tetapi semua orang adalah dalam wujud manusia. Hewan-hewan sedang berada di salah satu dari hidup manusia mereka. Manusia adalah manusia. Dan lalu, di antara mereka, anda pikir tentang sahabat dan orang yang disayangi, lingkaran di meja. Dan anda pikir tentang musuh anda, dan anda pikir tentang mereka yang netral. Dan lalu anda coba untuk berkata, "Ya, orang yang disayangi saya sayang. Tapi, kamu tahu, bagaimanapun, mereka baik pada saya. Saya pernah bertengkar dengan mereka. Kadang-kadang mereka tidak ramah. Saya menjadi marah. Saudara pernah bertengkar. Orang tua dan anak-anak bisa bertengkar. Jadi, seakan-akan, saya sangat suka mereka karena mereka baik pada saya. Sedangkan mereka yang netral, saya tidak tahu. Mereka bisa jadi baik-baik saja. Dan lalu musuh-musuh yang saya tidak suka karena mereka jahat pada saya. Tapi mereka baik pada seseorang. Dan saya bisa jadi mereka."
Dan lalu penganut ajaran Buddha, tentu saja, berpikir, karena kita semua pernah memiliki kehidupan yang lalu, mereka berpikir bahwa kita semua pernah menjadi kerabat satu sama lain, sebenarnya, dan semua orang, sehingga kalian semua, dalam pandangan ajaran Buddha di suatu kehidupan yang sebelumnya, walaupun anda tidak ingat dan saya juga tidak, pernah menjadi ibu saya, dimana saya minta maaf akan kesulitan yang saya sebabkan. Dan juga, sebenarnya, saya pernah menjadi ibu anda. Saya pernah jadi wanita, dan saya pernah menjadi ibu dari setiap kalian pada kehidupan yang lampau, cara penganut ajaran Buddha merefleksi. Jadi, ibu saya di kehidupan ini sangat hebat. Namun kalian semua bisa dibilang adalah bagian dari ibu yang kekal. Anda memberikan ekspresi seperti, ibu yang kekal, kata anda. Ini menakjubkan. Jadi, itu adalah cara yang dilakukan oleh penganut ajaran Buddha. Seorang beragama, orang Kristen, bisa berpikir bahwa semua orang, bahkan musuh saya, adalah anak Tuhan. Jadi, dengan demikian, kita semua memiliki hubungan.
Jadi, mereka pertama-tama menciptakan dasar kesamaan. Jadi, kita seperti mengurangi sedikit keeratan dengan orang yang kita sayangi -- hanya di dalam meditasi -- dan kita membuka pikiran kepada mereka yang kita tidak kenal Dan kita tentu mengurangi kebencian dan pemikiran "saya tidak mau peduli dengan mereka" kepada mereka yang kita pikir merupakan orang jahat, mereka yang kita benci dan yang kita tidak suka. Dan sehingga kita tidak benci siapapun. Jadi kita menyeimbangkan. Hal itu sangat penting.
Dan hal selanjutnya yang kita lakukan ialah apa yang kita sebut pengakuan ibu. Yaitu, kita berpikir bahwa setiap makhluk hidup kita kenal, sebagai keluarga. Kita berkembang. Kita menggunakan perasaan saat mengingat seorang ibu, dan menyebarkan perasaan itu kepada seluruh makhluk hidup saat meditasi ini. Dan kita melihat sosok ibu pada setiap makhluk hidup. Kita melihat tatapan yang dimiliki ibu pada wajahnya, tatapan kepada seorang anak ini merupakan mukjizat yang ia telah lahirkan dari badannya sendiri, sebagai mamalia, dimana ia memiliki rasa belas kasih yang benar-benar sejati dan mengenalinya dengan sempurna. Seringkali hidup dari anak itu lebih penting baginya dibanding hidupnya sendiri. Dan itulah sebabnya hal ini merupakan bentuk altruisme yang paling kuat Ibu adalah model daripada segala altruisme untuk manusia, dalam tradisi spiritual. Dan jadi, kita merefleksi sampai kita bisa melihat ekspresi keibuan itu di semua makhluk hidup.
Orang-orang menertawakan saya karena, kamu tahu, saya dulu berkata bahwa Saya pernah bermeditasi tentang ibu Cheney sebagai ibu saya, disaat, tentu saja, saya jengkel dengannya tentang segala hal jahatnya di Irak. Saya pernah bermeditasi tentang George Bush. Dia terlihat lumayan seperti ibu yang lucu dalam wujud wanita. Mempunyai dua telinga yang mungil dan ia tertawa dan ia membuai anda di pelukan tangannya. Dan anda pikir tentang dia sedang merawat anda. Dan lalu kumis Saddam Hussein yang terlihat serius merupakan masalah. Namun anda pikir dia sebagai seorang ibu.
Dan ini merupakan cara anda bisa melakukannya. Anda ambil siapapun yang kelihatan aneh bagi anda, dan anda lihat bagaimana anda bisa menjadi akrab dengannya. Dan anda lakukan hal itu sementara sampai anda merasakan hal tersebut. Anda bisa merasakan keakraban atas seluruh makhluk hidup. Tak seorangpun yang seperti makhluk asing. Mereka bukan "orang lain." Anda mengurangi rasa asing tentang makhluk hidup. Lalu dari sana anda berlanjut untuk mengingat kebaikan ibu pada umumnya, jika anda bisa mengingat kebaikan ibu anda sendiri, jika anda bisa mengingat kebaikan pasangan anda, atau, jika anda seorang ibu, sebagaimana anda dengan anak-anak anda. Dan anda menjadi penuh perasaan, anda mengembangkan perasaan sentimentil dengan sungguh-sungguh Anda bahkan akan menangis, barangkali, dengan perasaan bersyukur dan kebaikan. Dan lalu anda menghubungkan hal itu dengan perasaan anda bahwa semua orang memiliki kemungkinan keibuan tersebut, Setiap makhluk, bahkan yang kelihatan paling kejam, bisa menjadi keibuan.
Dan lalu, ketiga, anda beranjak dari sana kepada apa yang disebut perasaan bersyukur. Anda mau membalas atas kebaikan yang ditunjukkan oleh semua orang. Dan lalu langkah keempat, anda maju ke yang dinamakan cinta yang menyenangkan. Dalam setiap langkah-langkah ini anda bisa menghabiskan beberapa minggu, atau bulan, atau hari tergantung bagaimana anda melakukannya, atau anda bisa melakukannya sekaligus, meditasi ini. Dan lalu anda berpikir betapa indahnya manusia saat mereka bahagia, saat mereka merasa puas. Dan setiap orang kelihatan indah saat mereka merasakan dari dalam perasaan bahagia. Wajah mereka tidak kelihatan seperti ini. Saat mereka marah, mereka tampak jelek, setiap orang, namun saat mereka bahagia mereka tampak cantik. Dan jadi anda melihat manusia dalam potensi kebahagiaan. Dan anda merasakan perasaan sayang kepada mereka dimana anda ingin mereka untuk bahagia, bahkan musuh anda.
Dan, sebenarnya, sangat logis untuk mengingini -- kita pikir Yesus tidak realistis saat Ia berkata kasihilah musuhmu. Ia berkata demikian, dan kita berpikir Ia tidak realistis dan seperti terlalu rohani dan muluk-muluk dan ,"Bagus Dia berkata demikian, namun saya tidak bisa melakukannya." Tapi, sebenarnya, hal ini praktis. Jika anda mengasihi musuhmu, itu berarti anda ingin musuh bahagia. Jika musuh anda benar-benar bahagia, kenapa mereka peduli untuk menjadi musuhmu? Sangatlah membosankan untuk berlari dan mengejar anda. Mereka lebih baik bersantai di suatu tempat dan menikmati waktu yang ada. Jadi masuk akal untuk mengingini musuhmu bahagia karena mereka akan berhenti menjadi musuhmu karena terlalu merepotkan.
Tapi bagaimanapun juga, itulah rasa sayang yang menyenangkan. Dan akhirnya, langkah kelima adalah belas kasih, rasa kepedulian yang universal. Dan ini adalah dimana anda melihat kenyataan dari segala manusia yang terpikir oleh anda. Dan anda melihat mereka, dan anda melihat bagaimana mereka. Dan anda sadar betapa tidak bahagianya mereka, kebanyakan, sebagian besar waktu. Anda melihat cekungan alis mata pada orang-orang. Dan lalu anda sadar mereka bahkan tidak memiliki belas kasih pada diri mereka sendiri. Mereka digerakkan oleh tugas dan kewajiban ini. "Saya harus mendapatkannya. Saya butuh lebih. Saya tidak berharga. Dan saya harus melakukan sesuatu." Dan mereka sibuk sana sini menjadi stress. Dan mereka pikir entah bagaimana hal ini jantan, disiplin keras terhadap dirinya sendiri. Namun sebenarnya mereka kejam terhadap dirinya sendiri. Dan, tentu saja, mereka kejam dan tidak mengenal belas kasihan terhadap orang lain. Dan mereka, lalu, tidak pernah mendapat saran yang baik. Dan makin sukses mereka, dan makin tinggi kuasa yang mereka miliki, semakin mereka tidak bahagia. Dan inilah dimana anda merasakan rasa welas asih yang benar-benar kepada mereka.
Dan anda lalu merasa anda harus melakukan sesuatu. Dan ini adalah motivasi -- Dan tindakan yang dipilih, tentu saja, semoga akan menjadi lebih praktis daripada Asanga kasihan yang memperbaiki belatung pada anjing, karena ia memiliki motivasi itu, dan siapapun yang ada di depannya, ia mau menolong. Tapi, tentu saja, hal ini tidak praktis. Ia seharusnya mendirikan Organisasi Perlindungan Hewan di kota itu. dan mendapat bantuan ilmiah untuk anjing dan belatung. Dan saya yakin ia melakukannya setelah itu. Tapi hal itu hanya menyatakan apa yang ada di dalam pikiran, kamu tahu.
Dan jadi langkah selanjutnya -- langkah keenam yang melebihi belas kasih universal -- yang merupakan hal ini dimana anda terhubung dengan kebutuhan orang lain dengan cara yang benar, dan anda memiliki belas kasih kepada anda sendiri juga, dan anda tidak -- ini bukan semata-mata sentimentil. Anda bisa jadi takut akan suatu hal. Orang jahat sedang membuat dirinya lebih dan lebih tidak bahagia menjadi lebih dan lebih jahat kepada orang lain dan mendapatkan hukuman di masa mendatang untuk hal itu dalam berbagai cara. Dan dalam ajaran Buddha, mereka mendapatkannya di kehidupan yang mendatang. Tentu saja di agama yang ber-Tuhan, mereka dihukum oleh Tuhan atau lainnya. Dan dalam materialisme, mereka pikir mereka lari dari hal itu dengan menghilang, dengan kematian, tapi mereka tidak. Dan mereka lahir kembali, menjadi apapun, kamu tahu.
Sudahlah. Saya tidak akan berlanjut ke hal tersebut. Tapi langkah selanjutnya dinamakan tanggung jawab universal. Dan hal itu sangat penting -- Piagam Kepedulian harus memimpin kita untuk berkembang melalui belas kasih yang sebenarnya, apa yang dinamakan tanggung jawab universal. Dan itu berarti ajaran agung dari yang mulia, Dalai Lama, yang ia selalu ajarkan dimanapun, dan ia berkata itu adalah agama umum bagi umat manusia, kebaikan, Tapi kebaikan berarti tanggung jawab universal. Dan itu berarti apapun yang terjadi terhadap orang lain terjadi pada kita, dimana kita bertanggung jawab untuk hal itu, dan kita harus mengemban tanggung jawab tersebut dan melakukan apapun yang kita bisa pada tingkat sekecil apapun dan sekecil apapun yang kita bisa. Kita benar-benar harus melakukannya. Tidak ada jalan lain untuk tidak melakukannya.
Dan lalu, akhirnya, hal itu mengarah kepada arahan baru dalam hidup dimana kita hidup seimbang untuk diri kita dan orang lain, dan kita sadar bahwa kebahagiaan untuk kita sendiri -- dan kita bersukacita dan bergembira. Satu hal yang kita tidak boleh pikirkan ialah belas kasih membuat anda merasa menyedihkan. Belas kasih membuat anda bahagia. Orang pertama yang bahagia, saat anda mendapat belas kasih yang hebat, adalah diri anda sendiri, bahkan jika anda belum berbuat suatu hal untuk orang lain. Meskipun perubahan di pikiran anda sudah melakukan sesuatu untuk orang lain. Mereka dapat merasakan kualitas yang baru ini di diri anda, dan ini sudah menolong mereka, dan memberikan mereka teladan.
Dan jam yang tidak berbelas-kasihan telah menunjukkan bahwa waktu saya telah habis.
Jadi, terapkan belas kasih, baca piagam tersebut, sebarkan hal itu dan kembangkanlah hal ini dalam diri anda sendiri. Jangan hanya berpikir, oh ya, saya berbelas kasih, atau saya tidak berbelas kasih, dan pikiran semacam itu, anda terhambat di sana. Anda bisa mengembangkan hal ini. Anda bisa menghilangkan ketidak-pedulian, kekejaman, tidak berperasaan, kelalaian akan orang lain. Ambil tanggung jawab universal atas mereka, dan lalu, tidak hanya Tuhan akan tersenyum dan ibu yang kekal akan tersenyum, tapi Karen Armstrong juga akan tersenyum.
You can share this video by copying this HTML to your clipboard and pasting into your blog or web page. This video will play with subtitles.
You either have JavaScript turned off or have an old version of the Adobe Flash Player. To view this rating widget you
need to get the latest Flash player.
If your browser allows only "trusted sites" to execute Javascript, you should add the "googleapis.com" domain to your whitelist to allow our Flash detection to work properly.
Got an idea, question, or debate inspired by this talk? Start a TED Conversation.
Tidak mudah untuk menunjukkan belas kasihan -- bahkan terhadap orang yang kita sayangi, namun Robert Thurman mengajak kita semua untuk mengembangkan rasa welas asih terhadap musuh kita. Beliau menentukan tujuh langkah meditasi untuk memperluas jangkauan kepedulian yang melebihi orang-orang terdekat kita.
The first American to be ordained a Tibetan Monk by the Dalai Lama, Robert A.F. Thurman is a scholar, author and tireless proponent of peace. Full bio ยป
Translated into Indonesian by Mega Tara
Reviewed by Wahyu Perdana Yudistiawan
Comments? Please email the translators above.
16:54 Posted: Oct 2008
Views 165,609 | Comments 86
16:56 Posted: Oct 2008
Views 118,196 | Comments 71
18:38 Posted: Oct 2008
Views 83,575 | Comments 23
Just follow the guidelines outlined under our Creative Commons license.
This comment will be attributed to . Not ? Sign Out.