Saya adalah seorang pencerita Itu yang saya lakukan di dalam hidup -- bercerita, menulis novel. Dan hari ini, saya ingin menceritakan anda beberapa kisah tentang seni bercerita dan juga makhluk-makhluk gaib yang bernama "djinni" Tapi, sebelum saya sampai di sana, izinkan saya berbagi dengan anda sekilas tentang cerita pribadi saya. yang tentu akan saya lakukan melalui kata-kata, dan juga dengan sebuah bentuk geometris, yaitu lingkaran Jadi, sepanjang pembicaraan saya anda akan menemukan beberapa (konsep) lingkaran
Saya dilahirkan di Strasbourg, Perancis oleh orang tua asal Turki. Tidak lama setelah itu, orang tua saya memutuskan untuk berpisah dan saya dibawa oleh ibu saya ke Turki Sejak itu, saya dibesarkan sebagai anak satu-satunya dari orang tua tunggal. Pada tahun 1970an, di Ankara, ini dianggap situasi yang agak aneh Orang-orang di sekitar kami semua mempunyai keluarga yang besar, di mana ayah adalah kepala keluarga. Jadi saya tumbuh besar melihat ibu saya sebagai seorang janda di tengah-tengah lingkungan yang patriarkal. Kenyataannya, saya tumbuh besar mengamati dua dunia wanita yang berbeda. Di satu sisi, ada ibu saya, seorang wanita Turki yang berpendidikan, sekuler, modern, dan kebarat-baratan. Di sisi lainnya, ada nenek saya, yang juga merawat saya yang lebih spiritual, yang pendidikannya tidak begitu tinggi dan yang sudah pasti kurang rasional dibanding ibu saya Nenek saya adalah tipe wanita yang menggunakan ampas kopi untuk membaca masa depan dan suka melelehkan timah menjadi bentuk-bentuk aneh untuk menangkis 'sang mata jahat'
Banyak orang datang ke nenek saya orang-orang dengan wajah penuh jerawat atau yang tangannya berkutil. Setiap kalinya, nenek saya akan mengucapkan mantera dalam bahasa Arab dan mengambil sebuah apel merah, dan menusuknya dengan duri-duri mawar yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah kutil yang ingin disingkirkan Setelah itu, satu demi satu, dia akan melingkari duri-duri itu dengan tinta hitam. Seminggu kemudian, sang pasien akan datang kembali untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saya sadar bahwa hal-hal seperti ini semestinya tidak saya ceritakan di depan anda para pelajar dan ilmuwan, tetapi, kenyataannya, dari semua orang yang minta bantuan nenek saya untuk penyakit kulitnya, Saya tidak pernah melihat seorang pun yang datang kembali merasa tidak puas atau tidak sembuh Saya bertanya bagaimana dia melakukannya. Apakah melalui kekuatan doa? Dan ia menjawab, "Ya, berdoa itu ampuh. Tapi ingatlah juga akan kekuatan lingkaran."
Darinya, saya belajar banyak hal, satu diantaranya, sebuah pelajaran yang sangat berharga Yaitu, jika anda ingin menyingkirkan apa pun di hidup ini, baik itu jerawat, atau coreng ataupun jiwa seorang manusia anda hanya perlu membangun tembok tebal di sekelilingnya. Maka benda itu akan layu di dalamnya. Kita semua hidup di sebuah lingkaran sosial dan budaya tertentu. semua dari kita tanpa kecuali. Kita lahir ke dalam keluarga, bangsa, kedudukan sosial tertentu Tapi kalau kita sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan dunia-dunia lain di luar lingkungan kita sendiri, kita akan menempatkan diri pada posisi di mana kita akan layu di dalam lingkungan itu. Daya imajinasi kita bisa menciut. Hati kita bisa menyusut. dan kemanusiaan kita bisa mengering kalau kita terlalu lama tinggal di dalam sangkar budaya kita sendiri. Teman-teman kita, rekan-rekan, tetangga, keluarga kita -- kalau orang-orang di dalam lingkaran kita itu semua serupa dengan kita, itu artinya kita dikelilingi oleh cerminan kita sendiri.
Satu lagi kebiasaan wanita-wanita di Turki seperti nenek saya adalah menutupi cermin dengan kain beludru atau menaruh cermin itu menghadap ke dinding. Ini adalah tradisi lama Timur yang didasarkan oleh kepercayaan bahwa tidaklah baik bagi seorang manusia untuk menghabiskan terlalu banyak waktu menatap cerminan diri sendiri. Ironisnya, [hidup di dalam] komunitas yang para anggotanya sepaham adalah salah satu bahaya terbesar di tengah-tengah dunia yang terglobalisasi ini Dan ini terjadi di mana-mana, pada orang-orang yang berpaham liberal maupun konservatif, agnostis maupun beriman, kaum kaya maupun miskin, orang Timur maupun Barat. Kita cenderung mengelompokkan diri berdasarkan kesamaan lalu kita menciptakan berbagai macam generalisasi tentang kelompok-kelompok di luar kelompok kita Menurut saya, salah satu cara untuk membebaskan diri dari sangkar budaya ini adalah melalui seni bercerita. Cerita-cerita tidak mampu menghancurkan garis-garis pembatas, tapi mampu menggerakkan dinding batin kita. Sehingga kita bisa mendapat pandangan sekilas tentang kehidupan orang lain, dan bahkan, ada kalanya kita menyukai apa yang kita temukan.
Saya mulai menulis karangan fiksi pada umur delapan. Suatu hari Ibu saya pulang membawa buku tulis berwarna pirus dan menawarkan saya untuk mulai menulis sebuah jurnal pribadi Kalau saya pikir-pikir sekarang, mungkin ibu saya waktu itu agak cemas dengan kesehatan jiwa saya. waktu itu saya memang gemar bercerita di dalam rumah, dan itu hal yang bagus tapi masalahnya saya bercerita kepada teman-teman khayalan saya. dan itu bukanlah hal yang bagus Saya dari dulu memang anak yang tertutup sampai-sampai saya suka berbicara dengan pensil-pensil warna dan meminta maaf kepada benda-benda mati yang tidak sengaja saya tabrak. Jadi, ibu saya berpikir ada baiknya jika saya menuliskan kejadian sehari-hari saya dan perasaan-perasaan saya di atas kertas. Ibu saya tidak mengerti bahwa waktu itu saya merasa hidup saya sangat membosankan, dan saya sama sekali tidak ingin menulis tentang diri sendiri. Jadi, saya malah mulai menulis tentang orang-orang lain disekitar saya dan hal-hal yang tidak pernah terjadi Demikianlah awal dari semangat saya sampai sekarang untuk menulis karya fiksi. Jadi, dari awal, kisah fiktif untuk saya bukan merupakan hasil dari sesuatu yang bersifat otobiografis tapi lebih menyerupai petualangan yang membawa saya ke dalam kehidupan orang-orang lain, kemungkinan-kemungkinan lain Dan, sekarang izinkanlah saya untuk menggambar sebuah lingkaran sebelum beralih kembali ke cerita ini
Ada satu hal lain yang terjadi di sekitar waktu yang sama Ibu saya menjadi seorang diplomat. Jadi, dari sebuah lingkungan kecil yang penuh kepercayaan takhayul, yang ditempati nenek saya dengan segala keserderhanaannya, Saya tiba-tiba beralih ke sekolah internasional bergengsi [di Madrid], di mana saya adalah satu-satunya orang Turki. Di sekolah inilah saya pertama kalinya menemukan konsep yang saya namakan "perwakilan orang asing." Di kelas kami ada anak-anak dari berbagai bangsa. Namun, keanekaragaman ini tidak selalu mendukung terciptanya kelas demokratis yang kosmopolitan dan egaliter. Malahan, keadaan ini menciptakan suasana di mana tiap-tiap anak dianggap, bukan sebagai individu dengan karakter masing-masing, melainkan sebagai perwakilan dari sesuatu yang lebih besar. Kami seolah-olah kelompok miniatur PBB, dan ini sesuatu yang menyenangkan. namun, setiap kali ada sesuatu yang bersifat negatif menimpa suatu negara atau suatu agama. Anak yang menjadi perwakilan dari negara itu langsung diejek, diolok-olok dan dipermainkan terus menerus. Saya tahu hal ini, karena sewaktu saya bersekolah di dana, kudeta militer terjadi di negara saya, seorang warga negara saya menembak dan hampir membunuh Sri Paus, apalagi Turki mendapat nilai nihil dalam kontes lagu Eurovision. (Tawa)
Saya sering bolos sekolah dan bermimpi menjadi seorang pelaut pada masa-masa itu. Di sekolah itu saya merasakan untuk pertama kalinya adanya stereotip budaya. Anak-anak yang lain bertanya kepada saya tentang film berjudul "Midnight Express", film yang belum saya tonton. Mereka bertanya berapa batang rokok yang saya habiskan setiap hari karena mereka menganggap semua orang Turki adalah perokok berat Dan mereka ingin tahu pada umur berapa saya mulai diharuskan untuk menutupi rambut saya. Saya mulai memahami bahwa hal-hal ini merupakan tiga stereotip utama tentang negara saya politik, rokok dan cadar. Dari Spanyol, kami pindah ke Yordania, Jerman, lalu kembali ke Ankara. Kemanapun saya pergi, saya merasa bahwa khayalan saya merupakan satu-satunya bekal yang bisa saya bawa. Kisah-kisah ini memberi saya rasa keutamaan, kesinambungan dan keterpaduan, tiga "K" besar yang tidak saya miliki di tempat lain.
Pada umur 20an, saya pindah ke Istanbul, kota yang saya cintai. Di sana saya tinggal di lingkungan yang amat dinamis dan beranekaragam di mana saya menulis berberapa novel saya. Saya berada di Istanbul saat terjadi gempa bumi pada tahun 1999 Ketika saya berlari keluar dari rumah pada jam tiga pagi, Ada sesuatu yang membuat saya menghentikan langkah. Saya melihat seorang pedagang kelontong lokal -- seorang laki-laki tua pemarah, yang tidak menjual alkohol dan tidak suka bercampur dengan kaum marjinal. Saya melihat dia sedang duduk di sebelah seorang waria dengan rambut palsunya yang hitam dan panjang dan pipi yang dipenuhi noda maskara. Saya melihat penjual itu membuka kotak rokoknya dengan tangan yang bergetar lalu menawarkan sebatang rokok kepada waria itu. Dan bayangan inilah yang tertanam di benak saya tentang malam terjadinya gempa itu -- pedagang yang konservatif dan seorang waria yang menangis merokok bersama di tepi jalan. Di hadapan maut dan kehancuran perbedaan duniawi kita terbenam, dan kita semua menjadi satu walaupun hanya untuk beberapa jam. Tapi saya percaya seni bercerita bisa menggerakan kita dengan cara yang sama. Bukan berarti karya fiksi mempunyai daya sebesar gempa bumi. Tapi selagi kita membaca novel yang bagus, kita seakan-akan meninggalkan tempat tinggal kita yang nyaman, untuk keluar berjalan sedirian di kegelapan malam dan mulai mengenal orang-orang yang tidak pernah kita temui sebelumnya orang-orang yang mungkin pernah kita hakimi.
Tidak lama setelah itu, saya pindah lagi ke kampus khusus perempuan di Boston, lalu Michigan. lebih dari sekedar perpindahan lokasi, saya merasakan sebuah perpindahan bahasa. Saya mulai menulis dalam bahasa Inggris. Saya bukan seorang imigran, pengungsi ataupun orang buangan. Jadi banyak orang bertanya-tanya mengapa saya melakukan ini Tapi dengan berpindah dari satu bahasa ke bahasa yang lain memberikan saya kesempatan untuk menciptakan kembali diri saya. Saya suka menulis dalam bahasa Turki, bahasa yang bagi saya amat puitis dan emosionil. Dan saya juga senang menulis dalam bahasa Inggris, yang menurut saya amat matematis dan logis. Jadi saya merasakan koneksi dengan kedua bahasa ini dengan cara yang berbeda. Bagi saya, seperti halnya juga untuk jutaan orang lain di seluruh dunia pada saat ini, Bahasa Inggris bukanlah bahasa pertama kita. Jika anda seorang pendatang pada suatu bahasa yang terjadi adalah, anda mempelajarinya dengan rasa frustrasi yang terus-menerus. Sebagai pendatang yang terlambat, kita selalu ingin berbicara lebih banyak, berlelucon lebih baik, mengungkapkan hal-hal yang lebih menarik. Tapi, pada akhirnya kita malah berbicara lebih sedikit karena adanya celah antara pikiran dan lidah. Dan celah itu amat mengintimidasi kita. Tapi, jika kita bisa menaklukan ketakutan itu, yang kita rasakan adalah semangat yang membangkitkan Dan inilah yang terjadi pada saya di Boston -- rasa frustasi itu amat membangkitkan semangat saya
Pada saat ini juga, nenek saya, yang dari dulu mengamati jejak hidup saya dengan perasaan yang bertambah was-was, mulai berdoa setiap hari supaya saya cepat menikah agar saya bisa berumah tangga Dan karena cinta Tuhan kepadanya, saya pun menikah juga. (Tawa) Tapi, bukannya berumah tangga, Saya malah pindah ke Arizona. Dan karena suami saya tinggal di Istanbul, Saya mulai bolak balik Arizona dan Istanbul. Dua tempat di permukaan Bumi, yang sangat berbeda. memang, dari dulu jiwa saya adalah jiwa pengembara, secara fisik maupun rohani Kisah-kisah menjadi pendamping saya, yang memelihara kenangan dan potongan-potongan hidup saya seperti halnya sebuah lem.
Tapi, sebesar-besarnya cinta saya dengan kisah-kisah tersebut, belakangan ini, saya mulai berpikir bahwa kisah-kisah ini kehilangan daya sihirnya jika dan saat sebuah kisah dilihat lebih dari sekedar kisah belaka. Dan ini adalah suatu persoalan yang saya ingin bahas dan pikirkan bersama. Saat novel bahasa Inggris pertama saya terbit di Amerika, Saya mendapatkan komentar menarik dari seorang kritikus sastra. "Saya suka buku anda", katanya, "Tapi saya ingin anda menulisnya dengan cara berbeda" (Tawa) Saya bertanya apa yang dia maksud dengan komentar itu Dia menjawab, "Ya, lihat saja. Di dalam buku ini ada begitu banyak tokoh Spanyol, Amerika, Hispanik tapi hanya satu karakter orang Turki, dan itupun seorang laki-laki" Novel saya ini berlatar belakang sebuah kampus di Boston, Jadi untuk saya, adalah hal yang wajar jika di dalamnya lebih banyak tokoh dari berbagai negara daripada karakter orang Turki Tapi, saya tahu apa yang dicari oleh kritikus ini. Dan saya juga sadar bahwa saya akan terus mengecewakan dia. Dia ingin melihat manifestasi dari identitas saya. Yang dia cari di novel itu adalah seorang wanita Turki karena itulah diri saya.
Kita sering membahas bagaimana cerita-cerita mengubah dunia. Tapi kita juga harus sadar bagaimana identitas politik mempengaruhi bagaimana kisah-kisah diedarkan, dibaca dan diulas. Banyak pengarang merasakan tekanan ini, tapi pengarang non-Barat merasakannya lebih dari yang lain. Jika anda seorang wanita dari negara Islam seperti saya, anda akan diharapkan untuk menulis kisah-kisah wanita Islam dan lebih dari itu, kisah-kisah penderitaan dari wanita-wanita Islam yang tertindas. Anda diharapkan untuk menulis kisah-kisah tipikal yang sedih dan informatif. sementara mengabaikan kisah yang bersifat eksperimental dan baru yang hanya diperuntukan para penulis Barat. Yang saya alami sebagai siswa di Madrid juga sedang dialami oleh dunia sastra sekarang Para penulis tidak dilihat sebagai individu-individu kreatif yang unik tetapi sebagai perwakilan dari budaya-budaya asal mereka penulis dari Cina, dari Turki, dari Nigeria Kita semua dianggap mempunyai sesuatu yang amat istimewa kalau tidak mau dibilang ganjil
Seorang penulis petualang, James Baldwin pada wawancaranya di tahun 1984 terus menerus ditanyai mengenai homoseksualitasnya Saat si pewawancara berusaha untuk memojokkan dia sebagai sorang penulis homoseksual, Baldwin berhenti dan berkata, "Apakah kamu tidak bisa melihat, bahwa tidak ada apapun di dalam diri saya yang tidak ada di dalam diri orang lain, dan tidak ada apapun di dalam diri orang lain yang tidak ada di dalam diri saya." Bila identitas politik mencoba untuk menyamaratakan kita, kebebasan berimajinasi kita yang menjadi terancam. Ada sebuah kategori yang disebut 'sastra multikultural' di mana para pengarang dari negara-negara non-Barat dikelompokan menjadi satu Saya tidak pernah lupa bacaan 'sastra multikutural' pertama saya di Harvard Square sekitar 10 tahun lalu. waktu itu kami, tiga orang penulis, satu dari Filipina, satu dari Turki dan satu dari Indonesia -- terdengar seperti lelucon bukan? (Tawa) Dan waktu itu alasan kami dikelompokan bersama bukan karena kami memiliki gaya artistik yang mirip atau selera sastra yang sama Tetapi hanya karena kami semua pemegang paspor asing. Penulis multikultural selalu diharapkan untuk menulis kisah nyata dan bukan kisah imajinasi. Dunia sastra dihubungkan dengan peranan tertentu. dengan demikian, bukan hanya penulis saja, tapi juga tokoh-tokoh ciptaan mereka yang menjadi perwakilan untuk sesuatu yang lebih besar.
Tapi saya harus menambahkan bahwa kecenderungan untuk menganggap sebuah cerita sebagai sesuatu yang lebih dari cerita tidak hanya datang dari dunia Barat. melainkan dari mana-mana. Dan saya merasakannya sendiri ketika saya diadili pada tahun 2005 karena kata-kata yang diucapkan para tokoh di dalam novel saya. Waktu itu saya bermaksud untuk menulis novel yang membangun dan bersifat mendalam tentang sebuah keluarga Armenia dan keluarga Turki dari sudut pandang para wanita. Cerita kecil saya berubah menjadi isu besar ketika saya dituntut. Sebagian orang mengkritik saya, sebagian lain memuji saya karena menulis tentang konflik Turki-Armenia. Tapi ada kalanya saya ingin mengingatkan kedua belah pihak bahwa karya saya itu karya fiksi. bahwa itu hanyalah sebuah cerita. Dan jika saya mengatakan, "hanya sebuah cerita," Saya bukan bermaksud untuk menyepelekan karya saya. Saya ingin memuja dan menjunjung tinggi karya fiksi hanya sebagai sebuah cerita, bukan sebagai suatu alat untuk mencapai sebuah tujuan.
Penulis berhak mempunyai pendapat politik mereka masing-masing, dan saya yakin ada banyak novel politik yang bagus, tetapi, bahasa dunia fiksi bukanlah bahasa dunia politik sehari-hari. Chekov pernah mengatakan, "Solusi untuk sebuah masalah dan cara yang benar dalam mengajukan pertanyaannya adalah dua hal yang berbeda. Dan tanggung jawab seorang seniman hanyalah untuk melaksanakan hal yang kedua. Identitas politik memecah-belah kita. Karya fiksi menyatukan kita. Yang pertama selalu ingin menyamaratakan semuanya. Yang kedua, menekankan berbagai nuansa. Yang pertama membuat batas-batas. Yang kedua tidak mengenal adanya batas. Identitas politik terbuat dari batu bata. sedangkan fiksi adalah air yang mengalir.
Di zaman Ottoman, ada sekolompok pendongeng pengembara yang disebut "meddah" Mereka sering mendatangi warung-warung kopi, di mana mereka akan bercerita di depan para pendengarnya seringkali dengan berimprovisasi. setiap kali tokoh baru muncul di dalam cerita, sang meddah akan mengubah suaranya, dalam upaya untuk berperan sebagai karakter itu. Siapa saja boleh datang dan mendengarkan mereka -- orang biasa, bahkan sang sultan, kaum Muslim maupun non-Muslim. Kisah-kisah mengabaikan segala batasan. Seperti halnya pada "The Tales of Nasreddin Hodja," yang amat populer di seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, Balkan dan Asia. Di zaman sekarang, cerita tetap melampaui garis-garis batas.. Setiap kali politikus Palestina dan Israel bercakap-cakap, biasanya mereka tidak mendengarkan satu sama lain. Tetapi, seorang pembaca asal Palestina tetap membaca sebuah novel karya penulis Yahudi, dan begitu pun sebaliknya, berkoneksi dan berempati dengan sang pencerita. Sastra harus membawa kita keluar Kalau karya tidak bisa membawa kita kesana, karya itu bukan sastra yang bagus.
Buku-buku telah menyelamatkan saya, si anak kecil yang tertutup dan penakut. Tapi saya juga sadar akan bahayanya jika, kita mendewakan buku. Ketika sang penyair dan paranormal, Rumi, berkenalan dengan kawan spiritualnya, Shams dari Tabriz, hal pertama yang Shams lakukan adalah melempar buku-buku Rumi ke dalam air dan melihat tulisan-tulisannya larut Kaum Sufi mengatakan,"Pengetahuan yang tidak membawa anda melampaui diri anda sekarang jauh lebih buruk dari kebodohan." Masalah dari sangkar budaya masa kini bukanlah kurangnya pengetahuan. Kita tahu banyak hal tentang satu sama lain, setidaknya kita berpikir begitu. Tapi pengetahuan yang tidak membawa kita melampaui diri kita sekarang, membuat kita menjadi elitis, dingin dan terpisah. Ada suatu kiasan yang sangat saya sukai: menjalani hidup ibarat sebuah jangka. Seperti anda tau, salah satu jarum jangka itu statis, tertancap di satu tempat. Sedangkan, jarum yang satu lagi menggambar lingkaran yang lebar, dan selalu bergerak. seperti itulah karangan saya. Satu bagian tertancap di Istanbul dengan pengaruh kuat Turki Tapi bagian yang lain menjelajahi dunia, berkoneksi dengan budaya-budaya lain. Dalam arti tersebut, saya melihat karangan fiksi saya sebagai sesuatu yang lokal dan juga universal, yang berasal dari sini dan juga dari mana-mana.
Anda yang pernah ke Istanbul mungkin sudah pernah melihat Istana Topkapi, yang merupakan tempat tinggal para sultan Ottoman selama lebih dari 400 tahun Di istana itu, di luar tempat tinggal selir-selir favorit, ada suatu tempat bernama "Tempat perkumpulan Djinn" yang diapit oleh bangunan-bangunan. Saya terpesona dengan konsep ini. Kita biasanya tidak percaya dengan daerah-daerah semacam itu daerah yang diapit oleh tempat-tempat lain Kita menganggapnya sebagai wilayah hunian makhluk-makhluk halus seperti djinn, yang berwujud seperti api tak berasap, dan yang merupakan lambang dari sesuatu yang sulit digapai. Tapi mungkin maksud saya adalah ruang yang sulit digapai tadi adalah sesuatu yang paling diperlukan para penulis dan seniman. Saat saya menulis karangan fiksi Saya amat menyukai kesukaran dan perubahan. Saya senang jika saya tidak tahu apa yang akan terjadi 10 halaman ke depan. Saya senang apabila tokoh-tokoh saya membuat saya tercengang. Saya bisa saja menulis tentang seorang wanita Muslim di suatu novel. Dan mungkin itu bisa menjadi suatu cerita bahagia. Dan di novel yang selanjutnya, saya bisa saja menulis tentang seorang profesor di Norwegia yang tampan dan homoseksual. Selama semua itu datang dari hati kita, kita bisa menulis tentang apa saja dan segalanya.
Audre Lorde pernah mengatakan, "Guru-guru besar kulit putih mengajarkan kita untuk berkata, "Saya berpikir, karena itu saya ada." Dia menyarankan, "Saya merasakan, karena itu saya bebas." Menurut saya itu adalah perubahan pola pikir yang menganggumkan. Namun tetapi, mengapa di kursus-kursus menulis kreatif masa kini, hal pertama yang kita ajarkan pada murid-murid adalah tulislah apa yang kamu ketahui? Barangkali itu bukan cara memulai yang tepat. Sastra imajinatif bukan selalu tentang menulis siapa kita atau apa yang kita ketahui atau apa makna identitas kita. Kita seharusnya mengajarkan kaum muda dan diri sendiri untuk mengembangkan hati dan menulis apa yang kita rasakan. Kita patut meninggalkan sangkar budaya kita sendiri dan pergi mengunjungi sangkar-sangkar lain.
Pada akhirnya, semua kisah berpindah-pindah seperti halnya Kaum Darwis membentuk lingkaran di luar lingkaran. Mereka menghubungkan umat manusia, tanpa menghiraukan identitas politik. Dan itu adalah kabar baiknya. Dan saya ingin menutup dengan sebuah puisi tua Sufi. "Ayo, mari kita berteman kali ini; mari kita buat hidup menjadi mudah; mari menjadi orang yang mengasihi dan dikasihi; bumi ini tidak akan ditinggalkan untuk siapapun"
You can share this video by copying this HTML to your clipboard and pasting into your blog or web page. This video will play with subtitles.
You either have JavaScript turned off or have an old version of the Adobe Flash Player. To view this rating widget you
need to get the latest Flash player.
If your browser allows only "trusted sites" to execute Javascript, you should add the "googleapis.com" domain to your whitelist to allow our Flash detection to work properly.
Got an idea, question, or debate inspired by this talk? Start a TED Conversation.
Mendengarkan cerita bisa memperluas imajinasi; sedangkan menceritakannya memungkinkan kita melangkahi batasan-batasan budaya, menemukan pengalaman baru, merasakan apa yang dirasakan orang lain. Elif Shafak mengembangkan ide sederhana ini untuk menunjukkan bagaimana karya-karya fiksi dapat mengatasi identitas politik.
Elif Shafak explicitly defies definition -- her writing blends East and West, feminism and tradition, the local and the global, Sufism and rationalism, creating one of today's most unique voices in literature. Full bio »
Translated into Indonesian by Sarah Hemming
Reviewed by Antonius Yudi Sendjaja
Comments? Please email the translators above.
18:49 Posted: Oct 2009
Views 4,138,548 | Comments 759
17:36 Posted: Aug 2007
Views 305,904 | Comments 67
Just follow the guidelines outlined under our Creative Commons license.
This comment will be attributed to . Not ? Sign Out.