Perkenalkan, nama saya Ben Saunders. Spesialisasi saya adalah menarik barang-barang berat di tempat-tempat yang dingin.
Pada tanggal 11 Mei tahun lalu, Saya berdiri sendiri di Kutub Utara geografis. Sayalah satu-satunya manusia di daerah berukuran satu setengah kali lebih besar dari Amerika; sembilan ribu kilometer persegi. Lebih dari 2.000 orang telah berhasil mendaki gunung Everest. 12 orang telah mencapai bulan. Termasuk saya, hanya empat orang yang berhasil berski sendirian ke Kutub Utara. Dan saya pikir alasannya adalah -- (Tepuk tangan) -- terima kasih -- saya pikir alasannya adalah -- seperti apa yang telah dikatakan Chris, ketidakwarasan. Perjalanan yang tepat berada pada batas kemampuan manusia. Saya berski setara dengan 31 lari maraton bolak balik. 800 mil (1.287 kilometer) dalam waktu 10 minggu. Dan saya menarik semua makanan yang saya butuhkan, bekal, alat-alat, kantong tidur, satu pakaian dalam untuk ganti -- semuanya yang saya butuhkan selama hampir 3 bulan. (Tawa) Yang akan saya lakukan hari ini dalam sisa waktu kira-kira 16 menit adalah berusaha menjawab tiga buah pertanyaan. Yang pertama adalah mengapa? Yang kedua adalah, bagaimana Anda buang air kecil pada suhu -40 derajat? "Ben, saya pernah membaca bahwa pada suhu -40 derajat, kulit yang terpapar akan membeku dalam waktu kurang dari satu menit, jadi bagaimana Anda menjawab panggilan alam?" Saya tidak ingin menjawabnya sekarang. Saya akan menjawabnya di akhir pembicaraan ini. Yang ketiga: bagaimana Anda bisa mencapainya? Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?
Itu semua berawal pada tahun 2001. Ekspedisi pertama saya dilakukan dengan seorang pria bernama Pen Hadow -- seorang yang sangat berpengalaman. Itu seperti kesempatan bagi saya untuk magang. Kami berusaha untuk berski dari salah satu pulau di atas sana, Severnaya Zemlya, menuju ke Kutub Utara. Dan satu hal yang membuat saya terpesona dari Kutub Utara, Kutub Utara geografis, adalah lokasinya yang berada di tengah lautan. Inilah gambar terbaik yang dapat dilihat, dan untuk mencapainya, Anda harus berski di atas kerak yang membeku, pada es yang mengambang di Samudera Arktik. Saya telah berbicara dengan semua ahli. Saya telah membaca berbagai macam buku dan mempelajari beberapa peta dan grafik. Tapi saya menyadari pada pagi hari pertama ekspedisi saya bahwa saya tidak tahu persis mengapa saya melakukan ini.
Saat itu saya berumur 23 tahun. Tidak seorangpun yang seumuran dengan saya pernah mencoba melakukan ekspedisi seperti ini, dan dalam waktu yang cukup singkat, hampir semua yang mungkin gagal akhirnya menjadi gagal. Kami diserang oleh seekor beruang kutub pada hari kedua. Jari kaki kiri saya menderita radang dingin. Kami mulai kehabisan makanan. Kami berdua sangat kelaparan, kehilangan berat badan. Beberapa kondisi cuaca yang sangat luar biasa dan kondisi es yang sangat sulit. Kami memiliki alat komunikasi yang tidak begitu canggih. Kami tidak mampu membeli telepon satelit, jadi kami menggunakan radio berfrekuensi tinggi. Anda bisa melihat dua buah tongkat ski yang mencuat di atas atap tenda. Di sana ada kabel yang menjuntai di kedua sisi. Itulah antena radio berfrekuensi tinggi milik kami. Kami hanya memiliki waktu kurang dari dua jam untuk berkomunikasi dengan dunia luar dalam waktu 2 bulan. Pada akhirnya, kami kehabisan waktu. Kami telah berski sejauh 644 kilometer. Kami hanya butuh 322 kilometer lagi untuk mencapai Kutub Utara, dan kami kehabisan waktu. Kami sudah terlambat, esnya sudah mulai meleleh karena musim panas, kami berbicara melalui radio dengan beberapa pilot helikopter dari Rusia, dan mereka berkata, "Begini anak muda, Anda kehabisan waktu. Kami harus menjemput kalian." Dan saya merasa telah gagal, benar-benar gagal. Saya telah gagal.
Satu-satunya tujuan dan mimpi yang saya miliki yang bisa saya ingat -- saya tidak dapat mendekatinya. Dan pada perjalanan pertama itu, saya memiliki dua video klip khayalan yang saya putar berkali-kali dalam pikiran saya ketika perjalanan tersebut bertambah sulit, hanya untuk memotivasi saya. Khayalan pertama adalah mencapai Kutub itu sendiri. Saya bisa melihatnya dengan jelas, saya kira, difilmkan dari pintu helikopter dengan latar belakang musik rock yang diputar dan saya memegang tongkat ski dengan bendara Union Jack (bendera Britania Raya) yang tertiup angin. Saya dapat melihat diri saya memasang bendera itu pada tongkat, Anda tahu -- ah, momen kejayaan -- musiknya diputar semakin keras. Video klip kedua yang saya bayangkan adalah kembali ke Bandar Udara Heathrow, dan saya dapat melihat lagi, dengan jelas, lampu kamera di mana-mana, paparazzi, para pemburu tanda tangan, agen buku yang datang untuk membuat kesepakatan. Dan tentunya, tidak satupun dari semua itu terjadi. Kami tidak dapat mencapai Kutub, dan kami tidak memiliki uang sama sekali untuk membayar biaya promosinya, sehingga tidak ada yang pernah mendengar tentang ekspedisi ini.
Dan saya kembali ke Bandar Udara Heathrow. Ibu dan saudara laki-laki saya ada di sana, kakek saya ada di sana -- menggenggam bendera Union Jack kecil -- (Tawa) -- dan itu saja. Saya kembali tinggal bersama ibu saya. Saya lelah secara fisik, secara mental benar-benar hancur, menganggap diri saya gagal, Dengan hutang pribadi yang begitu banyak untuk ekspedisi ini, dan saya berbaring di sofa ibu saya, hari demi hari, menonton TV di siang hari. Saudara saya mengirimkan pesan teks, SMS, yang berisi -- sebuah kutipan dari "The Simpsons", yaitu, "Anda telah berusaha sekeras mungkin dan gagal total. Pesan moralnya adalah: jangan berusaha." (Tawa)
Kita percepat tiga tahun. Saya akhirnya bangkit dari sofa, dan mulai merencanakan ekspedisi selanjutnya. Kali ini, saya ingin pergi sendiri, dari Rusia, yang letaknya di paling atas di peta, ke Kutub Utara, yang terletak di tengah, dan berlanjut ke Kanada. Tidak ada satupun orang yang pernah melintasi Samudra Arktik sendirian. Dua orang Norwegia pernah melakukannya bersama pada tahun 2000. Tidak ada yang sendirian. Pendaki gunung asal Italia yang terkenal dan sukses, Reinhold Messner, mencobanya pada tahun 1995, dan dia diselamatkan setelah satu minggu. Dia menjelaskan bahwa ekspedisi ini 10 kali lebih berbahaya dari Everest. Jadi untuk beberapa alasan, inilah yang ingin saya terobos, tapi saya tahu bahwa peluang untuk dapat kembali ke rumah secara utuh, apalagi untuk dapat menyeberang ke Kanada, saya harus mengambil pendekatan yang radikal. Ini berarti, segala sesuatu dari penyempurnaan sikat gigi kecil kurang dari dua gram, sampai bekerja dengan salah satu ahli gizi terkemuka di dunia untuk menciptakan suatu stretegi yang benar-benar baru dan revolusioner: 6.000 kalori per hari.
Dan ekspedisi ini dimulai pada bulan Februari tahun lalu. Tim dukungan yang besar. Kami memiliki kru film, beberapa orang logistik bersama kami, pacar saya, seorang fotografer. Pada awalnya itu cukup masuk akal. Kami terbang dengan British Airways ke Moskow. Selanjutnya ke Krasnoyarsk di Siberia, menggunakan sebuah maskapai penerbangan domestik Rusia yang bernama KrasAir, dieja K-R-A-S. Selanjutnya, kami menyewa pesawat Rusia yang lumayan tua untuk menerbangkan kami ke sebuah kota kecil bernama Khatanga, yang merupakan peradaban terakhir yang dapat ditemukan di ujung sana. Juru kamera kami, yang ternyata cukup gugup untuk terbang dalam waktu yang terbaik bertanya kepada pilot, sebelum kami naik pesawat, berapa lama kami akan terbang, dan pilot itu -- pilot Rusia -- dengan datarnya, menjawab, menjawab, enam jam -- jika kita masih hidup. (Tawa) Kami sampai di Khatanga. Sepertinya, leluconnya adalah Khatanga bukanlah ujung dunia, tapi Anda dapat lihat sendiri di sana. (Tawa) Kami seharusnya tinggal disana semalam saja. Tapi kami terjebak selama 10 hari. Ada perselisihan antara pilot helikopter dan pemilik helikopter, jadi kami terjebak. Kami tidak bisa kemana-mana. Akhirnya, pagi hari ke 11, kami berhasil menyelesaikannya, memuat helikopternya -- dua helikopter terbang bersamaan -- menurunkan saya di tepi es. Kami mengambil gambar selama 45 menit, berfoto, ketika helikopternya masih di sana, saya melakukan wawancara dengan telepon satelit, dan semua orang naik helikopter untuk kembali, pintunya tertutup dan saya pun sendirian.
Dan saya tidak tahu apakah ada kata bisa menggambarkan momen tersebut. Saya hanya bisa berpikir untuk berlari ke pintu tersebut, menggedor pintunya dan berkata, "Begini teman-teman, saya belum memikirkan ini lebih dalam." (Tawa) Lebih parahnya lagi, Anda hanya dapat melihat titik putih di sisi kanan atas layar; itu adalah bulan purnama.
Karena kami berada di Rusia, tentunya, bulan purnama menyebabkan pasang naik tertinggi dan pasang surut terendah; ketika Anda berdiri pada permukaan laut yang beku, pasang naik dan pasang surut berarti hal-hal menarik akan terjadi -- es akan mulai bergerak sedikit. Saya, seperti yang dapat Anda lihat, menarik dua kereta salju. Jumlah seluruhnya, pangan dan bahan bakar untuk 95 hari, 180 kilogram -- beratnya hampir mencapai 400 pon. Ketika esnya datar, saya dapat menarik dua kereta tersebut. Ketika esnya tidak datar, saya tidak ingin mengambil resiko. Saya harus menarik salah satunya, meninggalkannya, dan kembali untuk mengambil kereta yang lain. Berjuang melawan apa yang disebut dengan tekanan es -- es yang telah dihancurkan karena tekanan dari arus laut, angin dan gelombang. NASA menggambarkan kondisi es tahun lalu adalah yang terburuk sejak pencatatan dimulai. Dan es tersebut selalu bergerak. Saya pernah berski melawan angin selama sembilan dari sepuluh minggu saya sendirian tahun lalu, dan saya lebih sering mengapung ke belakang. Rekor saya minus 2,5 mil (4 km). Saya bangun di pagi hari, membongkar tenda, meluncur ke utara selama tujuh setengah jam, memasang tenda, dan saya berada di posisi 2,5 mil lebih jauh ke belakang dibandingkan ketika saya memulainya. Saya tidak dapat mengejar cepatnya es itu bergerak.
(Video): Jadi ini adalah hari ke 22. Saya berbaring di tenda, bersiap-siap untuk pergi. Cuacanya begitu mengerikan -- oh, saya mengapung ke belakang kira-kira sejauh 5 mil (8 km) semalam. Kemudian dalam ekspedisi ini, masalahnya bukan lagi es. Sebaliknya, kurangnya es -- air terbuka. Saya tahu ini terjadi. Saya tahu Arktik itu memanas. Saya tahu terdapat air terbuka yang lebih banyak. Dan saya memiliki senjata rahasia di lengan saya. Ini adalah sedikit biomimikri dari saya. Beruang kutub di Samudra Arktik bergerak dalam garis lurus. Jika mereka menemukan air, mereka akan memanjat, berenang di atasnya. Jadi kita menciptakan sebuah baju kering -- saya bekerja dengan sebuah tim di Norwegia -- berdasarkan semacam baju penyelamat -- Saya kira, pilot-pilot helikopter memakainya -- yang bisa saya pakai. Baju terusan itu menutupi sepatu bot dan sarung tangan saya, dapat ditarik ke sekitar wajah saya dan menutup begitu erat di sekitar wajah saya. Dan ini artinya saya dapat berski melalui es yang sangat tipis, dan jika saya gagal, itu bukan berarti dunia telah berakhir. Itu juga berarti, jika sesuatu yang paling buruk terjadi, saya sebenarnya dapat terjun dan berenang dan menarik kereta luncur. Teknologi radikal suatu pendekatan yang radikal -- tapi dapat bekerja dengan sempurna.
Hal menarik lain yang kami lakukan tahun lalu adalah dengan teknologi komunikasi. Pada tahun 1912, ekspedisi Shackleton's Endurance -- ada -- salah satu dari krunya, pria bernama Thomas Orde-Lees. Dia berkata, "Para penjelajah di tahun 2012, jika ada sesuatu yang tersisa untuk dieksplorasi, pasti akan membawa telepon nirkabel saku dilengkapi dengan teleskop nirkabel." Yah, Orde-Lees salah tebak sekitar delapan tahun. Ini adalah saku telepon nirkabel saya, telepon satelit Iridium. Teleskop nirkabel itu adalah kamera digital yang saya selipkan di saku. Dan setiap hari dalam 72 hari saya sendirian di atas es, saya menulis blog langsung dari tenda saya, mengirimkan sebagian kecil dari catatan harian, mengirimkan informasi dalam jarak yang dapat saya liput -- kondisi es, suhu -- dan foto sehari-hari. Ingat, 2001, kami memiliki kontak radio dengan dunia luar kurang dari 2 jam. Tahun lalu, menulis blog langsung pada saat ekspedisi yang telah digambarkan 10 kali lebih berbahaya daripada Everest. Ini bukanlah teknologi tinggi. Ini adalah navigasi yang disebut "whiteout" (kondisi yang mengakibatkan kurangnya visibilitas dan kontras) Ketika banyak kabut dan awan yang rendah, angin mulai meniup salju. Anda tidak dapat melihat banyak. Anda hanya dapat melihat, ada sebuah pita kuning terikat pada tongkat ski saya. Saya menentukan arah menggunakan arah angin. Kombinasi yang aneh antara teknologi tinggi dan rendah.
Saya berhasil mencapai Kutub pada tanggal 11 Mei. Saya butuh waktu selama 68 hari untuk mencapainya dari Rusia, dan tidak ada apapun di sana. (Tawa) Di Kutub bahkan tidak ada tiang. Di sana tidak ada apa-apa, semata-mata karena itu adalah lautan es yang mengambang. Letakkan dan tinggalkan tiang bendera disana, dengan segera akan berpindah, biasanya menuju Kanada atau Greenland. Saya tahu itu, tapi saya mengharapkan sesuatu. Perasaan aneh yang campur aduk: suhunya sangat hangat, terdapat banyak air terbuka, dan tentunya, sangat gembira karena saya dapat sampai disana atas jerih payah saya sendiri, tapi saya mulai menyadari bahwa peluang saya untuk dapat mencapai Kanada, yang jauhnya masih sekitar 400 mil (645 km), sangatlah kecil. Satu-satunya bukti yang saya miliki bahwa saya berada di sana adalah foto GPS saya yang buram, sebuah gadget kecil untuk navigasi satelit. Anda dapat melihatnya -- ada angka sembilan dan deretan nol disitu. Sembilan puluh derajat di utara -- ini terletak persis di Kutub Utara. Saya mengambil gambar itu. Duduk di atas kereta luncur saya. Membuat catatan harian dengan video. Mengambil beberapa gambar. Saya mengeluarkan telpon satelit saya. Saya menghangatkan baterainya di ketiak saya. Saya menghubungi 3 nomor. Saya menghubungi ibu saya. Saya menghubungi pacar saya. Saya menghubungi direktur utama sponsor saya. Dan saya dihubungkan dengan tiga pesan suara. (Tawa) (Video): Sembilan puluh. Ini perasaan yang sangat istimewa. Seluruh planet berputar di bawah kaki saya. Seluruh dunia ini berada di bawah kaki saya. Saya akhirnya dapat menghubungi ibu saya. Beliau sedang mengantri di supermarket. Beliau mulai menangis. Beliau menyuruh saya untuk menghubunginya lagi. (Tawa)
Saya berski selama seminggu melewati Kutub. Saya ingin sedapat mungkin mendekat ke Kanada sebelum kondisi disana menjadi terlalu berbahaya untuk melanjutkannya. Ini adalah hari terakhir saya berada di atas es. Saat saya berbicara pada -- tim manajemen proyek saya, mereka berkata, "Begini, Ben, kondisinya semakin berbahaya. Ada daerah perairan terbuka di selatan Anda. Kami akan menjemput Anda. Ben, dapatkah Anda mencari lahan untuk landas pacu?" Ini adalah pemandangan di luar tenda saya ketika saya mendapatkan telepon penting itu. Saya tidak pernah berusaha untuk membuat landasan sebelumnya. Tony, manajer ekspedisi, berkata, "Begini Ben, Anda harus mencari 500 meter es yang datar dan tebal." Satu-satunya es yang saya dapat temukan -- saya butuh waktu 36 jam berski untuk mencari lahan untuk landas pacu -- panjangnya 473 meter. Saya dapat mengukurnya dengan tongkat ski saya. Saya tidak memberi tahu Tony ataupun pilot tentang hal itu. Saya pikir, pasti bisa. (Video): Oh, oh, oh, oh, oh, oh.
Pendaratan yang lumayan dramatis -- pesawat itu sebenarnya lewat lebih dari empat kali, dan saya sedikit khawatir pesawat itu tidak akan bisa mendarat. Pilot itu, saya tahu, bernama Troy. Saya sudah mengharapkan seseorang bernama Troy yang mencari penghidupan dengan ini dan merupakan lelaki yang cukup tangguh. Saya meneteskan air mata pada saat pesawat mendarat; sebuah momen yang cukup emosional. Jadi saya pikir, saya harus menenangkan diri untuk Troy. Saya harus menjadi penjelajah yang kasar dan kuat. Pesawat mendarat sampai ke tempat saya berdiri. Pintu terbuka. Orang ini melompat keluar. Dia setinggi ini. Dia berkata, "Hai, nama saya Troy." (Tawa) Ko-pilotnya seorang wanita bernama Monica. Dia duduk disitu mengenakan baju wol yang dirajut tangan. Mereka adalah orang-orang paling tidak jantan yang pernah saya temui, tapi mereka membuat saya gembira. Troy -- Troy merokok di atas es, kami mengambil beberapa foto. Dia -- menaiki tangga. Dia berkata, "Masuk lewat belakang saja." Dia membuang rokoknya ketika dia sampai di depan pesawat, dan saya memanjat lewat belakang. (Tawa) Pesawatnya berjalan di atas es beberapa kali, hanya untuk meratakan esnya, dan dia berkata, "Baiklah, saya akan -- Saya akan mencoba untuk menerbangkannya." Dan dia -- saya sekarang tahu bahwa ini adalah praktik standar, tapi itu membuat saya khawatir saat itu. Dia meletakkan tangannya di atas tuas. Anda dapat melihat kontrol untuk mesin di atas kokpit. Di batang kecil itu. Dia meletakkan tangannya di atas tuas. Monica dengan sangat hati-hati meletakkan tangannya di atas tangan Troy. Saya berpikir, "Tuhan, kami sudah siap. Kami, kami -- ini akan berhasil atau tidak sama sekali." Menabrak ke depan. Memantul di landasan. Akhirnya lepas landas. Salah satu tongkat ski saya terpotong bukit es pada ujung landasan, berbelok. Saya dapat melihat ke dalam kokpit, Troy berjuang mengendalikan pesawat, dan dia melepas satu tangannya, mencapainya kembali, menyalakan sebuah tombol di atap kokpit, dan itu adalah tanda "kencangkan sabuk pengaman" yang dapat Anda lihat di dinding. (Tawa) Dan hanya dari udara saya dapat melihat gambaran besarnya. Tentunya, ketika Anda di atas es, Anda hanya melihat satu kendala dalam satu waktu, dalam bentuk tekanan pegunungan atau terdapatnya sedikit air. Dan inilah mengapa saya tidak mendapat masalah mengenai panjangnya landas pacu. Maksud saya, esnya benar-benar mulai retak.
Mengapa? Saya bukanlah penjelajah dalam arti tradisional. Saya tidak berski sepanjang yang sudah ditentukan peta, semua orang tahu dimana letak Kutub Utara. Di Kutub Selatan terdapat pusat ilmiah yang besar. Ada sebuah lapangan terbang. Disana ada kafe dan toko cindera mata. Bagi saya, ini adalah tentang eksplorasi batas-batas manusia, tentang eksplorasi batas-batas fisiologi, psikologi, dan teknologi. Semua ini membuat saya bergairah. Dan itu juga tentang potensi, pada tingkat pribadi. Bagi saya, ini adalah suatu kesempatan untuk menjelajahi batas-batas -- yang benar-benar mendorong batas potensi saya sendiri, melihat seberapa jauh batas itu dapat meregang. Dan pada skala yang lebih luas, saya kagum pada bagaimana orang menjalani kehidupan dengan menggores permukaan potensi mereka, hanya melakukan tiga atau empat atau lima persen dari apa yang mereka benar-benar mampu. Jadi, pada skala yang lebih luas, saya harap perjalanan ini adalah sebuah kesempatan untuk mengilhami orang lain untuk berpikir tentang apa yang ingin mereka lakukan dengan potensi mereka, dan apa yang ingin mereka lakukan dengan waktu sedikit yang kita miliki masing-masing. Itulah yang bisa saya simpulkan.
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana Anda menjawab panggilan alam pada suhu -40 derajat? Jawabannya, tentu saja, sebuah rahasia dagang -- dan pertanyaan terakhir, apa selanjutnya? Secepat mungkin, jika saya memiliki satu menit lagi, saya akan menjelaskannya lebih rinci. Selanjutnya adalah: Antartika. Benua yang terbeku, tertinggi, paling berangin dan terkering di bumi. Akhir tahun 1911, awal tahun 1912, ada perlombaan untuk dapat mencapai Kutub Selatan: jantung benua Antartika. Jika Anda menyertakan rak es pantainya, Anda bisa melihat bahwa Ross Ice Shelf -- yang berukuran besar disana -- Ross Ice Shelf berukuran sebesar Prancis. Antartika, jika Anda menyertakan bagian esnya, berukuran dua kali lipat Australia -- sangat besar. Dan terdapat pertarungan untuk mencapai Kutub di antara Amundsen, orang Norwegia -- Amundsen memiliki anjing untuk kereta luncur dan anjing Eskimo -- dan Scott, pria Inggris, Kapten Scott. Scott memiliki semacam kuda poni dan beberapa traktor dan beberapa anjing, yang semuanya kacau, Scott dan 4 orang timnya akhirnya harus berjalan kaki. Mereka mencapai Kutub Selatan pada akhir Januari tahun 1912 dan menemukan bendera Norwegia di sana. Di sana ada sebuah tenda, sebuah surat untuk raja Norwegia. Dan mereka berbalik arah, kembali ke daerah pesisir, dan mereka semua meninggal dalam perjalanan pulang. Sejak itu, tidak satupun orang pernah berski -- ini terjadi 93 tahun yang lalu -- sejak saat itu, tidak satupun orang pernah berski dari pesisir Antartika ke Kutub dan kembali. Setiap ekspedisi Kutub Selatan yang pernah Anda dengar menggunakan pesawat atau kendaraan untuk kembali dari Kutub atau menyeberang menggunakan anjing atau layang-layang -- tidak seorangpun dapat melakukan perjalanan bolak balik. Jadi, itulah rencananya. Kami berdua akan melakukannya. Hanya itu saja.
Satu gagasan terakhir sebelum saya berbicara tentang toilet adalah -- adalah, saya memiliki sebuah -- saya bermaksud untuk memindai ini dan saya lupa tapi saya memiliki -- saya memiliki rapor sekolah. Saat itu saya berumur 13 tahun, dan rapor tersebut dibingkai di atas meja belajar di rumah. Di rapor itu tertulis, "Ben tidak memiliki dorongan yang cukup untuk mencapai sesuatu yang berharga." (Tawa) (Tepuk tangan) Saya kira, jika saya mempelajari sesuatu, itu adalah: tidak seorang pun mempunyai wewenang pada potensi Anda. Andalah satu-satunya orang yang menentukan kemampuan Anda dan seberapa jauh anda bisa pergi. Para hadirin semua, itulah kisah saya. Terima kasih. Terima kasih.
You can share this video by copying this HTML to your clipboard and pasting into your blog or web page. This video will play with subtitles.
You either have JavaScript turned off or have an old version of the Adobe Flash Player. To view this rating widget you
need to get the latest Flash player.
If your browser allows only "trusted sites" to execute Javascript, you should add the "googleapis.com" domain to your whitelist to allow our Flash detection to work properly.
Got an idea, question, or debate inspired by this talk? Start a TED Conversation.
Penjelajah Arktik Ben Saunders menceritakan perjalanan ski solonya ke Kutub Utara yang sangat sulit, lengkap dengan anekdot, foto yang indah, dan video yang belum pernah dilihat sebelumnya.
In 2004, Ben Saunders became the youngest person ever to ski solo to the North Pole. In 2013, he’ll set out on another record-breaking expedition, this time to be the first to walk from the coast of Antarctica to the South Pole, and back again. Full bio »
Translated into Indonesian by Amalia Sanusi
Reviewed by Antonius Yudi Sendjaja
Comments? Please email the translators above.
12:13 Posted: Apr 2009
Views 523,619 | Comments 96
17:43 Posted: Jun 2007
Views 701,171 | Comments 201
12:15 Posted: Mar 2009
Views 336,091 | Comments 53
Just follow the guidelines outlined under our Creative Commons license.
This comment will be attributed to . Not ? Sign Out.