Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih pada anda semua. Selanjutnya saya ingin memperkenalkan rekan saya sesama penulis rekan sesama guru. Ken dan saya sudah bekerja sama selama hampir 40 tahun. Teman saya, Ken Sharpe.
Banyak sekali orang -- termasuk saya dan kebanyakan orang yang saya temui -- merasakan adanya ketidakpuasan kolektif terhadap cara bagaimana segala sesuatu berjalan, cara bagaimana berbagai institusi berjalan. Guru anak-anak kita nampak tidak berhasil mendidik mereka. Dokter tidak tahu siapa kita, dan mereka tidak punya banyak waktu bagi kita. Kita tidak dapat mempercayai para bankir, dan kita juga tidak dapat mempercayai para pialang. Sebab merekalah yang hampir menghancurkan seluruh sistem keuangan kita. Dan bahkan ketika kita mengerjakan pekerjaan sendiri, terlalu sering, kita menemukan diri kita pada situasi harus memilih antara melakukan apa yang menurut kita benar atau melakukan apa yang diharuskan, atau sesuatu yang harus dilakukan, atau sesuatu yang menguntungkan. Kemanapun kita memandang, dimana-mana, kita merasa khawatir bahwa orang-orang yang menjadi tempat kita bergantung tidak sungguh-sungguh sepenuh hati memperhatikan kepentingan kita. Atau meski ketika mereka dengan sepenuh hati memperhatikan kepentingan kita, kita tetap khawatir jika mereka tidak benar-benar mengenal kita hingga mereka tahu apa yang harus mereka lakukan agar kita merasa aman dengan semua kepentingan kita. Mereka tidak memahami kita. Mereka tak punya banyak waktu untuk mengenal kita.
Terdapat dua jenis respon yang kita ambil terhadap ketidakpuasan general ini. Jika segala sesuatu berjalan tidak benar, respon yang pertama adalah: mari kita buat lebih banyak aturan, mari kita susun prosedur yang lebih detil guna menjamin bahwa orang-orang akan melakukan hal yang benar. Berikan guru skrip yang harus mereka ikuti ketika mengajar di kelas, hingga jika mereka tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, dan tak peduli dengan pendidikan anak-anak kita, selama mereka mengukti skrip itu, maka anak kita akan tetap terdidik. Berikan para hakim daftar hukuman wajib yang harus diberikan pada berbagai macam kejahatan, hingga mereka tidak harus bersandar pada pengambilan keputusan yang menggunakan penilaian pribadi mereka. Yang harus mereka lakukan adalah membuka daftar berbagai jenis hukuman yang pantas untuk tiap jenis kejahatan. Tetapkan batasan tentang apa yang perusahaan kartu kredit akan bebankan pada kita sebagai bunga atau sebagai biaya. Semakin banyak aturan guna melindungi kita dari berbagai macam institusi yang tak memiliki kepedulian yang harus kita hadapi.
Atau - mungkin juga -- dan selain aturan-aturan tersebut, mari kita lihat apakah kita mampu menyusun beberapa insentif cerdas hingga, meski orang-orang yang kita hadapi tidak mau memperhatikan kepentingan kita, tapi mereka memiliki kepentingan untuk melayani kepentingan kita -- insentif ajaib yang akan mendorong orang melakukan hal yang benar meski dengan keegoisan. Jadi, kita menawarkan banyak bonus kepada guru, jika siswa yang mereka ajar mampu lulus ujian dengan meyakinkan yang biasa digunakan untuk mengevaluasi kualitas sistem sekolah kita.
Aturan dan insentif --, tongkat dan wortel. Kita menyusun begitu banyak aturan untuk mengatur industri keuangan sebagai respon terhadap kejatuhan ekonomi saat ini. Ada yang namanya Dodd-Frank Act ada pula the new Consumer Financial Protection Agency (Lembaga Perlindungan Konsumen Keuangan) yang untuk sementara dipimpin oleh Elizabeth Warren. Mungkin aturan-aturan tersebut akan dapat meningkatkan cara bagaimana perusahaan layanan jasa keuangan berperilaku. Mari kita lihat. Selain itu, kita berjuang untuk menemukan cara-cara penciptaan insentif bagi orang-orang yang bekerja di industri keuangan hingga mendorong mereka lebih tertarik untuk melayani bunga jangka panjang bahkan meski itu perusahaan mereka, daripada mengambil keuntungan jangka pendek. Jaid, jika kita mampu menemukan insentif yang tepat, mereka akan melakukan hal yang benar -- seperti saya bilang -- dengan egois dan jika kita menetapkan aturan dan regulasi, maka mereka tidak akan menjerumuskan kita. Ken dan saya tahu bahwa anda harus mengalahkan para bankir. Jika ada pelajaran yang dapat dipelajari dari kebangkrutan sektor finansial, maka itulah pelajarannya.
Namun kami meyakini, dan apa yang kami ungkapkan dalam buku kami, adalah bahwa aturan tersebut tidak ada, sebagaimanapun detilnya, sebagaimanapun spesifiknya, sebagaimanapun cermatnya pengawasan dan penegakan, tidak ada seperangkat aturan yang membantu kita memperoleh apa yang kita butuhkan. Kenapa? Sebab para bankir adalah orang-orang cerdas. Dan, seperti air, mereka akan merembas mencari celah dari berbagai aturan yang ada. Anda merancang aturan yang akan menjamin bahwa alasan tertentu kenapa sistem keuangan mengalami kebangkrutan tidak dapat terjadi lagi. Merupakan sesuatu yang naif jika kita berpikir bahwa dengan memblok sumber kebangkrutan keuangan ini, berarti kita telah berhasil memblok semua kemungkinan sumber kebangkrutan keuangan. Sungguh mengherankan dan ajaib bagaimana kita begitu bodohnya selama ini membiarkan diri kita untuk tidak melakukan perlindungan atas kondisi tersebut.
Apa yang sangat kita butuhkan, selain aturan-aturan yang lebih baik dan insentif yang lebih cerdas, adalah kita butuh kebajikan, kita butuh karakter, kita butuh orang yang ingin melakukan sesuatu yang benar. Dan secara khusus, kebajikan yang paling kita butuhkan adalah kebajikan yang oleh Aristotelese sebutkan sebagai kebajikan praktis. Kebajikan praktis adalah kemauan secara moral untuk melakukan hal yang benar serta keterampilan moral untuk mencari tahu apakah yang benar itu. Jadi, Aristoteles sangat tertarik untuk memperhatikan bagaimana para pengrajin yang bekerja disekeliling dia. Dan dia sangat terkesan dengan bagaimana mereka mengimprovisasikan solusi baru untuk memecahkan masalah yang baru mereka temukan -- masalah yang mereka tidak antisipasi sebelumnya. Salah satu contohnya adalah ketika dia melihat pengrajin batu yang bekerja di Pulau Lesbos, dan mereka harus mengukur luas lingkaran. Jika anda merenungkannya, sulit sekali mengukur lingkaran-lingkaran dengan menggunakan penggaris. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka menerapkan solusi baru yang sederhana untuk memecahkan masalah tersebut. Mereka membuat penggaris yang bisa melengkung, apa yang hari ini kita sebut dengan meteran -- meteran yang fleksibel, meteran yang dapat melengkung. Dan Aristoteles berkata, haaa, mereka menemukan bahwa kadang untuk mendesain sebuah lingkaran, mereka harus membengkokan meteran. Aristoteles berkata sering ketika kita berhadapan dengan orang-orang, kita harus membelokan berbagai aturan.
Berhadapan dengan orang lain menuntut adanya fleksibilitas yang tak satu pun aturan memilikinya. Orang yang bijak mengetahui kapan dan bagaimana membelokan aturan. Orang bijak tahu bagaimana berimprovisasi. Cara bagaimana saya dan rekan penulis saya, Ken, membahas hal ini, mereka seperti musisi jazz; aturan-aturan ibaratnya notasi nada yang ada pada papan nada, dan anda bermain musik mengikuti nada tersebut, namun kemudian anda memodifikasi notasi tersebut, melakukan kombinasi nada agar sesuai dengan momen tertentu dan menyelaraskan dengan pemain musik yang lain. Jadi, bagi Aristoteles, pembelokan aturan, pengecualian dalam aturan dan improvisasi seperti yang anda lihat pada para pengrajin adalah apa yang sesunguhnya anda butuhkan agar menjadi seorang pengrajin moral yang terampil. Dan pada interaksi dengan banyak orang, hampir setiap saat, jenis fleksibilitas inilah yang dibutuhkan. Seorang bijak mengetahui kapan harus membelokan aturan. Seorang bijak mengetahui kapan harus berimprovisasi. Dan yang paling penting, seorang bijak melakukan improvisasi dan pembelokan aturan dengan tujuan yang benar. Jika anda seorang pembelok aturan dan senang melakukan improvisasi yang tujuan utamanya untuk kepentingan anda sendiri, maka apa yang akan anda dapatkan adalah kejahatan tanpa belas kasihan terhadap orang lain. Makanya, sangat penting jika anda melakukan praktik bijak ini dengan tujuan melayani orang lain bukan melayani kepentingan sendiri. Dan kemauan untuk melakukan hal yang benar sama pentingnya dengan keterampilan moral improvisasi dan pengecualian. Secara bersamaan semua hal tersebut membentuk kebijakan praktis, yang oleh Aristoteles anggap sebagai master kebijakan.
Saya akan memberikan anda contoh tentang kebijakan praktis dalam penerapannya. Ini adalah kisah seorang Michael. Michael adalah seorang anak muda. Dia memiliki pekeraan dengan gaji yang rendah. Dia harus menghidupi isteri dan seorang anak, dan anaknya tersebut belajar di sekolah paroki. Kemudian dia kehilangan pekerjaan. Dia panik dan bingung tentang bagaimana menghidupi keluarganya. Suatu malam, dia terlalu banyak minum, mabuk, dan dia merampok seorang supir taksi -- mengambil uangnya sebesar $50. Dia merampok supir itu dengan menggunakan pistol. Pistol tersebut hanyalah pistol mainan. Dia tertangkap, lalu diadili dan dia dihukum. Menurut panduan hukuman negara bagian Pennsylvania, hukuman minimal untuk kejahatan seperti ini adalah 2 tahun, atau 24 bulan. Hakim pada kasus ini, Hakim Lois Forer beranggapan bahwa ketentuan hukuman tersebut tak masuk akal. Michael tidak pernah melakukan kejahatan sebelumnya. Dia seorang ayah dan suami yang bertanggungjawab. Dia berada pada situasi yang sangat sulit. Hukuman seberat itu hanya akan menghancurkan sebuah keluarga. Dan akhirnya hakim tersebut hanya menghukum Michael dengan hukuman 11 bulan. Dan bukan hanya itu, Michael diperbolehkan keluar setiap hari untuk bekerja. Jadi, pada malam hari dia dipenjara, dan siang hari dia bekerja. Dia menjalani hukuman itu. Dia memperoleh pemulihan dan berhasil memperoleh pekerjaan. Keluarga tersebut tetap utuh.
Dan nampaknya sebagai sebuah kisah hidup yang indah -- sebuah kisah yang berakhir bahagia yang melibatkan improvisasi bijak dari seorang hakim yang bijak. Namun sang penuntut tidak senang dengan keputusan tersebut yang menurutnya Hakim Forer telah mengabaikan panduan hukuman dan mengambil keputusan hukuman berdasarkan hukumnya sendiri, dan dia pun mengajukan banding. Dia menuntut agar Michael dihukum sesuai dengan ketentuan hukuman minimal untuk tindakan perampokan. Bahkan menurutnya, perampokan tersebut melibatkan senjata api; yang sebenarnya hanya mainan. Hukuman wajib minimum untuk perampokan bersenjata adalah lima tahun penjara. Dia berhasil memenangi tuntutan keberatannya. Michael dihukum penjara 5 tahun. Hakim Forer harus mengikuti aturan hukum. Dan pengajuan banding tersebut dilakukan setelah Michael menghabiskan masa hukumannya, ketika dia sudah bebas dan kembali bekerja mengurus keluarganya dan akhirnya dia harus kembali ke penjara. Hakim Forer melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, hingga akhirnya dia mengundurkan diri. Dan Michael menghilang. Ini adalah sebuah contoh tentang kebijakan praktis dan kebijakan subversi yang taat pada hukum yang bertujuan, tentunya, untuk menjadikan segala hal lebih baik.
Sekarang, perhatikan contoh berikutnya, Ms. Dewey. Ms. Dewey adalah seorang guru di sebuah Texas Elementary School. Suatu hari dia menyimak pembicaraan seorang konsultan yang akan membantu para guru meningkatkan skor ujian siswa, hingga sekolah tersebut mampu mencapai status sebagai sekolah elit berdasarkan persentase angka kelulusan siswa pada ujian. Semua sekolah di Texas saling bersaing satu sama lain guna mencapai target tersebut, dan terdapat bonus serta berbagai macam hadiah jika satu sekolah bisa mengalahkan sekolah lain. Berikut ini adalah saran dari konsultan tersebut: pertama-tama, jangan buang-buang waktu mengajar siswa yang akan mampu lulus ujian apapun yang anda lakukan. Kedua, jangan buang-buang waktu mengajar siswa yang tidak akan lulus tes apapun yang anda lakukan. Ketiga, jangan buang-buang waktu mengajar siswa yang pindah ke distrik ini telat hingga skor mereka tidak terhitung. Tapi, fokuskanlah waktu dan perhatian pada siswa yang ada pada "bubble" yakni anak-anak yang disebut dengan "bubble kids" -- yakni anak-anak dimana sekiranya hasil pengajaran anda hanya akan menjadikan mereka sedikit saja diatas garis antara gagal dan lulus. Ms. Dewek mendengar ini, dia menggelengkan kepala dengan penuh putus asa ketika rekannya guru yang lain penuh senyum satu sama lain dan setuju terhadap saran dari konsultan itu. Seolah mereka sedang bersiap-siap melakukan pertandingan sepakbola. Bagi Ms. Dewey, ini bukanlah alasan kenapa dia bekerja jadi guru.
Ken dan saya tidaklah naif, dan kami memahami bahwa anda harus memiliki aturan-aturan. Anda harus memiliki insentif. Orang harus mencari penghidupan. Namun, masalah yang muncul ketika kita bersandar pada aturan dan insentif adalah bahwa hal tersebut menjadi demoralisasi aktifitas profesional. Hal tersebut mendemoralisasi aktifitas profesional dalam dua hal. Pertama, mendemoralisasi orang-orang yang terlibat dalam aktifitas tersebut. Hakim Forer mengundurkan diri dan Ms. Dewey sangat terkecewakan. Kedua, hal tersebut mendemoralisasikan aktifitas itu sendiri. Praktik utama aktifitas tersebut terdemoralisasikan dan begitu juga para praktisinya ikut terdemoralisasikan. Hal inilah yang kemudian menciptakan orang-orang -- ketika anda menggunakan insentif untuk mendorong orang melakukan hal yang benar -- menciptakan orang-orang yang tercandukan oleh insentif. Yakni, menciptakan orang-orang yang hanya melakukan sesuatu demi insentif.
Dan yang paling mengejutkan dari semua ini adalah bahwa para psikolog telah mengetahui hal ini selama 30 tahun. Para psikolog telah mengetahui dampak negatif dari pemberian insentif atas segala hal selama 30 tahun. Kita tahu bahwa jika anda memberikan hadiah kepada anak-anak atas gambar yang dibuatnya, maka mereka tidak akan lagi fokus pada kegiatan menggambarnya melainkan hanya pada hadiahnya. Jika anda memberi hadiah pada anak karena mereka rajin membaca, maka anak tidak akan lagi peduli dengan apa yang dibacanya, melainkan hanya peduli pada seberapa lama mereka membacanya. Jika anda memberikan hadiah pada guru karena nilai ujian siswa naik, maka mereka akan berhenti bekerja untuk mendidik, melainkan hanya bekerja untuk mempersiapkan tes. Jika anda menghadiahi para dokter karena memberikan pelayanan yang lebih -- seperti pada sistem sekarang -- maka mereka akan melakukan lebih dari itu lagi. Dan jika anda menghadiahi para dokter atas prosedur pelayanan yang kurang, maka mereka pun akan semakin kurang dalam memberikan pelayanan. Yang kita mau, tentunya, adalah dokter yang melakukan prosedur pelayanan seperti seharusnya dan dengan cara dan alasan yang benar -- yakni, untuk melayani kesehatan para pasien. Psikolog mengetahui hal ini selama beberapa dekade, dan sekarang waktunya bagi para pengambil kebijakan untuk mulai menaruh perhatian dan mendengar apa kata para psikolog, bukan hanya mendengar apa kata para ahli ekonomi.
Dan tak harus seperti ini jalannya, Menurut saya dan Ken, sebenarnya terdapat sumber utama harapan. Kami mengidentifikasi sekelompok orang pada semua praktik ini orang-orang yang kami sebut dengan penjahat cerdik. Mereka adalah orang-orang yang, karena terdorong untuk bekerja pada sebuah sistem yang menuntut adanya ketaatan pada aturan dan menciptakan insentif, berhasil menemukan cara lain di sekitar aturan-aturan tersebut, berhasil menemukan cara bagaimana mengingkari aturan-aturan tersebut. Mereka adalah para guru yang memiliki skrip untuk diikuti dan mereka tahu bahwa jika mereka mengikuti skrip itu, maka siswa takkan mempelajari apa-apa. Lalu apa yang mereka lakukan adalah mereka mengikuti skrip itu, tapi mereka mengikuti skrip itu dengan melakukan penambahan cara-cara mengajar yang mereka yakini sebagai cara yang efektif. Jadi, terdapat pahlawan-pahlawan kecil dalam keseharian kita, dan mereka sangat luar biasa mengagumkan, namun mereka tak mampu mempertahankan akitiftas seperti ini pada sebuah sistem yang menyesatkan dan menggelincirkan mereka keluar dari jalur yang seharusnya.
Penjahat-penjahat kecil itu jelas lebih baik daripada tidak ada sama sekali namun sulit membayangkan bagaimana penjahat kecil mampu bertahan dengan kinerja seperti itu pada periode waktu tertentu. Harapan lainnya adalah orang-orang yang kami sebut dengan perubah sistem. Mereka adalah orang-orang yang bukan berhasrat untuk mengelak dari aturan dan regulasi sistem, melainkan melakukan transformasi pada sistem tersebut, dan kami membahas beberapa diantara orang tersebut. Salah satunya adalah seorang hakim bernama Robert Russell. Suatu hari dia dihadapkan pada kasus Gary Pettengill. Pettengil adalah seorang veteran berusia 23 tahun yang memiliki rencana berkarir di militer, namun kemudian dia mengalami kecelakaan parah ketika di Irak, yang memaksa dia untuk mengundurkan diri karena alasan medis. Dia menikah, dan memiliki tiga orang anak, dia menderita PTSD, selain karena kecelakaan pada bagian punggung dan mimpi buruk yang selalu terulang, dia mulai menggunakan mariyuana untuk meringankan gejala sakitnya. Dia hanya mampu bekerja paruh waktu karena sakit pada punggungnya tersebut, dan karena itu dia tak mampu memperoleh unag yang cukup untuk membeli makan dan menghidupi keluarganya. Lalu dia mulai berjualan mariyuana. Dia tertangkap pada sebuah operasi obat-obatan terlarang. Keluarganya diusir dari apartemen mereka, dan lembaga berwenang mengancam akan mengambil alih pengasuhana anak-anaknya.
Berdasarkan prosedur hukuman yang normal, Hakim Russel tak memiliki banyak pilihan selain menghukum Pettengil dengan hukuman penjara serius atas tindakan memperdagangkan narkoba. Namun, hakim Russel melakukan sebuah alternatif. Dan karena dia bekerja pada pengadilan khusus. Dia bekerja pada pengadilan yang disebut dengan pengadilan veteran. Pada pengadilan veteran tersebut -- hal ini merupakan yang pertama di Amerika Serikat. Hakim Russel mendirikan pengadilan veteran tersebut. Pengadilan tersebut khusus untuk para peteran yang melanggar hukum. Dan hakim Russel mendirikan pengadilan tersebut karena sistem penghukuman yang biasa melakukan penghakiman tidak sesuai dengan aturan hukum. Tak seorang pun menginginkan agar penjahat tanpa kekerasan -- khususnya penjahat tanpa kekerasan yang juga seorang veteran -- harus dipenjara. Mereka menginginkan sesuatu yang kita ketahui bersama, yakni perubahan pada sistem pengadilan kriminal. Dan apa yang pengadilan veteran lakukan, adalah memperlakukan tiap pelaku kejahatan sebagai seorang individu, mencoba memahami masalah mereka secara lebih dalam, mencoba memberikan respon berbeda terhadap tindak kejahatan mereka yang membantu mereka merehabilitasi diri sendiri, dan tidak mengabaikan mereka ketika vonis hukuman sudah dijatuhkan. Tetap bersama mereka, ikuti mereka, pastikan bahwa mereka tetap pada apapun rencana yang sudah disusun bersama untuk membantu mereka melewati masa-masa sulit.
Saat ini ada 22 kota yang memiliki pengadilan veteran seperti itu. Kenapa ide seperti ini menyebar? Satu alasannya adalah bahwa Hakim Russell melihat ada 108 veteran di pengadilan veteran yang dia kelola pada bulan Februari tahun ini, dan dari 108 veteran tersebut, tebak, berapa orang yang harus mendekam dalam penjara pengadilan biasa. Tak satu pun. Orang bisa saja mengatakan bahwa sistem pengadilan kriminal berada pada kondisi muram jika melihat catatan rekor seperti ini. Jadi, inilah yang disebut dengan perubah sistem, dan nampak sangat menarik.
Ada seorang bankir yang mendirikan sebuah bank rakyat yang berorientasi pada keuntungan yang mendorong pada bankir -- saya tahu sulit dipercaya emang -- mendorong para bankir bekerja pada bank tersebut dengan sungguh-sungguh melakukan hal-hal yang baik demi melayani nasabah mereka yang berasal dari masyarakat kelas bawah. Bank tersebut membantu sektor keuangan membangun kembali masyarakat yang sedang dalam kondisi sekarat. Meski penerima pinjaman mereka adalah pinjaman beresiko tinggi, namun ratingnya sangat rendah. Bank tersebut berhasil meraih laba. Para bankir tersebut tetap setia melayani nasabah pinjaman mereka. Mereka tidak menyediakan dan menjual pinjaman. Melainkan, mereka memberikan layanan pinjaman. Mereka memastikan bahwa penerima pinjmana mereka tetap mampu melakukan pembayaran. Dunia perbankan tidak pernah seperti ini jika kita membaca berita di media massa. Bahkan Goldman Sachs pernah melayani nasabah seperti itu, sebelum bank tersebut berubah menjadi lembaga yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Perbankan tidak selalu seperti ini, dan tak harus seperti ini.
Juga terdapat contoh seperti pada dunia kesehatan -- dokter-dokter di Harvard sedang mencoba mentransformasikan pendidikan kedokteran, hingga anda tidak akan menemukan adanya erosi etika dan hilangnya empati, yang menjadi ciri umum kebanyakan mahasiswa kedokteran dalam hal pendidikan medis mereka. Yang mereka lakukan adalah memberikan pasien kepada mahasiswa tingkat tiga jurusan kedokteran yang harus mereka awasi selama setahun penuh. Pasien tersebut bukanlah sistem organ, juga bukan penyakit, melainkan manusia, manusia hidup. Agar menjadi dokter yang efektif, anda harus merawat manusia yang bernyawa, yang sehat, bukan hanya tentang penyakit. Selain itu, Harvard juga menyediakan program mentoring bagi siswa satu sama lain, mentoring mahasiswa kedokteran oleh para dokter, dan hasilnya adalah sebuah generasi -- tentunya kita berharap -- generasi dokter yang memiliki banyak waktu untuk merawat pasien mereka. Mari kita lihat seperti apa.
Terdapat begitu banyak contoh seperti ini yang bisa kita bahas. Tiap contoh tersebut menunjukan bahwa sangat mungkin bagi kita untuk membangun dan memelihara karakter dan menjaga profesi agar tetap sesuai dengan misi yang seharusnya -- apa yang Aristoteles sebut dengan telos (tujuan) yang seharusnya. Ken dan saya percaya bahwa inilah yang sesungguhnya diinginkan para praktisi. Orang ingin diberikan keleluasaan agar menjadi bijak. Mereka ingin memperoleh kesempatan untuk melakukan hal yang benar. Mereka tidak ingin merasakan seolah mereka sedang mandi dimana mereka berusaha untuk membersihkan kotoran moral dari tubuh mereka ketika mereka pulang kerja.
Aristoteles beranggapan bahwa kebijakan praktis adalah kunci kebahagiaan, dan dia benar. Begitu banyak riset dilakukan dibidang psikologi berkaitan tentang apa yang membuat orang bahagia, dan dua hal muncul dari tiap studi tersebut -- Saya tahu ini akan membuat anda terkejut -- dua hal yang sangat berharga bagi kebahagiaan adalah cinta dan pekerjaan. Cinta: mengelola dengan baik hubungan dengan orang yang dekat dengan kita dan dengan masyarakat dimana kita berada. Pekerjaan: terlibat dalam aktifitas yang bermakna dan memuaskan. Jika anda memilikinya, hubungan baik yang dekat dengan orang lain, pekerjaan yang bermakna dan memuaskan, maka anda tak butuh apa-apa lagi.
Untuk mencintai dan bekerja dengan baik, anda membutuhkan kebijakan. Aturan dan insentif tidak menunjukan pada anda bagaimana menjadi teman yang baik, menjadi orang tua yang baik, menjadi pasangan yang baik, atau menjadi dokter atau pengacara yang baik, atau guru yang baik. Aturan dan insentif bukanlah pengganti dari kebijakan. Melainkan, menurut kami, tidak ada pengganti kebijakan itu. Kebijakan praktis tak membutuhkan tindakan heroik atau jagoan pada diri para praktisi. Agar memiliki kemauan dan keterampilan untuk melakukan hal yang benar -- melakukan hal yang benar untuk orang lain -- kebijakan praktis memberikan kita kemauan dan keterampilan untuk melakukan yang benar untuk diri sendiri.
You can share this video by copying this HTML to your clipboard and pasting into your blog or web page. This video will play with subtitles.
You either have JavaScript turned off or have an old version of the Adobe Flash Player. To view this rating widget you
need to get the latest Flash player.
If your browser allows only "trusted sites" to execute Javascript, you should add the "googleapis.com" domain to your whitelist to allow our Flash detection to work properly.
Got an idea, question, or debate inspired by this talk? Start a TED Conversation, or join one of these:
Pada sebuah forum yang santai, Barry Schwartz menguraikan pembahasan tentang "Bagaimana Kita Melakukan Hal yang Benar?". Dengan bantuan koleganya, Kenneth Sharpe, dia berbagi cerita yang mengilustrasikan perbedaan antara mengikuti aturan dan sungguh-sungguh memilih dengan bijak.
Barry Schwartz studies the link between economics and psychology, offering startling insights into modern life. Lately, working with Ken Sharpe, he's studying wisdom. Full bio ยป
Translated into Indonesian by Usep Syaripudin
Reviewed by Amir Sudjono
Comments? Please email the translators above.
20:45 Posted: Feb 2009
Views 1,555,986 | Comments 443
Just follow the guidelines outlined under our Creative Commons license.
This comment will be attributed to . Not ? Sign Out.