Saya hadirkan untuk Anda sebuah pesan dari puluhan ribu orang, di pedesaan dan daerah kumuh di daerah pedalaman negeri, yang telah menyelesaikan masalah dengan akal mereka sendiri, tanpa bantuan pihak luar. Ketika menteri dalam negeri kita mengumumkan beberapa minggu yang lalu perang pada sepertiga dari India, sekitar 200 distrik yang disebutkannya, tidak dapat dikelola, dia gagal memahami poinnya, poin yang sudah kami tekankan dalam 21 tahun terakhir, poin bahwa orang yang miskin secara ekonomi, belum tentu miskin akal. Dengan kata lain, pikiran di daerah miskin bukanlah pikiran yang miskin Itulah pesan, yang kami mulai sampaikan 31 tahun yang lalu. Dan apa yang memulainya?
Saya akan menceritakan, singkat, pengalaman saya, yang telah membawa saya sampai ke sini. '85 sampai '86, saya berada di Bangladesh menjadi penasihat pemerintah dan konsul riset di sana bagaimana membantu peneliti bekerja di daerah-daerah miskin dan bagaimana mengembangkan teknologi penelitian, yang didasari oleh pengetahuan masyarakat. Saya kembali pada tahun '86. Saya sangat tergugah dengan pengetahuan dan kreativitas yang saya temukan di negara itu, di mana 60% orang tidak mempunyai tanah, tapi memiliki kreativitas yang menakjubkan. Saya mulai melihat pekerjaan saya sendiri. Pekerjaan yang sudah saya lakukan selama 10 tahun terakhir, hampir setiap kali, mempunyai unsur pengetahuan yang didapatkan dari orang-orang.
Sekarang, Saya dibayar dengan dolar, sebagai seorang konsultan, dan saya melihat slip pajak pendapatan saya dan saya bertanya pada diri sendiri: "Apakah ada baris di slip saya, yang menyatakan berapa banyak dari pendapatan saya yang diberikan kepada orang-orang yang pengetahuannya membuat saya berhasil?" Apakah itu karena saya brilian sehingga saya bisa mendapatkan penghargaan ini, atau Apakah karena saya bisa menulis dengan baik? Apakah karena saya menjelaskan dengan baik? Apakah karena saya menganalisis data dengan baik? Apakah karena saya seorang profesor, maka saya harus mendapatkan penghargaan ini dari masyarakat? Saya berusaha meyakinkan diri saya, "Tidak, tidak, Saya telah bekerja untuk perubahan kebijakan. Anda tahu, kebijakan publik akan menjadi lebih mendengarkan kebutuhan si miskin, dan, kemudian, Saya pikir, ini baik." Tapi kemudian tampak bagi saya setelah bertahun-tahun bekerja pada eksploitasi, eksploitasi oleh tuan tanah, oleh lintah darat, oleh pedagang, memberi wawasan kepada saya bahwa mungkin saya juga seorang pengeskploitasi, karena tidak ada sebaris pun di slip pajak penghasilan saya yang menunjukkan bahwa penghasilan ini dibayarkan karena kepandaian orang-orang, orang-orang yang sudah membagi pengetahuan, niat baik, dan kepercayaan mereka kepada saya tapi tidak mendapat apapun. Begitu banyak, sampai-sampai sebagian besar dari pekerjaan saya memakai Bahasa Inggris.
Mayoritas orang tempat saya belajar tidak bisa Bahasa Inggris. Jadi kontributor macam apa [saya ini]? Saya berbicara tentang keadilan sosial, dan di sini saya, seorang profesional yang melakukan tindakan yang paling tidak adil, dengan mengambil pengetahuan dari orang-orang, menghilangkan nama mereka, mendapat jabatan dari pengetahuan itu dengan menyebarkannya, memberikan konsultasi, menulis makalah, menerbitkannya dalam makalah, diundang ke konferensi, diminta menjadi konsultan. Jadi kemudian, sebuah dilema muncul di pikiran saya bahwa, Kalau saya juga adalah seorang eksploiter, maka ini tidak benar; hidup saya tidak bisa terus seperti itu. Dan saat itu merupakan momen penuh rasa sakit dan trauma karena saya tidak dapat hidup sepeti itu lebih lama lagi. Jadi saya mengulas kembali, konflik nilai dan dilema etika di dalam ilmu sosial dan riset manajemen, menulis, membaca sekitar 100 makalah. Dan saya mencapai kesimpulan bahwa, jika sebuah masalah unik, masalah tidaklah unik, solusinya yang harus unik.
Dan suatu hari -- Saya tidak tahu apa yang terjadi -- ketika dalam perjalanan pulang dari kantor, mungkin saya melihat seekor lebah madu, dan terpikir di benak saya, bahwa jika saya bisa seperti lebah, hidup akan menjadi indah. Apa yang lebah madu lakukan: dia menyerbuki, mengambil nektar dari bunga, menyerbuki bunga yang lain, penyerbukan silang. Dan saat lebah mengambil nektar, bunganya tidak merasa terampas. Malahan, bunga itu mengundang lebah madu dengan warnanya. Dan para lebah tidak mengambil semua madu untuk mereka sendiri. Ini adalah tiga prinsip Honey Bee Network (Jaringan Lebah Madu) -- bahwa kapanpun kita mempelajari sesuatu dari sesorang kita harus berbagi dengan mereka, dalam bahasa mereka. Mereka tidak boleh tetap tak dikenal.
Dan saya harus memberi tahu Anda bahwa, setelah 20 tahun, Saya belum membuat satu persen perubahan dari praktik profesional pekerjaan ini. Itu adalah tragedi besar yang masih saya tanggung, dan saya harap kalian semua akan ikut menanggungnya, bahwa profesi ini masih mengesahkan publikasi pengetahuan dari masyarakat tanpa menyebutkan mereka, dengan menghilangkan nama mereka. Pedoman penelitian Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika atau Konsul Riset Inggris, atau Konsul Riset Ilmu Pengetahuan India tidak mensyaratkan, bahwa kapanpun Anda belajar dari masyarakat, Anda harus berbagi kembali pada mereka. Kita membicarakan masyarakat yang bertanggung jawab, sebuah masyarakat yang adil. Dan kita bahkan tidak berlaku adil di pasar pengetahuan. Dan India ingin menjadi sebuah masyarakat ilmu pengetahuan. Bagaimana kita bisa menjadi masyarakat pengetahuan? Jadi, sudah jelas, kita tidak bisa mempunyai dualisme keadilan, satu untuk diri sendiri dan satu untuk orang lain. Keduanya haruslah sama. Kita tidak bisa membedakan. Anda tidak bisa mendukung nilai-nilai Anda sendiri, yang berbeda dengan nilai yang Anda ajarkan. Jadi, keadilan terhadap sesama tidak boleh dibedakan.
Lihatlah foto ini. Dapatkah Anda memberi tahu saya di mana foto ini diambil, dan untuk apa? Saya seorang profesor, saya harus menguji Anda. Siapa saja? Ada jawaban? Maaf? (Penonton: Rajasthan.) Anil Gupta Tapi untuk apa foto ini digunakan? (Bergumam) Maaf? Anda tahu, Anda benar. Kita harus memberi tepuk tangan. Karena pria ini tahu betapa tidak sensitifnya pemerintah kami. Lihat ini. Ini adalah situs pemerintah India. Situs ini mengundang turis untuk melihat aib dari negara kita. Saya sangat menyesal mengatakan hal itu. Ini adalah foto yang indah -- atau foto yang mengerikan? Itu bergantung pada bagaimana Anda melihat kehidupan masyarakat. Jika wanita ini harus membawa air di atas kepalanya bermil-mil jauhnya, Anda tak boleh memujinya. Kita harus melakukan sesuatu. Dan biar saya beri tahu Anda, dengan semua ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai, jutaan wanita masih membawa air di atas kepala mereka. Dan kita tidak mempertanyakan hal ini.
Anda pasti pernah minum teh di pagi hari. Pikirkan sejenak. Daun teh, diambil dari pohonnya. Anda tahu bagaimana caranya? Caranya adalah: Seorang wanita memetik beberapa helai daun, lalu meletakkannya ke dalam keranjang di punggung. Coba lakukan 10 kali; Anda akan merasakan sakit di pundak Anda. Dan dia melakukan itu beberapa ribu kali setiap hari. Nasi yang Anda makan saat makan siang, dan akan Anda makan hari ini, ditanam oleh para wanita yang membungkuk dengan postur yang aneh, jutaan dari mereka, setiap musim, di musim tanam padi, ketika mereka menanam padi dengan kaki mereka di dalam air. Dan kaki yang terendam akan mengundang jamur, infeksi. Dan infeksi itu menyakitkan karena serangga lain menggigit luka itu. Dan setiap tahun, 99,9 % padi ditanam secara manual. Tidak ada mesin yang dikembangkan.
Jadi bungkamnya para ilmuwan, para pakar teknologi, para pembuat kebijakan, dari para agen perubahan, menarik perhatian kami, bahwa ini bukanlah, ini bukanlah cara masyarakat bekerja. Ini bukanlah apa yang parlemen kita akan lakukan, Anda tahu. Kita mempunyai program pengaryaan. di mana 250 juta orang harus diberikan pekerjaan selama 100 hari oleh negara yg hebat ini. Untuk melakukan apa? Memecahkan batu, menggali tanah. Jadi kami bertanya pada parlemen, bahwa, apakah orang miskin mempunyai otak? Apakah orang miskin mempunyai kaki, mulut, dan tangan, tapi tidak mempunyai otak?
Jadi Honey Bee Network dibangun dari sumber daya yang banyak dimiliki orang miskin. Dan apa yang terjadi? Orang tanpa nama, tanpa wajah dapat terhubungkan dengan jaringan, dan kemudian mendapatkan identitas. Ini adalah tujuan Honey Bee Network. Dan jaringan ini berkembang secara sukarela, berlanjut secara sukarela, dan telah mencoba untuk memetakan pikiran dari jutaan orang dari negara kami dan bagian dunia lainnya yang kreatif. Mereka dapat menjadi kreatif dalam bidang pendidikan; mereka dapat menjadi kreatif dalam kebudayaan; mereka bisa menjadi kreatif secara institusi, tapi banyak dari pekerjaan kami berada dalam bidang kreatifitas teknologi, penemuan, baik penemuan modern, maupun pengetahuan tradisional. Dan semua itu dimulai dengan rasa penasaran. Semua dimulai dari rasa penasaran.
Orang ini, yang kami temui, dan Anda akan melihatnya di website, www.sristi.org, orang suku ini, dia mempunyai sebuah keinginan. Dan dia berkata, "Jika keinginan saya terkabul" -- seseorang sakit dan dia harus memantaunya -- "Tuhan, tolong sembuhkan dia. Dan jika Engkau menyembuhkannya, saya akan mengecat dinding saya." Dan inilah apa yang dicatnya. Kemarin seseorang berbicara tentang hirarki Maslowian. Tidak ada lagi yang lebih salah daripada model Maslowian tentang hirarki kebutuhan karena orang miskin di negara ini bisa mendapat pencerahan. Kabir, Rahim, semua Sufi yang hebat, mereka semua adalah orang miskin, dan mereka memiliki pemikiran yang hebat. Tolong jangan pernah berpikir bahwa hanya setelah memenuhi kebutuhan fisiologis dan kebutuhan lainnya barulah Anda dapat berpikir tentang pencerahan kebutuhan spiritual. Semua orang di manapun mampu untuk mencapai tingkat pencerahan tertinggi, hanya dengan tekad bahwa mereka harus mencapai sesuatu.
Lihatlah ini. Kami melihatnya di Shodh Yatra. Setiap enam bulak kami berjalan di berbagai bagian negara ini. Saya telah berjalan sekitar 4.000 km dalam 12 tahun terakhir. Jadi di sisi jalan, kami menemukan balok kotoran ini, yang digunakan sebagai bahan bakar. Sekarang, wanita ini, pada dinding tumpukan kotoran, telah membuat sebuah lukisan. Itu adalah satu-satunya tempat di mana ia dapat mengekspresikan kreativitasnya. Dan dia sangat menakjubkan. Lihatlah wanita ini, Ram Timari Devi, di lumbung gandum, di Champaran, ada Shodh Yatra. Dan kami berjalan di tanah di mana Gandhi pergi untuk mendengar tentang tragedi, rasa sakit dari penanam indigo. Bhabi Mahato di Purulia di Bankura. Lihatlah apa yang telah dilakukannya. Seluruh dinding adalah kanvasnya. Dia duduk di sana dengan sebuah sapu. Apakah ia seorang tukang atau seorang seniman? Jelas ia adalah seorang seniman; seorang yang kreatif. Jika kita dapat menciptakan pasar untuk para seniman ini, kita tidak harus mempekerjakan mereka untuk menggali tanah dan memecahkan batu. Mereka akan dibayar untuk keahlian mereka, bukan untuk hal yang tidak dapat mereka kerjakan. (Tepuk tangan)
Lihatlah apa yang telah dilakukan Rojadeen. Di Mothari di Champaran, banyak orang yang menjual teh di gubuk-gubuk. dan, jelas, pasar untuk teh terbatas, Setiap pagi Anda minum teh, juga kopi. Jadi dia berpikir, mengapa saya tidak mengubah sebuah panci bertekanan menjadi mesin kopi. Jadi ini adalah mesin kopi, hanya berharga beberapa ratur rupee. Orang membawa penanak mereka sendiri, dia menyambung sebuah keran dan pipa uap, dan memberikan Anda kopi espresso. Sekarang, inilah sebuah penapis kopi yang nyata, terjangkau, dan bekerja dengan gas. (Tepuk tangan) Lihat apa yang Sheikh Jahangir lakukan. Banyak orang miskin tidak mempunyai cukup gandum untuk digiling. Jadi orang ini membawa sebuah mesin penggiling tepung dengan sepeda motor. Jika Anda mempunya 500 gram, 1000, satu kilogram, dia akan menggilingnya untuk Anda; pabrik tepung tidak akan menggilingkan untuk jumlah sekecil itu.
Tolong mengerti masalah dari masyarakat miskin. Mereka mempunya kebutuhan yang harus dipenuhi dengan efisien secara energi, biaya, dan kualitas. Mereka tidak menginginkan hasil berstandar kelas dua, kualitas kelas dua. Tapi untuk memberikan hasil terbaik untuk mereka Anda harus menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan mereka. Dan itulah apa yang Sheihk Jahangir lakukan. Tapi apa yang telah dilakukannya belum cukup. Lihat apa yang dia lakukan di sini. Kalau Anda mempunyai pakaian, dan tidak punya cukup waktu untuk mencucinya, dia membawa mesin pencuci ke depan pintu Anda, terpasang di atas sepeda motor. Jadi inilah model Sebuah sepeda motor mesin cuci .. Dia mencuci pakaian Anda dan mengeringkannya di depan pintu Anda. (Tepuk tangan) Anda membawa air dan sabun Saya akan mencucik pakaian Anda, dengan 50 paisa, satu rupee untuk satu lot. Dan sebuah model bisnis baru dapat muncul. Sekarang, apa yang kita butuhkan adalah, kita membutuhkan seseorang yang bisa memperbesar skalanya.
Lihatlah ini. Nampak seperti foto yang indah. Tapi apakah Anda tahu foto apa ini? Adakah yang bisa menebak apa ini? Seseorang dari India akan tahu, tentu saja. Itu adalah sebuah 'tawa'. Sebuah wajan panas dari tanah liat. Sekarang, di mana letak keindahannya? Ketika Anda mempunyai sebuah wajan anti lengket, harganya sekitar, mungkin, 250 rupees, lima dolar, enam dolar. Ini berharga kurang dari satu dolar. Dan ini anti lengket. Dan dilapisi dengan salah satu dari bahan yang aman dimakan. Dan yang paling hebat adalah, bila Anda menggunakan sebuah wajan anti lengket yang mahal, Anda memakan sesuatu yang disebut Teflon, atau material seperti Teflon. Karena setelah beberapa lama bahan itu menghilang. Kemana perginya? Ke dalam perut Anda. Padahal teflon tidak untuk dimakan. Tapi di sini, Anda tahu, wajan panas tanah liat ini, tidak akan pernah masuk ke dalam perut Anda, Jadi wajan ini lebih baik; lebih aman; terjangkau; efisien dalam energi. Dengan kata lain, solusi dari orang miskin tidak harus lebih murah, tidak harus, yang disebut 'jugaad', tidak harus berupa pengganti sementara.
Solusinya harus lebih baik, harus lebih murah, dan harus terjangkau. Dan itulah yang dilakukan Mansukh Bhai Prajapati. Dia telah merancang piring ini dengan pegangan. Dan sekarang dengan satu dolar, Anda mampu mendapatkan alternatif yang lebih baik daripada yang (&(&)&)(& ditawarkan pasar untuk Anda. Wanita ini, dia mengembangkan sebuah formula pestisida herbal. Kami mencatatkan paten untuknya, National Innovation Foundation. (Yayasan Inovasi Nasional) Dan, siapa tahu, seseorang akan melisensi teknologi ini dan mengembangkan produk yang bisa dipasarkan, dan dia akan mendapat penghasilan. Sekarang, saya akan sebutkan satu hal. Saya pikir kita perlu sebuah model pengembangan terpencar ketika sejumlah besar inisiatif di berbagai belahan negeri, di berbagai belahan dunia, dapat menyelesaikan masalah lokal dengan sangat efisien dan adaptif. Tingkat kecocokan lokal yang lebih tinggi, kesempatan yang lebih baik untuk memperbesar skala.
Dalam memperbesar skala selalu terdapat kekurangan untuk mencocokkan kebutuhan masyarakat lokal, poin demi poin dengan pasokan yang Anda hasilkan. Jadi mengapa masyarakat mau menyesuaikan ketidakcocokan itu? Hal-hal dapat berskala besar, dan telah berskala besar. Misalnya, ponsel: ada 400 juta ponsel di negeri ini. Sekarang, mungkin saya hanya menggunakan dua tombol di ponsel, hanya tiga pilihan di ponsel. Ada 300 (pilihan); saya membayar 300; saya hanya menggunakan tiga, tapi saya bersedia melakukannya, maka ponsel dapat diskalakan. Tapi jika saya harus mempunyai kecocokan yang benar-benar pas jelas, saya akan memerlukan desain yang berbeda dari ponsel. Jadi yang saya ingin sampaikan adalah skalabilitas tidak harus menjadi musuh dari kelestarian. Pasti ada tempat di dunia ini untuk solusi yang hanya relevan pada daerah lokal, dan, seseorang akan dapat mendanainya.
Salah satu studi terbesar yang telah kami temukan adalah bahwa seringkali investor akan menanyakan hal ini -- "Apakah model yang dapat disesuaikan?" -- seolah-olah kebutuhan masyarakat yang hanya ada di suatu tempat dan waktu tertentu dan mempunyai kebutuhan yang hanya ada di tempat tersebut, tidak berhak untuk mendapatkannya secara bebas, karena kebutuhannya tidak besar. Jadi, Anda mengubah kebutuhan Anda ke skala yang lebih besar atau Anda tidak terlayani. Sekarang, model yang terkenal, model "long-tail" mengatakan bahwa penjualan kecil dari sejumlah besar buku, misalnya, dengan hanya beberapa cetak yang terjual, dapat menjadi model yang bertahan lama. Dan kita harus menemukan sebuah mekanisme di mana masyarakat dapat berkumpul dalam portofolio, berinvestasi dalam portofolio, di mana berbagai inovasi akan masuk ke sejumlah kecil orang di daerah mereka, dan tetap, akan terjadi model yang tahan lama.
Lihat apa yang dilakukannya Saidullahsahib adalah orang yang luar biasa. Pada usia 70, dia menyusun sesuatu yang sangat kreatif.
Saidullasahib: Saya tidak sabar menunggu perahunya. Saya harus bertemu kekasih saya. Keputusasaan saya membuat saya menjadi inovator. Bahkan cinta membutuhkan bantuan teknologi. Inovasi adalah hak istri saya, Noor. Penemuan baru adalah hasrat hidup saya. Teknologi saya.
AG: Saidulluhsahib adalah di Motihari, lagi-lagi di Champaran. Manusia yang luar biasa, tapi dia masih menjual, pada usianya, madu di atas sepeda, untuk menghidupinya karena kita tidak berhasil meyakinkan pengelola taman air, masyarakat danau, dalam sebuah kerjasama. Dan kami belum berhasil meyakinkan petugas pemadam kebakaran di Mumbai, di mana terjadi banjir beberapa tahun yang lalu, dan orang-orang harus berjalan 20 kilometer, mengarungi air, bahwa Anda harus mempunyai sepeda ini di kantor pemadam kebakaran, karena kemudian Anda dapat pergi ke jalur-jalur di mana bus dan transportasi lain tidak dapat masuk. Jadi kami belum berhasil menyelesaikan masalah untuk membuatnya menjadi perangkat penyelamat, menjadi peralatan selama banjir di India timur, ketika Anda harus mengantarkan barang ke masyarakat di pulau - pulau yang berbeda di mana mereka terdampar. Tapi ide mempunyai manfaat
Apa yang telah dilakukan Appachan? Appachan, disayangkan, telah tiada, tapi ida telah meninggalkan sebuah pesan, sebuah pesan yang sangat kuat
Appachan: Saya menyaksikan dunia bangkit setiap hari.
Bukan karena kepala saya tertimpa kelapa, lalu saya mendapat ide ini. Dengan tidak adanya uang untuk melanjutkan studi saya, Saya mencapai tingkatan baru. Sekarang, mereka menjuluki saya Spiderman lokal. Teknologi saya.
AG: Banyak di antara Anda mungkin tidak menyadari dan percaya bahwa kami telah menjual produk ini secara global -- apa yang saya sebut model G2G, grassroots to glolbal, Dan seorang profesor di Universitas Massachussetts, di departemen zoologi, membeli pemanjat ini karena ia ingin mempelajari kebergaman serangga di puncak kanopi pohon. Dan perangkat ini memungkinkannya untuk mengambil sampel dari sejumlah besar palem, dibandingkan sedikit dengan alat lama, karena sebelumnya dia harus membuat susunan bata kemudian mahasiswa risetnya akan memanjatnya. Jadi, Anda tahu, kami memajukan ilmu pengetahuan.
Remva Jose telah mengembangkan -- Anda dapat pergi ke Youtube dan mencari "India Innovates", dan Anda akan menemukan video-video ini. Penemuannya saat ia baru kelas 10: sebuah mesin cuci sekaligus mesin latihan fisik. Mr. Kharai adalah orang yang terbatas secara fisik, hanya setinggi satu setengah kaki. Tapi ia telah memodifikasi sebuah sepeda motor sehingga dia bisa mempunyai otonomi dan kebebasan dan fleksibilitas. Penemuan ini berasal dari daerah kumuh di Rio. Dan orang ini, Mr. Ubirajara, kami berbicara tentang, teman-teman saya di Brazil, tentang bagaimana kita bisa memperbesar skala model ini di Cina dan Brazil. Dan kami mempunyai jaringan yang sangat giat, terutama di Cina, tapi juga di Brazil dan belahan dunia lainnya. standar di roda depan ini, tidak akan Anda temukan di sembarang sepeda. India dan Cina mempunyai jumlah sepeda terbesar. Tapi inovasi ini muncul di Brazil
Poinnya adalah, tidak perlu ada yang berpandangan sempit, tidak ada yang harus begitu nasionalistis untuk percaya bahwa semua ide yang bagus hanya akan datang dari negara kita. Tidak, kita harus rendah hati untuk belajar dari pengetahuan orang-orang yang secara ekonomi miskin, di mana pun mereka. Dan lihatlah berbagai penemuan berbasis sepeda ini: Sepeda penyemprot, sepeda yang menghasilkan energi dari tenaga kejut di jalan. Saya tidak bisa mengubah kondisi jalanan; saya bisa membuat sepeda ini berjalan lebih cepat. Itulah apa yang dilakukan Kanakdas. Dan di Afrika Selatan, kami telah membawa para penemu kami, dan kami telah pergi ke sana dan berbagi dengan kolega di Afrika Selatan tentang bagaimana penemuan dapat menjadi sarana pembebasan dari kejemuan yang dihadapi masyarakat. Dan ini adalah kereta keledai yang mereka modifikasi. Ada as di sini, 30, 40 kg, yang tidak berguna. Hilangkan itu, maka kereta perlu satu keledai lebih sedikit.
Ini di Cina. Anak perempuan ini perlu alat bantu pernapasan. Tiga orang di desa ini duduk dan memutuskan untuk berpikir, "Bagaimana kita memperpanjang usia anak perempuan ini?" Mereka tidak berhubungan darah, tapi mereka mencoba mencari tahu, bagaimana kita bisa gunakan pipa dari mesin cuci, mereka menggunakan sepeda, mereka membuat alat bantu pernapasan. Dan alat bantu pernapasan ini sekarang menyelamatkan nyawa, dan dia sangat tertolong.
Ada berbagai macam inovasi yang kita punyai. Sebuah mobil, yang berjalan dengan udara bertekanan dengan enam paisa per kilometer. Assam, Kanak Gogoi. Dan Anda tidak akan menemukan mobil ini di Amerika atau Eropa, tapi ini tersedia di India. Sekarang, perempuan ini, dia terbiasa menggulung benang tenun untuk pochampalli sari. Dalam satu hari, 18.000 kali, dia harus memintalnya untuk menghasilkan dua sari. Ini adalah apa yang dilakukan putranya setelah tujuh tahun berusaha. Dia berkata,"Ganti profesimu." Dia berkata, "Tidak bisa. Ini adalah satu-satunya hal yang saya tahu, tapi saya akan membuat mesin, yang akan memecahkan masalahmu." Dan inilah apa yang dibuatnya, sebuah mesin tenun di Uttar Pradesh. Jadi, inilah yang Sristi katakan: "Berikan saya tempat untuk berpijak, dan saya akan gerakkan dunia."
Saya akan katakan pada Anda bahwa kami juga mengadakan kompetisi untuk anak-anak. untuk kreativitas, tentang berbagai hal. Kami sudah menjual berbagai hal ke seluruh dunia, dari Ethiopia ke Turki ke Amerika ke mana pun. Produk yang sudah dipasarkan, sedikit. Ini adalah orang-orang yang pengetahuannya memungkinkan krim Herbavate untuk eksim ini. Dan ini, sebuah perusahaan yang melisensi pestisida herbal memuat foto penemunya pada kemasan sehingga setiap kali pengguna menggunakannya, produk ini berkata pada si pengguna, "Anda juga bisa menjadi inovator. Kalau Anda mempunyai ide, kirimkan kepada kami." Jadi kreativitas penting, pengetahuan berarti, penemuan mengubah, insentif menginspirasi. Dan insentif, bukan hanya materi, tapi juga non-materi.
You can share this video by copying this HTML to your clipboard and pasting into your blog or web page. This video will play with subtitles.
You either have JavaScript turned off or have an old version of the Adobe Flash Player. To view this rating widget you
need to get the latest Flash player.
If your browser allows only "trusted sites" to execute Javascript, you should add the "googleapis.com" domain to your whitelist to allow our Flash detection to work properly.
Got an idea, question, or debate inspired by this talk? Start a TED Conversation.
Anil Gupta sedang berburu para penemu yang tak dikenal di negara berkembang -- wiraswastawan alami yang kecerdikannya, tersembunyi oleh kemiskinan, dapat mengubah hidup banyak orang. Dia menunjukkan bagaimana Honey Bee Network membantu mereka membangun jaringan yang mereka butuhkan -- dan mendapatkan pengakuan yang pantas mereka terima.
Anil Gupta created the Honey Bee Network to support grassroots innovators who are rich in knowledge, but not in resources. Full bio ยป
Translated into Indonesian by Taufiq Muhammadi
Reviewed by Antonius Yudi Sendjaja
Comments? Please email the translators above.
17:14 Posted: Dec 2009
Views 478,721 | Comments 136
05:59 Posted: Sep 2009
Views 1,095,766 | Comments 244
Just follow the guidelines outlined under our Creative Commons license.
This comment will be attributed to . Not ? Sign Out.